Pagi itu juga, suasana di sekolah terasa begitu tenang. Levin dan Hailey berjalan bersama menuju lapangan sepak bola yang masih kosong. Langkah Hailey terasa lamban, seolah ada beban berat yang menggantung di pundaknya. Levin, yang sedari tadi memperhatikan, mencoba mencari waktu yang tepat untuk membujuk Hailey menerima tawaran wawancara dari jurnalis yang tertarik pada cerita mereka.
Saat mereka tiba di lapangan, Levin memutuskan untuk berbicara. "Hailey, aku tahu ini berat untukmu. Tapi, menurutku ini kesempatan besar. Ini mimpimu, kan? Musikmu didengar, diakui. Bukankah ini yang selalu kau inginkan?" Ia berusaha menjaga nada suaranya tetap lembut, tidak ingin menambah tekanan pada gadis itu.
Namun, Hailey menundukkan kepala, matanya berkaca-kaca. "Mimpi? Apa kau pikir aku memimpikan ini, Levin? Dilihat sebagai gadis yang patut dikasihani? Orang-orang tidak peduli pada musikku. Mereka hanya peduli karena aku sakit," suaranya bergetar, antara marah dan sedih.
Levin mengerutkan kening, mencoba mendekatinya. "Hailey, itu tidak benar. Mereka peduli karena musik kita menyentuh hati mereka. Kau tahu, komentar buruk itu hanya bagian kecil. Mereka tidak mengenalmu seperti aku mengenalmu."
Hailey mengangkat kepalanya, matanya penuh air mata. "Kau tidak mengerti, Levin. Aku takut. Aku takut semua ini hanya membuatku merasa lebih tidak berdaya. Aku takut mereka hanya melihatku sebagai... gadis yang sedang menunggu waktu habis." Suaranya pecah, dan ia memalingkan wajahnya, menahan isak tangis.
Levin mencoba menyentuh bahunya, tapi Hailey menepisnya. "Dan kau! Kau senang, kan? Video kita ditonton banyak orang. Kau ingin aku jadi inspirasi? Kau ingin aku tampil seperti ini, Levin? Aku tidak mau! Aku tidak butuh belas kasihan mereka!"
Levin merasa hatinya hancur mendengar tuduhan itu, tapi ia tetap berusaha tenang. "Hailey, aku tidak senang karena mereka melihatmu sebagai inspirasi karena penyakitmu. Aku senang karena mereka akhirnya mendengar musik kita. Kau pernah bilang padaku, ini yang kau impikan. Aku hanya ingin membantumu, itu saja. Aku ingin kau mendapatkan apa yang selalu kau inginkan, meskipun aku tahu kita tidak punya banyak waktu."
Levin menghela napas, berusaha menenangkan diri meskipun hatinya terasa berat. "Aku tahu kau takut, Hailey. Tapi kau selalu bilang padaku kalau kau ingin meninggalkan sesuatu yang berarti, sesuatu yang bisa dikenang. Ini bukan tentang simpati. Ini tentang bagaimana kau bisa menyampaikan pesanmu, mimpi kita, ke dunia. Bahkan jika waktunya singkat, aku ingin kau menjalani hidupmu dengan bahagia, dengan melakukan apa yang kau cintai."
Kata-kata itu justru membuat Hailey semakin emosi. "Bahagia? Kau pikir aku bisa bahagia, Levin? Kau mungkin senang karena video itu sukses, tapi aku tidak. Aku tidak mau ini. Aku tidak mau menjadi sorotan karena rasa iba!"
Levin terdiam, merasakan dinginnya penolakan Hailey yang begitu tajam. Ia mencoba mendekat lagi, tapi Hailey menatapnya tajam dan berkata, "Pergilah, Levin. Aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi. Tinggalkan aku sendiri."
"Hailey..." Levin mencoba membujuk, tapi Hailey memotongnya. "Kumohon, Levin. Pergi!"
Levin terdiam. Ia tahu bahwa Hailey tidak benar-benar membencinya, tapi gadis itu sedang berada di titik terendahnya. Dengan berat hati, ia melangkah mundur. "Baiklah, Hailey. Aku akan pergi. Tapi jika kau butuh aku, aku akan selalu ada," katanya pelan sebelum meninggalkan lapangan.
Namun, ia tidak benar-benar meninggalkan Hailey begitu saja. Saat tiba di kelas, Levin bertemu dengan wali kelas mereka, seorang guru yang dikenal bijak dan peduli pada murid-muridnya dan cukup dekat dengan hailey. Levin menghampiri beliau dengan wajah serius. "Bu, maaf mengganggu, tapi Hailey sedang sendirian di lapangan sepak bola. Dia butuh seseorang yang bisa menenangkannya. Saya mohon, bisa Ibu menemui dia?"
KAMU SEDANG MEMBACA
"Hailey's Silent Goodbye"
Teen FictionBunga krisan. Di sebuah taman yang cerah, dua bunga tumbuh bersebelahan: satu krisan yang setia, dan satu mawar yang memesona. Cinta yang tulus terjebak dalam bayang-bayang keindahan, sementara angin membawa harapan baru. Saat badai datang dan kelop...
