Chapter 24

3.1K 162 8
                                        

“20 menit setelah itu selesai

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“20 menit setelah itu selesai.” Ucap Mark datar sembari melipat kedua tangannya didepan dada.

Pemuda manis yang tengah duduk didepan Mark kini menatap Mark dengan senyuman manis. Renjana, merasa sedikit lega karena Mark mau datang menemuinya meski ia harus menunggu hampir 2 jam di caffe tersebut.

“Kakak pesan dulu—

“Aku tidak punya waktu, Renjana.” Ucap Mark penuh penekanan “sebaiknya kita persingkat saja.” sambungnya.

Renjana tersenyum kecil, ia meletakkan kedua tangannya diatas meja. Mata mereka saling memandang seolah ada banyak kisah yang belum terselesaikan dan kini harus diselesaikan.

“Aku mau jelasin tentang perginya aku waktu itu, aku benar benar minta maaf. Seharusnya aku perjelas kenapa aku pergi dari kamu, sungguh selain kamu aku juga tersiksa kak.”

Mark terkekeh pelan, “tersiksa?”

“Dengarkan aku dulu, kak. Disaat kamu masuk rumah sakit akulah yang jagain kamu bahkan sampai nunggu kamu operasi, aku benar benar takut kehilangan kamu waktu itu tapi sialnya seseorang mengancamku. Kakak pasti tau siapa orang itu, aku ga berdaya kak aku lemah karena dipikirkan ku cuma ada kamu. Apa aku berdosa diantara hubungan kita? Dia memintaku menjauhimu, kamu taukan seberapa besar rasa bencinya padaku? Hingga pada saat itu dia berhasil memisahkan kita, kak. Semua cita cita kita hancur! Aku bahkan ga bisa hubungi kamu karena memang semua diperdaya, semua dia karang cerita itu sebaik mungkin seolah aku yang—

“Cukup, Renjana!”

Renjana masih menatap wajah Mark penuh dengan emosional, nafasnya masih memburu jelas terlihat dari sudut Mark.

“Jangan menyalahkan Bubu! Aku tau jika hubungan kita memang tidak direstui oleh bubu sejak dulu, tapi bubu ga sampai segila itu. Kalo memang kamu benar benar berkhianat aku tidak masalah aku sudah ikhlas.”

“Ini Mark! Ini yang aku harus perjelas! Aku ga pernah berkhianat, kak. Kamu pikir aku harus apa setelah bubu mengancamku dengan memecat ayahku bahkan ayahku ga bisa kerja dimanapun. Kamu taukan aku semiskin apa?! Aku berjuang kuliah sedangkan ayah kesusahan, aku memang berhutang budi padamu, kak. Aku udah ga ada jalan lain selain harus pergi dari kamu, aku mau egois dengan rebut kamu dari bubu tapi aku ga segila itu! Aku masih mikirin masa depan kamu, aku benar benar hancur saat kamu masuk rumah sakit, kak. Aku benar benar hancur...”

Air mata Renjana turun begitu saja, Mark memalingkan wajahnya seolah ia tak ingin melihat tangisan dari orang yang pernah sangat ia cintai. Orang yang berhasil menjadi rumah selama belasan tahun, ia tak ingin melihat itu.

“Aku begitu beruntung setelah ketemu sama Arjuna suamiku, cuma dia yang bisa menerima ku bahkan dari keluarganya. Aku turut berbahagia karena Haechan bisa meluluhkan hati Bubu, sejenak aku merasa iri karena aku ga bisa seperti Haechan. Sampai saat ini aku masih berusaha mencari apa keburukan yang bubu lihat dariku sampai sampai harus memisahkan kita? Bahkan hinaan bubu sampai sekarang masih terdengar di benakku, aku serendah itu dimatanya, kak!”

BIDUANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang