“Jovan akan bertanggung jawab atas kehamilan Haechan, pak.”
Haechan mematung mendengar pernyataan Jovan sepupunya itu, bagaimana bisa tiba tiba Jovan ingin bertanggung jawab atas kehamilannya sedangkan pelakunya bukanlah Jovan.
“G-gak, mas. Mas bukan pelakunya dan Haechan ga mau mas...”
“Jadi kamu mau nunggu pria brengsek itu tanggung jawab? Jangan mimpi, Haechan.” Ucap sang bapak
Haechan menangis, sementara Jovan meraih jemari Haechan untuk ia genggam. Mata keduanya bersitatap saling menguatkan dan saling memberi support.
“Biar mas yang tanggung jawab, ya? Kita jaga sama sama anaknya, dengan mas juga kamu terjamin.” Ucap Jovan lembut.
Haechan bimbang, disatu sisi ia lega karena ada yang mau bertanggung jawab atas kehamilannya. Tapi, disatu sisi ia sedih dan kecewa karena jujur ia masih memiliki rasa pada Mark.
“Terima saja...” Ucap sang bapak.
—°°—
PLAK!
Nana menampar Haechan begitu kuat, Haechan menatap wajah Nana bingung. Setelah ia menceritakan jika Jovan akan bertanggung jawab atas kehamilannya, namun Nana begitu marah mendengarnya.
“Sekarang aku tau drajat mu, Haechan. Jika orang mengatakan kamu jalang maka tetaplah seorang jalang.”
Deg
Haechan bergetar mendengar ucapan Nana, “setelah kamu di hamili oleh pria brengsek itu, lalu kamu datang meminta pertanggung jawaban dari mas jovan. Apa drajatmu memang seperti itu?! Jika memang yang menghamili mu adalah Mark kenapa kamu menerima Jovan?! Kamu tau kan aku begitu mencintai mas jovan?!”
Deg
Nana menatap tajam wajah sahabatnya itu, amarah membakar hatinya hingga mengucapkan kata kata kasar. Haechan begitu terkejut dengan fakta yang Nana ucapkan.
“K-kamu?—
“IYA! hiks aku mencintai mas jovan... Tapi kamu malah merebutnya, harusnya kamu minta pertanggung jawaban dari Mark brengsek itu! Kamu ga malu? Harusnya kamu malu dengan aib kehamilan mu itu dasar jalang!”
“Cukup....”
“Iya memang begitu faktanya! Selain kamu tidak berpendidikan kamu juga seorang jalang!”
“Cukup na...”
Haechan jatuh ke lantai, ia menangis dan sakit hati mendengar penghinaan dari sahabatnya yang ia anggap keluarganya. Apa patah hati dapat merusak pertemanan mereka?
“A-aku tidak akan meminta pertanggung jawaban dari mas Jovan, aku akan mengurus anak ini sendiri hiks! Kamu ga perlu khawatir.”
Nana memalingkan wajahnya sembari menghapus air matanya yang sudah membasahi pipinya, mencintai dalam diam dan bertahun tahun tidaklah mudah. Begitu mengetahui laki laki yang ia cintai kini akan menikahi sahabatnya tentu membuatnya hancur berkeping-keping, ia tak ingin melukai sahabatnya tapi siapa yang tak sakit hati jika orang yang kita cintai harus di rebut oleh sahabat sendiri?
Haechan melangkahkan kakinya menuju kamar, matanya sembab juga wajahnya yang pucat. Ia duduk di sandaran ranjang sembari menatap dinding kamar yang begitu dingin.
“Apa takdir begitu mempermainkan aku? Hiks semuanya hancur.”
Lagi lagi ia menangis, itu yang bisa Haechan lakukan beberapa bulan ini. Ia memang lemah, ia merutuki kebodohannya selama ini.
—°°—
Pagi ini Haechan sudah berada di ladang, membersihkan rumput rumput yang sudah memanjang sejak seminggu yang lalu. Bersama beberapa ibu ibu dan bapak bapak yang di sewa oleh pak Karto selaku pemilik ladang.
KAMU SEDANG MEMBACA
BIDUAN
Fiksi PenggemarHaechan adalah seorang penyanyi di sebuah desa, ia sering manggung di berbagai tempat setiap malam. orang orang terpikat pada suaranya bahkan parasnya yang sangat cantik. meski begitu, Haechan tidak mudah luluh pada semua laki laki yang selalu memba...
