lost...

704 78 26
                                        








Kabar tentang Jake yang menghilang sudah tersebar di sekolah. Bahkan polisi, dengan segala usaha mereka, belum berhasil menemukan keberadaan Jake. Tak ada satu pun bukti yang bisa dijadikan petunjuk, membuat pihak berwajib kesulitan menuntaskan kasus ini.

Hal itu membuat Tior murka. Sebagai seorang Ayah, ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa anaknya belum juga ditemukan. Rasa frustrasi bercampur dengan kekhawatiran membuatnya tak bisa berpikir tenang. Persetan dengan pekerjaan. Ia hanya ingin anaknya kembali pulang ke rumah.

"KALIAN INGIN UANG BERAPA! HAH?! KENAPA SAMPAI SEKARANG ANAK SAYA BELUM KALIAN TEMUKAN!" teriakannya menggema ke penjuru ruangan kantor polisi, membuat beberapa petugas terdiam.

"Maaf, Pak. Bapak sudah mengganggu ketenangan-" salah satu petugas mencoba menenangkan, meski dengan nada kaku.

"SAYA HANYA MAU ANAK SAYA DITEMUKAN!" Tior membanting tangannya ke atas meja, membuat benda-benda kecil di atasnya bergetar. Wajahnya merah padam, rahangnya mengeras, dan napasnya memburu.

Ruangan itu menjadi hening sejenak, hanya suara napas Tior yang terdengar jelas.

"Baik. Tapi sebaiknya Bapak tenang dulu. Kami sudah berusaha melakukan pencarian untuk saudara Jake, tapi tidak ada satu pun bukti yang kami temukan sejauh ini. Itu sebabnya kami kesulitan untuk menemukan anak Bapak"

"Saya tidak peduli!" Tior membalas dengan suara penuh amarah. Matanya menatap tajam ke arah petugas. "Kalau kalian tidak segera menemukan anak saya, saya akan tuntut kalian semua!"

Polisi itu menelan ludah, terlihat gugup dengan ancaman Tior. Namun, ia mencoba menjaga ketenangannya. "Baik, Pak. Kami akan memprioritaskan investigasi untuk pencarian saudara Jake" jawabnya tegas.











Steve membuka matanya perlahan, kelopak matanya terasa berat setelah dua belas jam berlalu sejak operasi. Pandangannya kosong menatap langit-langit ruangan. Bau khas rumah sakit langsung menyadarinya pada insiden yang ia alami sebelumnya.

"Steve! Jake hilang!"

pernyataan itu terlintas di benaknya, menghantam kesadarannya dengan keras. Dengan reflek, Steve mencoba bangkit dari tidurnya, namun rasa sakit yang tajam langsung menyerang perutnya. Ia meringis kesakitan, kedua tangannya mencengkeram sisi ranjang. Akhirnya ia menyerah, dan kembali membaringkan tubuhnya.

"Steve!" suara Jay tiba-tiba terdengar dari arah toilet. "Udah bangun lo?!" tanyanya, langsung menghampiri Steve dengan langkah cepat.

"Gawat Steve, gawat!" Jay mengacak-acak rambutnya sendiri dengan panik. "Kakek Kiming dateng!"

Steve yang tadinya meringis kesakitan, langsung menoleh cepat ke arah Jay. "Bangsat! Serius lo?!" serunya, penuh rasa waspada.

Jay mengangguk mantap, wajahnya tegang. "Lagi di ruangannya Ben sama Bokap Nyokap lo"

Steve memejamkan matanya sambil menghembuskan napas kasar. "Mati gue!" gumamnya, nadanya penuh frustrasi.

Dan benar saja, tak lama setelah itu, pintu ruang inapnya terbuka. Sosok Kakek yang paling tidak ingin Steve temui kini berada di depan matanya. Langkahnya mantap, diikuti oleh Papa dan Mama Steve yang berjalan pelan dibelakangnya.

"Hey, anak brandal. Kau sudah bangun?" suara kakeknya terdengar tegas, hampir seperti gertakan yang membuat Steve merinding. Jay refleks mundur ke belakang Papa dan Mama Steve, menghindari aura intimidasi pria tua itu.

schadenfreude [sungjake]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang