Chapter 17

3K 179 15
                                        

7 Tahun kemudian~

Rumah mungkin masih berbentuk bangunan kokoh, sama seperti hubungan keluarga kecil milik mantan biduan kampung dengan seorang direktur yang dulunya membawa Haechan pergi ke kota untuk membangun rumah kecil mereka.

Tapi, apa kalian percaya dengan istilah orang terdahulu sering mengatakan jika usia pernikahan diatas 5 tahun akan mendapatkan ujian yang sangat berat. Apa kalian percaya? Meski begitu benar adanya, mungkin selama satu tahun pernikahan sampai ke lima hubungan mereka sangat erat dan komunikasi masih sangat bagus. Orang juga bilang jika salah satu pasangan pasti pernah merasa jenuh dan akhirnya menikmati hiburan di luar sana, salah satunya Mark dan Haechan.

“Papa, jadi ga ngajarin adek prnya?”

“Maaf ya, dek. Papa harus pergi dulu, kamu minta ajarin sama papi dulu ya?”

Altaz, anak mereka yang sudah berusia 7 tahun kini menatap kepergian sang papa yang sangat sibuk bekerja sejak siang tadi.

“Papi ajarin ya? Kayaknya papa sibuk banget.” Ucap Haechan yang baru keluar kamar mandi.

“Tapi pr-nya susah, pi. Papi pasti ga bisaa.” keluhnya

Haechan tersenyum kemudian duduk di sebelah anaknya, “kamu ngeremehin papi? Papi emang ga sekolah tapi papi pernah les di rumah waktu kamu masih kecil.”

“Yaudah deh, pi.”

Setengah jam Haechan menemani Altaz belajar dan kini bocah itu sudah tidur setelah Haechan membereskan meja belajarnya. Setelah selesai, Haechan pun pergi ke kamarnya dan membuka ponsel berharap ada pesan masuk dari suaminya. Namun nihil, tak ada satu pun pesan Mark masuk. Padahal Haechan butuh kabar sebab Mark tidak berpamitan dengannya.

Mas Mark

Mas
Kamu ke kantor ya?
Ada kerjaan mendadak?
Jam berapa pulangnya?

Maaf
Mark lagi di toilet

??
Ini siapa?
Kenapa kamu lancang membuka ponsel suami saya?

Tak ada balasan. Haechan merasa gelisah setelah membaca pesan itu, siapa orang yang berani membuka ponsel Mark? Bahkan dirinya pun selama 7 tahun tidak berani membuka ponsel suaminya, ia saja tidak tau sandi ponsel suaminya, bagaimana orang itu bisa membukanya?

Haechan merasa perlu tau dimana Mark, lalu ia menghubungi Mario sekertaris suaminya itu.

Mario(sek-)

Malam Mario
Maaf saya ganggu kamu istirahat
Kalo boleh tau mas Mark ada pekerjaan apa?
Dimalam ini? Apa kamu ikut?

Malam juga, tuan.
Saya ada di rumah, saya tidak ada kabar apapun.
Tuan Mark tidak menelpon saya sama sekali.

Ah begitu, terima kasih.

Sama sama, tuan.

Haechan memilih untuk tidur, biarlah pikirannya hilang dengan tidur. Ia juga tak mau overthinking atas perginya suaminya malam ini, biarkan esok pagi Mark akan bercerita.

—°°—

“Mas, semalam kamu ada kerjaan apa?”

Mark yang tengah menyantap sarapan kini menoleh ke samping dimana Haechan sedang sibuk memasukkan bekal anak mereka.

“Oh, maaf ya. Mas ga ngabarin kamu soal perginya mas malam tadi. Jadi, semalam ada investor yang mau bekerjasama dengan projeknya mas, makanya buru buru mas temui ternyata dia orang yang mas kenal. Dia sahabat mas waktu SMA namanya Siren, dia baru pulang dari Amerika setelah ayahnya meninggal. Jadi, mas sekalian makan malam sekalian ngobrol tentang keadaan keluarganya setelah ayahnya meninggal, setelah itu kita tanda tangan kontrak.” Jelas Mark dengan lembut.

BIDUANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang