Malam itu, di tengah keheningan yang mendalam, Mrs. Selli terbangun oleh suara samar namun mencemaskan. Ia segera bangkit dari tempat tidurnya dan mengikuti arah suara yang ternyata berasal dari kamar mandi Hailey. Dengan cemas, ia membuka pintu dan menemukan putrinya terbatuk-batuk hebat, tubuhnya tampak lemah, dan wajahnya memucat. Hailey berusaha mengatur napas, tapi sesak di dadanya membuatnya kesulitan,ini mungkin terjadi karena malam tadi tubuhnya kelelahan karena konser itu.
"Hailey!" seru Mrs. Selli panik, memanggil suaminya, Mr. Bridger, untuk datang membantu.
Keduanya segera mendampingi Hailey, memberikan obat yang biasa ia konsumsi untuk meredakan sesak napasnya. Dengan lembut, Mrs. Selli membimbing Hailey untuk duduk lebih tegak, sementara Mr. Bridger mengelus punggung putrinya, mencoba menenangkannya. "Tarik napas perlahan, sayang... perlahan saja," ucap Mrs. Selli, suaranya lembut tapi penuh kekhawatiran.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, Hailey mulai membaik. Napasnya yang tadinya tersengal kini perlahan kembali normal, meski tubuhnya masih terlihat lemah. Kedua orang tuanya tak henti-hentinya memastikan bahwa ia baik-baik saja sebelum akhirnya membantu Hailey kembali ke tempat tidurnya.
"Beristirahatlah, sayang," ujar Mr. Bridger, menyelimuti putrinya dengan penuh kasih. "Kalau ada apa-apa, segera panggil kami, ya?"
Hailey mengangguk lemah, senyum kecil menghiasi wajahnya meski tubuhnya masih terasa lemas. Kedua orang tuanya meninggalkan kamar dengan hati yang masih cemas, berharap putri mereka mendapatkan istirahat yang cukup untuk memulihkan kondisinya. Namun di balik senyum itu, Hailey merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dadanya, sesuatu yang tak ingin ia khawatirkan, tetapi sulit untuk diabaikan.
Setelah orang tuanya meninggalkan kamar, Hailey tetap tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya terus dipenuhi oleh kecemasan akan hidupnya yang terasa begitu singkat, seolah waktu tidak berpihak padanya. Diiringi bisikan-bisikan aneh yang bergema dalam kepalanya, ia bergumul dengan perasaan gelisah hingga jarum jam menunjukkan pukul 4 pagi. Tidak tahan lagi dengan kesunyian yang menyesakkan, Hailey memutuskan untuk bangkit dari tempat tidurnya.
Dengan langkah ragu namun penuh tekad, ia keluar dari rumah, membiarkan udara dingin pagi membelai kulitnya. Ia berjalan menuju rumah Levin yang hanya berjarak beberapa rumah dari rumahnya. Tanpa berpikir panjang, Hailey mengetuk jendela kamar Levin, suaranya lirih memanggil nama pemuda itu, berharap dia terbangun.
Levin yang sedang terlelap mulai merasa terganggu oleh suara ketukan itu. Matanya perlahan terbuka, dan dia mencoba mengenali asal suara tersebut. Ketika samar-samar mendengar namanya dipanggil, ia bangkit dari tempat tidur dengan raut wajah bingung. Ia mendekati jendela dan membuka tirai, menemukan Hailey berdiri di luar dengan wajah pucat namun berusaha tersenyum.
"Hailey?" gumamnya dengan nada bingung, mengucek matanya untuk memastikan ia tidak bermimpi. Dengan cepat, Levin membuka jendela kamar yang sedikit tinggi itu dan membantu Hailey masuk.
Ia menarik tubuh gadis itu dengan hati-hati, memastikan Hailey bisa melewati jendela tanpa kesulitan. "Apa yang kau lakukan di sini pagi-pagi begini? Apa kau baik-baik saja?" tanya Levin, kebingungan sambil mengamati Hailey.
Hailey tersenyum tipis, menyembunyikan keadaannya yang sebenarnya. "Aku... aku cuma tidak bisa tidur. Lagipula, aku tahu kau pasti tidak keberatan aku datang," ujarnya dengan nada ringan, berusaha terlihat santai meski tubuhnya terasa lemah.
Levin hanya mendesah, menggaruk belakang kepalanya. "Tau nggak? Ini bahkan belum waktunya aku bangun..." Ia kembali ke tempat tidurnya dengan langkah gontai, membaringkan tubuhnya, dan menarik selimut sampai menutupi tubuhnya. "Kalau kau tidak bisa tidur, setidaknya kasih aku waktu buat tidur, Hailey," keluhnya sambil memejamkan mata lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
"Hailey's Silent Goodbye"
Novela JuvenilBunga krisan. Di sebuah taman yang cerah, dua bunga tumbuh bersebelahan: satu krisan yang setia, dan satu mawar yang memesona. Cinta yang tulus terjebak dalam bayang-bayang keindahan, sementara angin membawa harapan baru. Saat badai datang dan kelop...
