Chapter 8

3.9K 208 3
                                        

pola makannya, tuan. Resiko keguguran itu kebanyakan karena pola makan tak benar hingga imun tubuh berkurang membuat hb menurun.”

“Iya dok.”

Haechan berbaring di ranjang rumah sakit, hari ini adalah hari pertama ia cek kehamilannya. Usia kandungannya pun sudah masuk 7 bulan. Mark duduk di samping Haechan sembari menautkan kedua tangan mereka saat dokter akan menunjukkan suara detak jantung sang bayi.

—°°—

“Mau makan apa, sayang? Mumpung kita lewat jajanan nih.” Tawar Mark pada Haechan yang duduk di samping kemudi menatap kaca luar.

“Memangnya boleh?” Tanya Haechan pelan

Hal itu membuat Mark gemas, sudah satu minggu sejak kejadian hari itu membuat Haechan kini mulai berani bersuara dan berbicara padanya.

“Tentu boleh, sayang.”

“Mm, aku mau gulai ikan.”

“Gulai ikan?”

Haechan mengangguk, ia menatap wajah Mark yang nampak berfikir. Sebenarnya Haechan tau jika Mark pasti tidak tau tentang makanan itu karena memang itu berasal dari desa.

“Mm, ga ada ya mas disini?”

“Memangnya kamu kepengen banget ya? Itu makanan yang ada di desa?”

“Iya, ibunya mas Jovan dulu sering buat gulai ikan.”

“Ya udah gini aja, di kota ini mungkin ga ada ikan gulai yang persis kayak di desa. Tapi, mas usahain buat ikan gulai yang kamu mau itu. Nanti mas suruh bubu buat masaknya lewat YouTube.”

Haechan langsung menggelengkan kepalanya cepat, “e-enggak usah mas! Mm, kalo itu merepotkan bubu lebih baik ga usah. Bubu pasti tambah ga suka sama aku, mas.”

Mark tersenyum manis, ia raih jemari Haechan untuk ia kecup. Rasa hangat menyelimuti punggung tangan Haechan kala suaminya itu memberikan banyak kecupan manis di tangannya.

“Kamu mau kan buat bubu suka sama kamu?”

Haechan menatap ragu, “kalo kamu mau buat bubu suka sama kamu, berarti bubu harus mengenal kamu jauh lagi supaya bubu tau kamu sebaik itu.”

“Aku ga yakin, mas.”

“Nanti mas bantu.”

“Makasih, mas.”

“Sama sama sayang.”

—°°—

Haechan dan Mark kini sudah berada di rumah mereka, Mark kembali ke kantor karena ada pekerjaan mendadak sehingga Haechan ia antar pulang.

Haechan berjalan ke dapur dengan pelan, niat hatinya untuk memasak makanan yang tadi ia inginkan. Tapi, ia belum tau betul bahan bahan dapur di simpan dimana saja? Sebab, selama dua bulan ini bubu lah yang menyiapkan makanan atas perintah Mark dan ia tak di perbolehkan memasak.

“Ga enak kalo nanya bubu...” gumam Haechan

Ia berusaha berjinjit untuk membuka lemari atas untuk melihat bahan bahan, namun belum sempat ia membukannya sebuah tangan menghentikan gerakannya. Haechan terkejut dan gugup sekaligus saat melihat siapa yang menahan lengannya.

“B-bubu?”

“Ngapain kamu?! Siapa yang suruh kamu ke dapur? Kamu tuh ga mikir ya kalo seandainya kamu jauh gimana?” omelnya

Haechan menundukkan kepalanya, “m-maaf bu.”

Bubu menatap lekat wajah manis yang sempat ia benci kehadirannya, meski ia mulai menerima Haechan tapi hal itu tak menutup kemungkinan kalo Bubu masih merasa tidak suka dengan anak kampung itu.

BIDUANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang