Setelah segala perjalanan panjang yang dilalui bersama Levin Lagu yang mereka tulis bersama telah mengangkat nama mereka, membawa Hailey ke titik di mana ia merasa tidak lagi dibebani oleh rasa takut dan penyesalan. Dan kini, saatnya untuk membuka lembaran baru.Hailey kini merasa siap untuk meraih sesuatu yang telah lama hilang darinya—Noah.
Dengan hati yang tenang, Hailey meminta Levin untuk mengantarnya ke tempat di mana Noah mengajar anak-anak les vokal. Ia ingin menyelesaikan urusan yang sudah terlalu lama dibiarkan. Namun, Hailey tahu ia perlu melakukannya sendiri. Dengan lembut, ia meminta Levin untuk pulang lebih dulu, memberinya kesempatan untuk menghadapi perasaan yang selama ini ia pendam.
Levin, meskipun hatinya berat, mengangguk dengan senyum kecil. “ "Jaga dirimu, Hailey. Kabari aku kalau sudah selesai, ya?" katanya dengan nada yang penuh pengertian. Meskipun dia tahu keputusan ini tak mudah bagi Hailey, ia juga tahu betapa pentingnya bagi gadis itu untuk menghadapi masa lalunya dengan Noah. Levin sudah berdamai dengan kenyataan bahwa perasaannya pada Hailey tetap ada, tetapi ia ikhlas melihat Hailey bahagia bersama orang yang ia cintai.
Hailey melangkah keluar dari mobil, berjalan pelan dengan tongkatnya, setiap langkah terasa lebih ringan dari sebelumnya. Ia tahu ini bukan sekadar langkah fisik menuju tempat Noah, tetapi langkah simbolis menuju kebahagiaan dan kedamaian yang selama ini ia cari. Di dalam dirinya, ada rasa lega yang perlahan tumbuh, mengalir melalui setiap ruas tubuhnya. Rasa cemas yang menggelayuti hati akhirnya mulai menghilang, digantikan oleh kepercayaan bahwa ia bisa menghadapi semuanya dengan kepala tegak.
Levin menyaksikan Hailey berjalan masuk ke dalam gedung dengan senyum yang tak bisa ia sembunyikan. Meski hatinya tak bisa lepas dari perasaan yang ia pendam selama ini, ada kelegaan yang terasa di dalam dirinya. Ia tahu, meskipun perasaan itu tetap ada, ia sudah memilih untuk melihat Hailey bahagia—bahkan jika itu berarti bersama Noah.
Perasaan itu miliknya, dan meskipun mungkin tak akan pernah berubah, ia tidak menyesali pilihannya. Kini, ia merasa lebih ikhlas, seiring dengan langkah Hailey yang semakin jauh. Levin menghela napas panjang, merasakan beban di dadanya sedikit berkurang, dan menyalakan mobil untuk melanjutkan perjalanan.
Sementara itu, Hailey berdiri di depan pintu ruang les Noah. Tongkatnya ditopang dengan mantap, dan ia menatap pintu itu sejenak, merasakan ketenangan yang mulai mengalir dari dalam dirinya. Setelah sekian lama menghindar, kini saatnya untuk menghadapi dan berbicara dengan Noah. Dengan hati yang lebih lapang, tanpa beban dan penyesalan, Hailey mengetuk pintu tersebut, siap untuk membuka babak baru dalam hidupnya.
Kesan kelegaan itu begitu terasa—tidak hanya pada Hailey, tetapi juga pada Levin. Mereka berdua telah berdamai dengan masa lalu, dan kini mereka siap untuk menghadapi masa depan, meskipun jalannya mungkin berbeda.
Saat Hailey menunggu Noah menyadari keberadaannya, seorang anak kecil tiba-tiba menghampirinya. Anak itu tersenyum lebar dan dengan semangat mulai menyanyikan lirik lagu yang sangat terkenal milik Hailey.
"Apakah kau orang itu? Up up up?" tanya anak tersebut sambil menyanyikan bagian dari lagu Hailey yang menjadi favorit banyak orang.
Hailey, yang tersenyum mendengar nyanyian itu, mengangguk dengan ringan. "Ya, itu aku... itu laguku. Aku Hailey," jawabnya dengan ramah.
Anak itu tampak semakin senang, wajahnya cerah dengan antusiasme yang tulus. "Itu lagu favoritku!" katanya dengan bangga.
"Sungguh?" Hailey merasa tersentuh, sedikit terkejut bahwa lagu yang ia ciptakan begitu dihargai oleh anak sekecil itu.
Namun, di tengah kegembiraannya, anak kecil itu tiba-tiba bertanya dengan polos, "Apakah kau akan mati?"
Pertanyaan itu seperti angin yang lembut, tanpa beban atau niat untuk menyakiti, dan Hailey merasa tidak terganggu. Justru, itu membuatnya merasa lebih tenang. Dengan senyum ringan, Hailey menjawab, "Iya, sebentar lagi," sambil mencoba mengungkapkan rasa humor yang ia miliki meski di tengah kondisi yang tidak mudah.
KAMU SEDANG MEMBACA
"Hailey's Silent Goodbye"
Genç KurguBunga krisan. Di sebuah taman yang cerah, dua bunga tumbuh bersebelahan: satu krisan yang setia, dan satu mawar yang memesona. Cinta yang tulus terjebak dalam bayang-bayang keindahan, sementara angin membawa harapan baru. Saat badai datang dan kelop...
