21

27 5 5
                                        

Malam itu, setelah memastikan Hailey tertidur dengan tenang, Mrs. Selli melangkah pelan menuju meja makan. Di sana, Mr. Bridger, Edelin, dan Levin sudah menunggu. Suasana awalnya dipenuhi obrolan ringan dan tawa kecil, namun semuanya berubah saat Mrs. Selli tiba dengan raut wajah yang tak mampu menyembunyikan kesedihan.

Levin, yang merasa ada sesuatu yang salah, segera menawarkan diri untuk pergi agar tak mengganggu. "Apa kalian mau aku pergi? Aku bisa..." ucapnya ragu.

Namun, sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, Mr. Bridger segera menyela, "Tidak, Levin. Kami ingin kau tetap di sini." Mrs. Selli mengangguk pelan, menegaskan bahwa mereka ingin Levin mendengarkan apa yang akan dibicarakan.

Setelah menarik napas dalam, Mr. Bridger akhirnya berbicara, meski suaranya terdengar berat, "Kami berbicara dengan dokter hari ini… dan dia… dia tidak yakin Hailey bisa mencapai prom."

Ruangan itu tiba-tiba menjadi sunyi. Hening yang menyesakkan menggantikan suasana hangat yang sebelumnya mengisi meja makan. Edelin menatap ayahnya dengan mata yang perlahan memerah, mencoba mencerna kata-kata yang baru saja ia dengar.

"Itu hanya sebulan lagi," bisiknya dengan suara serak, nyaris tak terdengar.

Mrs. Selli hanya bisa menghela napas panjang, berusaha menahan kesedihannya yang tampak jelas dari wajahnya. Levin memalingkan wajahnya, menggenggam erat sisi meja, mencoba menguasai emosinya. Tapi matanya yang mulai berkaca-kaca tak bisa menyembunyikan rasa hancur di hatinya.

"Kami tahu ini sulit diterima," lanjut Mr. Bridger dengan nada lembut namun penuh rasa sakit. "Tapi kami ingin membahas ini bersama kalian, karena kita semua tahu betapa Hailey sangat menantikan prom itu."

"Dia sangat menginginkannya," tambah Mrs. Selli, suaranya mulai bergetar. "Terutama sejak dia bersama Noah. Itu momen yang dia impikan… momen yang dia pikir bisa ia alami seperti gadis lain."

Edelin mengusap matanya yang mulai basah. "Jadi apa yang akan kita lakukan? Apa yang bisa kita lakukan?" tanyanya, suaranya hampir pecah.

"Kita adakan pesta untuknya," kata Mr. Bridger sambil mencoba menahan emosinya. "Bukan hanya prom… tapi pesta yang besar. Gabungkan segalanya—ulang tahun, wisuda, prom, bahkan mungkin konser. Kita buat semuanya jadi satu malam yang tak akan pernah ia lupakan."

Levin, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. Ia memandang mereka semua dengan sorot mata penuh tekad meski hatinya terasa hancur. "Bagaimana kalau kita adakan di Metropolitan?" usulnya, mengacu pada undangan besar yang baru saja mereka terima. "Kita gabungkan semuanya… dan buat malam itu benar-benar istimewa untuk Hailey."

Semua orang terdiam sesaat, saling pandang, sebelum perlahan mengangguk setuju. Ide itu memberikan secercah harapan di tengah kesedihan mereka.

Mrs. Selli menyeka air matanya. "Baiklah, kita mulai merencanakannya besok pagi. Kita buat ini menjadi malam yang paling indah untuk Hailey," katanya dengan suara penuh keteguhan.

Levin menatap ke arah jendela, bayangan Hailey yang selalu tersenyum terlintas di benaknya. Ia tahu ini akan menjadi salah satu keputusan terpenting dalam hidupnya. "Besok aku juga akan memberi tahu Noah," katanya. "Dia harus tahu, dan dia pasti ingin ikut membantu."

Malam itu, meskipun penuh dengan kesedihan, ada tekad yang tumbuh di hati mereka semua. Mereka tahu waktu bersama Hailey semakin singkat, tapi mereka juga tahu bahwa cinta mereka padanya akan membuat setiap momen yang tersisa menjadi abadi.

____

Malam itu, setelah semua orang masuk ke kamar masing-masing, Levin tetap terjaga. Mrs. Selli dan Mr. Bridger memintanya untuk bermalam di rumah mereka—mungkin karena mereka tahu Levin tak seharusnya sendirian di saat seperti ini. Sofa ruang keluarga menjadi tempat tidurnya, namun meski nyaman, Levin tidak bisa memejamkan mata.

"Hailey's Silent Goodbye"Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang