Chapter 2

4.2K 273 4
                                        

“Bapak, Haechan ke sawah dulu ya!”

Lelaki paruh baya yang kini duduk di kursi garasi rumah kini menoleh ke arah pintu masuk, dimana anak satu satunya tengah bersiap siap untuk pergi sepagi ini.

“Nak, ndak capek? Semalem kamu manggung masa pagi ini kamu lanjut ke ladang?” Tanya sang bapak.

Haechan menggeleng pelan, “ga ada kata capek, pak. Udahlah ndak usah mikirin Haechan, anak bapak satu satunya ini ga akan mati.”

Sang bapak menggelengkan kepalanya heran dengan ucapan anaknya itu, ada rasa sedih dan kecewa karena seharusnya putranya itu kini sedang menempuh pendidikan malah harus banting tulang. Rasa menyesal kenapa tuhan begitu cepat memberikan sakit ini pada tubuhnya hingga anaknya harus rela memutuskan pendidikannya sementara para teman seangkatannya sudah ke kota.

“Bapak minta maaf ya...”

Haechan yang tengah memakai topi kini menoleh, “cukup pak! Setiap hari bapak tuh bilang maaf, aku ga pernah nyalahin bapak, takdirlah yang memberikan ini. Berarti tuhan tau kapasitas kesabaran kita, pak. Udah ah! Haechan mau pergi, dah jaga diri di rumah ya.”

Haechan berjalan menuju ladang milik kepala desa, memang kepala desa sering meminta bantuan pada Haechan dan mengupah dirinya.

“Loh? Kamu Haechan?”

Haechan membulatkan matanya saat ia melihat seorang pemuda bertopi tengah memegang sebuah buku di tengah tengah ladang. Haechan yang sedang membersihkan rumput kini menghentikan aktivitasnya guna menatap sosok didepannya.

“Eh, kamu mas kota kemarin ya?”

“Mark lee.”

“Hahah iya aku lupa namanya, mas.”

“It's oke, btw. Kamu kerja di ladang juga?”

Haechan mengangguk pelan, “iya mas, selagi ada pemasukan mah saya kerjain.”

Mark menatap kagum Haechan, sosok yang pastinya lebih muda itu mempunyai jiwa pekerja keras. Siap bekerja dibawah tekanan dan tidak mudah mengeluh.

“Masnya kenapa disini?”

“Saya ada proyek di dekat sini makanya bisa kesini.”

“Oh, begitu.”

“HAECHAN AYO MAKAN DULU!” Teriak bu kades

“Iya Bu!”

“Masnya, mau istirahat juga ga? Kalo mau istirahat ayo ke pondok dulu.” tawar Haechan

“Oh, iya nanti saya ke pondok.”

Mark sedari tadi memperhatikan Haechan yang sibuk makan, tanpa sadar sang bibi melihat hal tersebut. Ia tersenyum kecil melihat keponakannya itu nampak tertarik dengan Haechan si biduan yang terkenal di desa.

“Bibi ke ladang dulu ya.”

“Iya bi.”

Tinggalkan Haechan dan Mark.

“Rumah kamu dimana, Haechan?”

“Agak jauh, mas.”

“Kamu kenapa ga ke kota? Padahal di kota banyak pekerjaan yang enak lho, saya bahkan bisa cariin kamu pekerjaan.”

Haechan meneguk secangkir air, ia terkekeh pelan menatap Mark. “memangnya kerja apa mas kalo lulusan smp? Kalo ado ayo aja atuh saya mau, tapi emangnya ada?”

Mark terkejut mendengar ucapan Haechan, jadi Haechan lulusan smp saja?

“Ah, maaf saya ga tau.”

“Gapapa, mas. Ayo mas makan, masa dari tadi ngeliatin aku aja?”

BIDUANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang