Chapter 20🔞

8.6K 198 2
                                        

Orang tua Haechan kini sudah di bawa pulang setelah dokter mengatakan kondisi beliau sudah membaik selama 3 hari ini, kini mereka berkumpul di rumah lama milik Haechan. Meski sang bapak di rawat oleh Jovan, sang bapak masih meminta untuk tinggal di rumahnya sendiri dari pada serumah dengan Jovan dan Nana. Menurutnya itu tidak pantas dan ia merasa tak enak dengan Nana sebagai pasangan Jovan.

“Kalian kapan pulang?”

Haechan menoleh ke arah sofa dimana sang bapak duduk bersama suaminya dan suami Nana.

“Kenapa bapak nyuruh Haechan pulang? Bapak ga rindu aku?”

“Bukan begitu, a-apa pekerjaan di kota di tinggalkan semua? Bapak minta maaf kalo karena bapak kalian kerepotan—

“Ga, pak. Jangan mikirin hal yang ga penting, Haechan dan Mark juga cucu bapak ada disini. Kami memang berlibur dulu disini.” Potong Mark

“Tapi kalian sudah hampir satu minggu, gapapa bapak sudah puas. Bapak ngerti kondisi kalian di kota, secepatnya pulanglah ya?” Ucap Bapak sembari menatap Haechan dan Mark.

“Baik, pak.” Ucap Haechan.

—°°—

“Mas!”

Mark yang tengah membersihkan sprei ranjang kini menoleh ke arah pintu kamar. “ada apa, sayang?”

Haechan mendekat, “kata Nana ada orang manggung di warung yang biasa dulu aku manggung, kita kesana yuk mas? Aku kangen, pengen nonton juga.” bujuknya.

“Adek?”

“Adek kan lagi main sama Luna, biarin aja. Ayo mas, boleh ya?”

Mark mengangguk sembari tersenyum, “sebentar ya, mas mau ambil kunci.”

“Oke!”

Haechan menautkan tangannya di lengan suaminya saat memilih meja makan yang sedikit jauh dari panggung di depan sana. Haechan menatap ke sekeliling rumah makan itu, banyak sekali perubahan dari panggung yang sekarang sudah besar hingga meja makan yang lebih bagus.

“Mau pesan apa, sayang?”

“Pecel lele aja, mas.”

Selagi Mark memesan makanan, Haechan menatap seseorang yang naik ke atas panggung. Semua bersorak sama seperti ia dulu, Haechan tersenyum menatap sosok di panggung itu bernyanyi dengan lantunan indah, sosok itu perempuan yang mungkin sudah laris menjadi biduan kampung sini.

“Sayang, ayo makan.”

Haechan menoleh ke arah Mark yang berjalan membawa nampan makanan, “makasih ya mas.”

“Sama sama, sayang.”

Mereka mulai menikmati makan malam sembari mendengarkan musik, sesekali Mark melirik ke arah panggung dimana seorang perempuan tengah bernyanyi dan berjoget kemudian matanya kembali tertuju pada Haechan.

“Mas jadi keinget waktu kamu joget di sana.” Ucap Mark sembari menunjuk panggung.

“Iya, aku kangen banget masa itu.”

“Mas pengen sawer kamu lagi.”

“Huh, mana ada orang nyawer di belakang panggung terus ngasih satu juta gitu aja? Iya kamu mas orang anehnya!”

BIDUANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang