Haechan terbangun dari tidurnya, ia mengusap wajahnya dengan lembut sembari menetralkan focus matanya. Badannya terasa sakit apalagi bagian bawahnya, ia berusaha duduk sembari menarik selimutnya untuk menutupi bagian tubuhnya.
“Ngh dimana mas Mark?” gumamnya
Ia menoleh ke samping terdapat sejumlah uang di atas kasur dengan sebuah kertas, ia meraih kertas tersebut dan membaca tulisannya. Matanya bergulir membaca tulisan itu, berkaca kaca.
(Itu uang 700 buat kamu, saya rasa itu cukup untuk membayar sewa dirimu? Kalo seandainya kurang nanti saya transfer lewat Jihun adik sepupu saya. Terima kasih.)
Haechan mencengkram secarik kertas itu dengan penuh emosi dan tangisan, ia menangis tersedu-sedu membaca pesan ini. Ia begitu kecewa dan marah atas penghinaan Mark padanya, bukankah kalimat semalam tulus? Atau hanya sihiran agar ia bisa menikmati tubuh Haechan? Sungguh Haechan benar benar membencinya.
“Hiks! Kamu sama aja kayak laki laki lain, mas. Kamu lebih brengsek hiks, kamu berhasil menghancurkan aku sehancur hancurnya...”
Haechan melempar kertas dan uang itu ke lantai, buru buru ia memakai bajunya meski ia kesulitan berjalan. Fajar ini ia harus sudah pergi dari sana, Haechan meninggalkan rumah itu dengan langkah penuh kekecewaan.
—°°—
Sudah satu minggu Haechan tidak manggung karena tidak enak badan, sang bapak khawatir hingga memanggil Nana untuk memeriksa keadaan sang anak di dalam kamar. Sebab Haechan akan menjawab seadanya saat sang bapak bertanya.
“Kamu sakit apa? Mau ke puskesmas ga? Nanti aku yang bayarin.”
Haechan menggeleng pelan, “aku ndakpapa.”
Nana menghela nafas pelan kemudian duduk di samping Haechan, ia menatap wajah pucat sahabatnya itu.
“Minimal cerita kalo ada masalah, aku nih sahabat kamu kan?”
“Aku bilang ndak— huek!”
Haechan menutup mulutnya kala ia merasa mual dan ingin muntah, Nana terkejut buru buru ia mengambil baskom kecil agar Haechan bisa memuntahkan isi perutnya di dalam baskom itu.
“Huek! Huek! Eumm ga enak!”
“Tunggu ya, aku panggilkan bidan biar cek keadaan kamu.”
Setelah beberapa saat Haechan di cek oleh seorang bidan desa, Haechan duduk bersandar di kepala ranjang memperhatikan sang bidan yang tengah mengelus elus perutnya.
“Kapan kamu sex?”
Deg
Bak di sambar petir Haechan melotot mendengar pertanyaan sang bidan, ia melirik Nana takut takut sementara Nana bingung sang bidan.
“Maksudnya, bu?” Tanya Nana
“Saya tanya, kapan Haechan sex terakhir kali?”
“E-engak, s-saya g-ga pernah.” Jawab Haechan gugup
“Jujur saja, mana mungkin kamu hamil jika tidak berhubungan sex.”
Deg
Jantung Haechan rasanya turun ke lutut saking lemasnya, begitupun dengan Nana. Ia terkejut kemudian menatap tajam Haechan.
“ENGAK! HIKS! enggak aku ga hamil bu bidannya bohong hiks! Nana aku ga hamil!”
Nana berjongkok dibawah Haechan, “hei tenang! Bilang sama aku siapa yang ngehamilin kamu? Siapa orangnya?”
Haechan menggeleng pelan, “hiks! Aku ga hamil...”
“KAMU HAMIL HAECHAN!” Bentak Nana
“Dengar, siapa yang hamilin kamu? Sama siapa kamu ngewe? Jawab ga?!”
Haechan menutupi wajahnya menangis tersedu-sedu kemudian menceritakan semua kejadian beberapa minggu lalu, Ia meraung raung menangisin nasibnya.
“Hiks! Aku ga mau hamil Na, aku benci anak ini aku ga mau anak ini hiks! Aku benci aku nyesel na!”
Nana meneguk air ludahnya susah payah, “ha... Udah terlanjut, chan. Terima anak itu, kalo kamu berani ngewe berarti berani juga terima resikonya. Sudah berkali kali aku bilang jangan mau sama orang orang kota ga jelas itu! Tapi kamu tu tolol! Udah cinta buta sama semuanya. Kalo udah begini? Kamu yakin bakalan ketemu lagi sama dia? Mana tanggung jawabnya? Ga ada! Aku ga bisa berkata kata lagi, sekarang fokus urus bayi dalam perut kamu.”
“A-aku ga bisa cari uang lagi, gimana bapak makan? Gimana ngehidupin bayinya na? Aku udah hancur hiks!”
Grep!
Nana menarik tubuh Haechan untuk ia peluk, anak itu menangis tersedu-sedu. Mungkin ini pertama kalinya ia melihat Haechan sehancur ini, masa depannya sudah hancur ia sudah hancur berkeping-keping tak ada yang tersisa dari hidupnya.
Bapak, Jovan dan Nana begitu kecewa dengan Haechan. Hampir 2 bulan mereka mendiami Haechan, namun rasa peduli mereka tetap ada. Kadang Nana menghantarkan lauk pauk ke rumah Haechan karena tau tak ada yang mencari uang jika selain Haechan, tapi sekarang anak itu hamil dan tidak bisa apa apa lagi. Begitupun sebaliknya Jovan, ia sering menghantarkan beberapa makanan dan kebutuhan untuk Haechan dan sang bapak. Sementara sang bapak setiap malam menangis merutui nasib yang menimpah dirinya dan anaknya yang malang.
Haechan pun ikut menangis di balik pintu saat melihat pria paruh baya yang sangat ia cintai kini merasa kecewa dengan apa yang terjadi pada dirinya.
“Maafin Haechan, pak.”
—°°—
3 Berlalu~
Perut Haechan mungkin belum besar, tapi sudah membuncit. Setelah beberapa bulan merasa terpuruk akhirnya ia bangkit, Haechan kembali ke sawah menerima upah dari beberapa orang yang menyewa dirinya untuk ladang mereka. Mungkin orang orang belum tau ia hamil, karena Haechan selalu memakai baju yang sedikit besar hingga perutnya tidak terlalu terlihat.
“Makasih, pak.”
“Sama sama, nak. Besok kamu ke ladang lagi ya? Besok bapak ada tamu yang mau proyek di sini, jadi saya mau sebelum tamu saya datang ladangnya sudah kamu bersihkan dengan anak anak lainnya.”
Haechan mengangguk pelan, “iya pak, saya usahakan.”
“Ya sudah hati hati pulangnya.”
“Iya pak.”
Haechan menatap sejumlah uang di tangannya, 200 cukup untuk membeli beras dan sayur. Ia tak mau lagi menerima lauk pauk dari sahabatnya dan kakak sepupunya, menurut Haechan jika ia masih bisa mencari uang maka akan ia usahakan.
“Bi, beli beras 3 kilo sama sayur sawinya.”
“Eh nak Haechan, kok udah jarang manggung nak?” Tanya bibi seorang pedagang.
“Mm, Haechan udah ga manggung lagi. Haechan milih kerja di ladang aja.”
“Di ladangkan capek, kalo manggung kamu cuma nyanyi udah dapet saweran banyak.”
“Ndakpapa bi.”
Haechan memasuki rumah, ia menaruh barang barang di dapur. Ia juga menuangkan secangkir air mineral dan meminumnya. Semenjak hamil ia sangat mudah haus dan kelelahan.
“Maaf ya nak, seharusnya kamu ga hadir di saat sekarang. Papi emang bodoh, papi emang jahat harus melahirkan kamu ke dunia disaat papi juga miskin begini. Papi minta maaf tolong jangan benci sama papi...” Ucap Haechan sembari mengelus perutnya yang membuncit.
“Nak, kamu udah pulang?”
“Iya, pak.”
“Kamu pergi ke ladang?” Haechan mengangguk pelan
“Astaga, kamu itu lagi hamil. Bapak ga mau kamu kenapa napa, sudah ga usah ke ladang lagi.”
“Kalo aku ga ke ladang, kita makan apa? Bapak mau ngerepotin Nana sama mas Jovan buat nganterin kita makanan mulu? Haechan masih kuat, Haechan masih bisa cari uang. Bapak ga perlu khawatir selama Haechan masih hidup Haechan ga akan menyerah.”
Setelah mengatakan hal itu Haechan kembali ke kamar untuk istirahat, matanya terpejam dan kembali menangis. Setiap malam tanpa terlewat sudah menjadi bagian hidupnya untuk menangis setiap malam.
“Maafin papi...”
Vote and comen.
KAMU SEDANG MEMBACA
BIDUAN
Fiksi PenggemarHaechan adalah seorang penyanyi di sebuah desa, ia sering manggung di berbagai tempat setiap malam. orang orang terpikat pada suaranya bahkan parasnya yang sangat cantik. meski begitu, Haechan tidak mudah luluh pada semua laki laki yang selalu memba...
