Siang ini, Jake berjalan santai menuju kafetaria, ingin menghilangkan rasa lapar yang ia tahan sejak mata pelajaran matematika. Sebenarnya tadi Jake bersama Jay, tapi tiba-tiba anak itu menghilang di tengah perjalanan, mungkin ingin ke toilet, pikirnya.
Saat melewati lapangan basket, Jake melihat segerombolan murid di sana, dan pemandangan itu sudah tak asing lagi baginya, karena sudah pasti di sana sedang ada seseorang yang tengah dirundung, yang tak lain dan tak bukan adalah Evan.
Jake memperhatikan orang-orang di sana dengan saksama, ingin tahu apa yang mereka lakukan pada Evan hari ini. Namun, ada sesuatu yang aneh, Jake menyipitkan matanya lagi untuk memastikan. Kedua alisnya menyatu, Evan memang ada di sana, tapi bukan sebagai korban, melainkan pelakunya.
Jake sedikit terkejut saat Evan melihat ke arahnya dengan tatapan menusuk, smirk-an pun ia dapati sebelum Evan membuang mukanya kembali.
Yang ada di pikiran Jake saat ini adalah bagaimana bisa itu terjadi. Bukan, bukannya Jake tak senang dengan hal itu, tapi kenapa hukuman itu sudah selesai, padahal UAS masih lama, ia harus bertanya pada Evan nanti.
"Anj-" Jake tersentak kaget, saat tiba-tiba telinganya disentuh oleh seseorang.
"Sialan" umpat Jake, sementara Steve yang menjadi pelakunya, hanya tertawa puas.
"Ngapain lo berdiri di sini sendirian kayak patung" ejek Steve.
Jake memutar kedua bola matanya, lanjut melihat ke lapangan basket. Steve yang tak mendapat jawaban pun mengikuti ke mana arah mata Jake memandang, dan akhirnya Steve mengerti, kenapa Jake berdiri di sini.
"Lo pasti heran kan liatnya" Jake mengangguk.
Dalam hati, Steve berkata "Ya pasti karena Evan udah buat kesepakatan sama Ben" tapi tak mungkin kalimat itu ia ucapkan kepada Jake.
"Tadi gue coba ngobrol sama Evan, tapi kayaknya dia gak mau ngomong sama gue, mungkin masih marah" ucap Steve.
"Gue kangen banget sama dia, Steve. Udah lama Evan ga dateng ke markas. Makin susah buat komunikasi" Jake dengan perasaan sedihnya.
Steve menoleh ke Jake yang terus menatap lapangan basket "Kalo gue, penasaran apa yang bakal Ben lakuin lewat Evan setelah ini, Jake. Dan gue yakin, kalo itu berhubungan sama kita"
"Ngapain lo ngeliatin gue begitu" tandas Jake, menyadarkan Steve.
Steve tersenyum lebar "Lo cantik, hehehe"
Jake melotot tajam dan menyikut lengan Steve, reflek melihat sekeliling untuk memastikan tak ada yang mendengar.
"Lo sinting apa gimana sih" Jake berbisik geram, lalu berbalik meninggalkan Steve.
Steve menggeleng kepalanya pelan melihat tingkah Jake, satu sudut bibirnya terangkat sembari memerhatikan Jake yang semakin menghilang dari pandangan.
"Steve" suara lembut itu berasal dari seorang perempuan berambut panjang yang menghampiri Steve. Steve pun menoleh.
"Hai, aku Nora, satu tim sama kamu di festival nanti"
Steve mengabaikan jabat tangan dari perempuan itu, "Terus?"
Nora menarik kembali tangannya dengan canggung, "Kamu lupa ya, kalo tugas kita sama? Aku, Kamu, Jake, Valen, sama Cici, dapet tugas buat ngurusin food stand"
KAMU SEDANG MEMBACA
schadenfreude [sungjake]
Fanfiction'Yang sama, jangan dibeda-bedakan Yang beda, jangan disama-samakan' 'Kamu boleh mencintainya tapi biarkan dia mencintai pilihannya' [BXB]
![schadenfreude [sungjake]](https://img.wattpad.com/cover/348998838-64-k540985.jpg)