Mark menatap wajah cantik milik Haechan yang belum bangun dari tidurnya, nampak wajah itu masih sangat terlelap dengan selimut yang membungkus seluruh badannya.
“Sayang, ayo bangun.” Ucap Mark sembari mengelus pipi Haechan dengan lembut.
“Ngh?” Haechan mulai membukakan matanya saat merasakan sentuhan halus dari pipinya.
“Oh astaga, mas! Aku kesiangan ya? Adek belum di jemput?!”
Mark terkekeh pelan melihat ekspresi Haechan yang nampak panik dan langsung duduk, lupa jika di bawahnya masih terasa sakit.
“Iya ini mas mau jemput adek, tapi kamunya mandi dulu.”
Haechan menghela nafas pelan kemudian mendekat, ia memeluk Mark sembari menyandarkan kepalanya di ceruk leher suaminya. Mark tersenyum manis merasa senang karena disaat-saat seperti ini Haechan pasti sedang clingy clingy-nya.
“Masih ngantuk?”
“Enggak, cuma sakit aja badannya.”
Mark mengusap punggung Haechan dengan lembut, nampaknya juga mata indah itu masih sayu seperti mengantuk.
“Maafin mas ya? Yaudah gini aja, kalo kamu ga kuat jalan atau masih lemes mending mas aja yang jemput adek.”
“Sebenernya aku mau ikut jemput adek, mas. Tapi aku malu kalo nanti ketemu bubu, gara gara semalem kayaknya bubu denger. Soalnya semalem aku ga sengaja liat ponsel mas belum di matiin kayaknya hampir 2 menitan, jadi bubu pasti denger suara aku sama kamu.”
Mark tertawa pelan sembari mengecup jemari Haechan yang ia genggam, “ngapain malu? Orang kita udah nikah, wajarlah kalo lagi bercinta. Ga usah malu ya?”
“Tetep aja malu... Emangnya kamu ga malu, mas?”
“Enggak, mas lebih malu kalo kepergok langsung.”
“Ugh! Kalo kepergok langsung kayaknya aku mau menghilang aja deh dari bumi.”
“Haha lucu banget sih kamu. Oh ya, jadi gimana? Mau ikut atau mas tinggal aja?”
“Yaudah ikut aja deh, mas. Nanti bubu malah mikir aku ga ada etikat baiknya.”
“Hm, yaudah ayo mandi dulu.”
“Boleh ga di gendong, mas? Jujur masih lemes.” Bisik Haechan
“My pleasure, babe.”
Setelah hampir setengah jam mereka bersiap-siap akhirnya mereka berangkat untuk menjemput Altaz putra sulung mereka. Haechan tak melepaskan genggamannya kala mereka sudah masuk kedalam rumah mertuanya, ia sedikit menundukkan kepalanya karena masih malu. Untung saja ia memakai pakaian panjang agar bagian bagian yang memerah akibat semalam bisa tertutup, untungnya juga Mark masih sadar untuk tidak memberikan tanda di leher sih cantik karena tau besoknya mereka akan menjemput Altaz. Meski rasanya Mark ingin sekali mengecup leher putih dan mulus milik istrinya itu.
“P-pappii pappa!”
Suara lucu itu terdengar dari ruang tamu, Bubu menoleh ke arah pintu ternyata sang menantu dan anaknya baru saja sampai.
“Selamat siang, bu.” sapa Mark sembari mengajak Haechan duduk di sofa.
“Hm, kenapa siang banget kesini?” Tanya Bubu sembari melirik Haechan.
“Maaf, bu. Tadi kita cari sarapan dulu makanya siang.” Jawab Mark.
Bubu memberikan Altaz pada Haechan, bocah 2 tahun itu langsung memeluk Haechan sembari meraba raba dada Haechan seolah meminta susu.
“Altaz masih nyusu ke kamu?”
Haechan menoleh, “mm, iya bu.”
“Umurnya udah dua tahun, mending kamu cobain dia minum susu formula aja. Emangnya nenen kamu masih lancar?”
KAMU SEDANG MEMBACA
BIDUAN
Fiksi PenggemarHaechan adalah seorang penyanyi di sebuah desa, ia sering manggung di berbagai tempat setiap malam. orang orang terpikat pada suaranya bahkan parasnya yang sangat cantik. meski begitu, Haechan tidak mudah luluh pada semua laki laki yang selalu memba...
