Chapter 11

4.1K 214 9
                                        

7 bulan kemudian ~

“Mas? Mau kemana lagi?”

“Maaf sayang, mas ada kerjaan mendadak.”

“Malam malam begini?”

“Hm.”

Haechan memperhatikan pergerakan Mark, dimana Mark sibuk memakai jasnya untuk pergi ke tempat kerja. Tapi, kenapa bisa malam begini ada pekerjaan? Tak biasanya Mark akan keluar malam apalagi soal pekerjaan.

“Hati hati, mas.”

“Iya, sayang.”

Setelah kepergian Mark, Haechan membawa Altaz ke kamar untuk menidurkan anaknya itu. Entah kenapa rasa gelisah menyelimuti dirinya, ia masih kepikiran kenapa Mark pergi tanpa menjelaskan pekerjaan apa yang mendadak itu?

Ting

Suara notifikasi ponselnya berbunyi, Haechan meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Matanya menatap pesan masuk itu, ada nomer pesan yang tak ia kenal. Dengan rasa gelisah ia membuka pesan asing itu.

+7088377777—

Ini suami mu kan?Mesra sekali, hm aku yakin sekarang kamu hanya di rumah mengurus anak mu itu hahahKasihan sekaliSudah aku katakan kamu hanya orang rendahan yang di pungut oleh Mark karena kecantikanmu, jika saja kamu jelek maka tidak akan ada cer...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ini suami mu kan?
Mesra sekali, hm aku yakin sekarang kamu hanya di rumah mengurus anak mu itu hahah
Kasihan sekali
Sudah aku katakan kamu hanya orang rendahan yang di pungut oleh Mark karena kecantikanmu, jika saja kamu jelek maka tidak akan ada cerita orang kampung mendapatkan orang kaya.
Camkan itu.

Tangan Haechan gemetaran membaca pesan itu apalagi melihat foto yang dikirim, itu sangat jelas jika orang yang di foto itu adalah Mark. Haechan sangat mengenal suaminya itu. Namun, Haechan sudah belajar jika jangan mengambil kesimpulan secepat itu ia harus tau alasan dan kebenaran dibalik semua ini.

—°°—

Pagi ini Haechan menyibukkan dirinya dengan membuat makanan untuk bekal suaminya, semalam ia tak sempat berbicara dengan Mark karena ketiduran dan pagi ini Mark pergi sangat pagi sekali bahkan sebelum Haechan bangun.
Setelah semua selesai ia menitipkan Altaz pada Bubu dan ia pergi ke kantor milik suaminya.

Setiap langkah memasuki kantor, beberapa karyawan membungkukkan badannya guna menghormati dirinya. Tak jarang juga beberapa karyawan menyapanya dengan hangat.

“Apa tuan Mark ada?” Tanya Haechan pada salah satu sekertaris suaminya itu.

“Ada tuan, baru saja selesai meeting dan sekarang tuan Mark sedang berada di ruangan bersama beberapa kerabatnya yang datang dari Australia.” Ucap sekertaris itu

“Oh, jadi saya boleh masuk?”

“Boleh, silakan tuan.”

Haechan berjalan ke lorong dimana banyak sekali ruangan disana, ketika ia melihat ada satu ruangan yang bertuliskan CEO. Haechan berjalan ke arah ruangan tersebut, namun jemarinya berhenti saat mendengar percakapan di ruangan itu.

BIDUANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang