Levin tiba di persimpangan itu dengan napas tersengal, tubuhnya diselimuti udara dingin yang menusuk. Matanya langsung tertuju pada mobil Hailey yang terparkir miring di pinggir jalan. Ia tidak membuang waktu, berlari ke arah mobil itu dengan jantung berdegup kencang.
"Hailey!" Levin memanggil sambil mengetuk kaca jendela mobil, suaranya dipenuhi kekhawatiran.
Melihat Hailey yang tertunduk di kursi pengemudi, tubuhnya lemas, tangan mencengkeram dadanya yang naik turun tak beraturan, membuat dada Levin terasa seperti dihantam benda berat. Dengan cepat, ia membuka pintu mobil, lututnya jatuh ke tanah saat ia meraih tubuh Hailey.
"Hailey, aku di sini! Hei, lihat aku," suaranya bergetar, ketakutan mulai menjalari pikirannya. Dalam benaknya, sebuah pikiran gelap terlintas—bagaimana jika aku kehilangan dia malam ini?
Hailey perlahan mengangkat wajahnya. Air mata mengalir deras di pipinya, matanya memancarkan rasa sakit yang begitu dalam. Wajah gadis itu tampak hancur, seperti seseorang yang telah kehilangan segala yang berharga. Tiba-tiba, tanpa peringatan, Hailey melemparkan dirinya ke pelukan Levin.
Tangisannya meledak. Suaranya tertahan di dada Levin, teredam oleh kain jaketnya, tetapi isakan yang patah itu menembus hati Levin seperti belati tajam.
Levin mematung, tubuhnya kaku, namun air mata tak lagi bisa ia tahan. Perlahan, tetes demi tetes jatuh, mengalir tanpa bisa dicegah. Dia memeluk Hailey erat, tangannya gemetar saat ia membelai lembut kepala gadis itu, berusaha menenangkannya. Tapi dia tahu, tidak ada kata-kata yang cukup untuk menghapus rasa sakit yang Hailey rasakan malam ini.
"Hailey…" Levin berbisik, suaranya hampir tak terdengar, seperti takut suaranya akan menambah beban yang sudah terlalu berat untuk gadis itu. Namun, tangisan Hailey semakin kencang, tubuhnya bergetar dalam pelukan Levin, dan itu lebih dari cukup untuk membuat hati Levin hancur berkeping-keping.
Ia menutup matanya, merasakan rasa sakit Hailey seolah-olah rasa sakit itu adalah miliknya sendiri. Kenapa dia harus menanggung ini semua? Kenapa aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk meringankan bebannya? pikirnya.
Levin ingin berbicara, ingin menghibur, tetapi kata-kata itu terhenti di tenggorokannya. Ia hanya bisa memeluk Hailey lebih erat, membiarkan tangannya yang gemetar mengusap punggung gadis itu dengan penuh kelembutan.
Dalam hati, Levin tahu, sudah lama ia tidak merasakan kehangatan Hailey sedekat ini. Ia telah memutuskan untuk menjaga jarak sejak Noah hadir, menghormati hubungan mereka dan kebahagiaan Hailey. Tetapi malam ini, kebahagiaan itu terasa seperti ilusi yang hancur. Dan melihat Hailey yang begitu rapuh seperti ini, ia merasa hancur bersama gadis itu.
Namun bukan pelukan ini yang Levin inginkan. Bukan Hailey yang hancur, menangis dalam putus asa di pelukannya. Ia ingin Hailey tersenyum, penuh tawa dan harapan, bukan terpuruk seperti ini. Tapi yang ada hanyalah rasa sakit, menggumpal begitu besar di antara mereka, hingga ia merasa sesak di dadanya.
"Hailey… aku ada di sini. Kau tidak sendiri," bisiknya akhirnya, suaranya lirih tapi penuh keteguhan. Ia tidak tahu apakah itu cukup, tetapi ia ingin Hailey tahu bahwa ia tidak akan membiarkannya jatuh sendirian.
Malam itu, di bawah langit yang sunyi, dua hati yang sama-sama terluka berbagi keheningan. Levin memeluk Hailey seolah gadis itu adalah seluruh dunianya, sementara Hailey menangis seolah semua rasa sakit yang ia tahan selama ini tumpah tanpa bisa dihentikan.
Setelah beberapa saat mereka diam dalam keheningan, Hailey akhirnya mulai tenang. Tangisannya mereda, meskipun matanya masih memerah, dan isakannya masih terdengar samar-samar. Levin tetap di sana, duduk duduk di kursi kemudi setelah berganti posisi dengan hailey, menatap Hailey dengan hati-hati, seolah takut menyentuh luka yang mungkin belum sembuh sepenuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
"Hailey's Silent Goodbye"
Novela JuvenilBunga krisan. Di sebuah taman yang cerah, dua bunga tumbuh bersebelahan: satu krisan yang setia, dan satu mawar yang memesona. Cinta yang tulus terjebak dalam bayang-bayang keindahan, sementara angin membawa harapan baru. Saat badai datang dan kelop...
