Haechan memasukan baju bajunya kedalam koper, rasanya tak rela pergi meninggalkan sang bapak sendirian dirumah meski Jovan akan mengurus sang bapak.
Berat hati Haechan menerima kembali Mark untuk tinggal bersamanya di kota, meski begitu ia tak sepenuhnya memaafkan Mark. Tentu rasa kecewa masih berkuasa di hatinya, Haechan rela karena demi bayi di dalam kandungannya.
“Mungkin bubu saya sedikit belum menerima kamu, tapi percayalah ia orang yang baik hati.”
Haechan sama sekali tak menanggapi perkataan Mark, ia hanya menatap kaca mobil di sampingnya dengan segala pikiran di otaknya.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil menuju kota, setelah berpamitan dengan sang bapak dan Jovan. Tidak seperti dahulu dimana isi mobil itu akan membuatnya berdetak tak karuan sekarang malah ia merasakan kecanggungan. Sementara Mark yang fokus menatap jalanan sesekali melirik Haechan di sampingnya, rasanya ingin mengulurkan tangannya di perut buncit itu untuk menyentuh bayi yang berkembang di perut calon suaminya itu. Tapi, rasanya ia tak kuasa. Ia takut Haechan semakin marah karena ia menyentuh Haechan tanpa persetujuannya.
“Kalo mengantuk tidur aja, nanti saya bangunkan jika sudah sampai.”
Bukannya menjawab, Haechan malah bergerak menyamping membelakangi Mark.
“Nanti perut kamu sakit, Haechan.”
Hening, tak ada balasan.
—°°—
Haechan berjalan di belakang Mark yang berjalan di depannya sembari menarik koper miliknya, ia melirik sekeliling taman setelah memasuki gerbang yang ia yakini adalah rumah Mark. Rumahnya sangat besar, jauh sekali dengan rumahnya di desa.
Ting tong
Mark menekan bel pintu, tak beberapa lama akhirnya pintu terbuka. Sosok pemuda manis membuka pintu menyambut kedatangan Mark, namun senyum itu luntur saat orang itu menatap dirinya.
“Bubu, kenalin ini Haechan calon suami Mark.”
Haechan membungkukkan badannya sejenak kemudian menegakkan badannya, yang di panggil bubu itu menatap jengah ke arah Haechan.
“Sungguh? Kamu beneran bawa dia kesini, Mark? Jika di lihat dari penampilan aja Clara jauh lebih baik dari dia.” Ucap Bubu
Haechan semakin menundukkan kepalanya, ia meraih ujung jas Mark di belakang sana. Mark dapat merasakan kegugupan Haechan.
“Bu, bagaimana pun dia sudah mengandung anak Mark. Tolong ikhlas dan terima Haechan sebagai menantu dirumah ini, dan lupakan soal Clara. Bukan kah sudah sepakat jika permohonan itu sudah batal?”
“Bubu masih tidak rela jika kamu benar benar menikahi orang desa itu! Cih, pewaris mu lahir dari orang miskin dan desa? Sungguh bubu tidak ikhlas.”
Setelah mengatakan itu, Bubu pergi meninggalkan mereka dan masuk kedalam rumah. Mark menghela nafas berat, ia menoleh ke belakang kemudian menarik jemari Haechan untuk saling bertautan.
“Ayo kita masuk.”
Mark membawa Haechan kedalam kamarnya, Haechan melepaskan genggamannya kala mereka sudah sampai di kamar yang bernuansa hitam itu. Mark menaruh koper itu di depan lemarinya kemudian mengajak Haechan duduk di sisi ranjang dan ia berlutut dihadapan Haechan.
“Sekarang ini rumah mu juga, ini kamar kita berdua. Saya tau kita belum sah tapi tidak apa apa jika hanya tidur berdua, jika perlu sesuatu langsung hubungi saya jangan sungkan. Dan ya—
Mark merogoh kantong celananya.
—ini handphone, milikmu. Disitu hanya ada nomer saya dan Jovan. Jika kamu mau menghubungi Jovan tinggal klik namnya dan jika ingin menghubungi saya tinggal klik nama saya disana.”
KAMU SEDANG MEMBACA
BIDUAN
Fiksi PenggemarHaechan adalah seorang penyanyi di sebuah desa, ia sering manggung di berbagai tempat setiap malam. orang orang terpikat pada suaranya bahkan parasnya yang sangat cantik. meski begitu, Haechan tidak mudah luluh pada semua laki laki yang selalu memba...
