Mark benar benar menepati janjinya dengan menikahi Haechan setelah beberapa bulan mempersiapkan segalanya. Meski belum ada restu sepenuhnya dari sang bubu, Mark tak peduli ia juga yakin jika bubu suatu saat akan menerima Haechan.
“Capek ga? Kalo capek kita duduk aja.” Tanya Mark pada Haechan yang tengah meringis memegangi perut buncitnya.
“Enggak...”
Meski Haechan menolak, Mark menarik lengan istrinya itu untuk duduk karena acara masih sangat lama.
Sementara Haechan sesekali melirik Mark yang kini sudah berstatus suaminya, rasanya ingin ia lepaskan genggaman tangan Mark di jemarinya dan sayangnya genggaman Mark begitu kuat.
—°°—
Mark duduk di depan Haechan yang sedang menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan kaki melurus ke depan. Jemarinya mengelusi perut buncit milik istrinya itu.
“Mau makan apa? Kamu ada kepengen apa?”
Pemuda manis itu hanya diam, memang sejak hamil ia tak pernah merasakan mengidam seperti orang hamil pada umumnya.
“Kalo kamu butuh apapun langsung kabari saya, sekarang saya suami kamu. Jadi, jangan sungkan untuk minta apapun pada saya.”
Haechan mengangguk pelan, pertanda ia mengerti. Mark pun selalu berusaha mengajak Haechan untuk berbicara meski pertanyaannya sering tak di tanggapi oleh Haechan.
“Ya sudah, tidurlah.”
Hari berganti hari, Mark semakin sibuk dengan projeknya yang pergi ke luar kota bahkan ke luar negeri hanya sehari dua hari. Hal itu membuatnya jarang berkomunikasi dengan Haechan apalagi sekarang perusahaannya sedang sibuk sibuknya. Maka dari itu ia menitipkan Haechan pada adik sepupunya Dika, setelah beberapa hari ia melihat interaksi Dika dan Haechan seolah Haechan nyaman dengan adiknya itu. Ia berharap Haechan akan mulai balik seperti semula meski lewat Dika.
“Kakak ipar suka bunga apa?”
Haechan menoleh, “bunga matahari.”
“Oh, ya sudah tunggu sebentar ya?”
Haechan menatap kepergian Dika, pemuda berusia 20 tahun itu pergi ke salah satu toko di seberang sana. Haechan dapat melihat jika itu adalah toko bunga, secarik senyuman manis dari bibirnya saat Dika berjalan menghampiri dirinya dan memberikan bunga tersebut.
“Nih, buat kakak.”
“Terima kasih, Dika.”
“Sama sama...”
Kini mereka berada di taman, Dika sengaja membawa Haechan ke taman karena bosan jika hanya di rumah saja. Mark juga sedang perjalanan bisnis jadi ia bertanggung jawab untuk menjaga Haechan sekalian mengenal lebih dalam pada sosok kakak iparnya itu.
“Kenapa kakak ga ikut aja?”
“Maksudnya?”
“Ikut kak Mark perjalanan bisnis? Sekalian honeymoon ke luar kota gitu.”
Haechan menggeleng pelan sembari tersenyum, “aku bakalan nyusahin mas Mark aja.”
“Kak.” Panggilnya lagi
KAMU SEDANG MEMBACA
BIDUAN
Fiksi PenggemarHaechan adalah seorang penyanyi di sebuah desa, ia sering manggung di berbagai tempat setiap malam. orang orang terpikat pada suaranya bahkan parasnya yang sangat cantik. meski begitu, Haechan tidak mudah luluh pada semua laki laki yang selalu memba...
