Haechan berjalan cepat melewati lorong rumah sakit dimana sang bapak di rawat, sementara Mark menggandeng Altaz di belakang mengikuti langkah Haechan yang terburu-buru. Bagaimana tidak? Laki laki yang sangat Haechan cintai menjaganya hingga tubuh dewasa kini harus mengalami hal buruk ini.
“Haechan?”
Haechan berhenti di depan ruangan, dimana disana ada Nana dan juga Jovan yang terkejut dengan kedatangan Haechan.
“Hiks... Bapak...”
Nana berjalan mendekati Haechan kemudian membawanya kedalam pelukannya, keduanya berpelukan mencurahkan segala kesedihan. Dua sahabat yang sudah lama tak berjumpa kini menyalurkan rasa kegundahan selama ini.
“Tenang ya? Bapak lagi di rawat.” Ucapnya sembari mengusap surai Haechan.
“Ayo masuk, chan.”
Mereka masuk kedalam ruangan, Haechan lemas setengah mati melihat sang bapak terbaring dengan alat bantu nafas. Ia berjalan mendekati ranjang kemudian memeluk tubuh sang bapak sembari menangis pilu. Mark melepaskan genggamannya pada Altaz kemudian berjalan ke sisi Haechan, ia usap punggung Haechan dengan lembut. Rasanya sangat sakit melihat Haechan menangis seperti ini, Mark benar benar merasa bersalah.
“Bapak, Haechan disini. Maafin Haechan karena udah lama ga pulang hiks... Haechan sayang sama bapak.”
“Tadi bapak udah sadar, chan. Tapi pingsan lagi karena efek bius, kamu udah makan belum?” Tanya Nana
“E-enggak.”
“Kamu ga laper, tapi anakmu?”
Haechan yang sedang memandangi wajah bapaknya kini menoleh ke arah sofa dimana Altaz tengah duduk sembari memeluk bonekanya.
“Kalo kamu masih rindu sama bapak, gapapa. Kamu disini aja, biar mas yang beliin makanan buat adek sama kamu.” Ucap Mark lembut
Haechan tak menjawab sama sekali, ia masih diam dan kembali memandangi wajah orang tuanya itu. Mark mengecup puncuk kepala Haechan sebelum pergi meninggalkannya.
“Tolong nitip buat Nana dan Luna juga ya?” Ucap Jovan kepada Mark.
“Luna siapa?” Tanya Mark bingung
“Ah, aku lupa ngenalin anakku dan Nana. Namanya Luna usianya 4 tahun.”
“Ya ampun, saking komunikasi kita buruk sampai sampai aku ga tau kalian sudah punya anak.”
“Ya begitulah.”
“Ya udah aku pergi dulu.”
Setelah beberapa saat Mark akhirnya kembali ke rumah sakit setelah membeli makanan untuk makan malam, untungnya ini daerah sedikit ke kota makanya ada makanan di jam seperti ini. Saat Mark membuka pintu ruangan, ia melihat Haechan juga Altaz di pangkuan Haechan tengah berbincang dengan sang bapak yang sudah sadar. Ia tersenyum bahagia kemudian menghampiri mereka.
“Bapak!”
“N-nak Mark?”
Mark menaruh kotak makan di atas nakas kemudian mendekat ke arah mertuanya itu, “apa kabar, pak? Udah baikan? Maaf ya pak, Mark baru bisa pulang sekarang.”
“Ndakpapa, namanya juga sibuk kerja.”
Mark semakin menunduk, ia masih merasa bersalah. Apalagi jika matanya bersitatap dengan Haechan maka rasa bersalahnya semakin besar.
“Papi ngantuk~”
Haechan mengusap kepala Altaz dengan penuh sayang, “ga mau makan dulu?”
“Ga mau, mau tidur.”
KAMU SEDANG MEMBACA
BIDUAN
Fiksi PenggemarHaechan adalah seorang penyanyi di sebuah desa, ia sering manggung di berbagai tempat setiap malam. orang orang terpikat pada suaranya bahkan parasnya yang sangat cantik. meski begitu, Haechan tidak mudah luluh pada semua laki laki yang selalu memba...
