Steve keluar dari mobilnya yang sudah terpakir rapi di halaman rumah Jake. Sesuai janji mereka kemarin, pagi ini Steve datang menjemput Jake untuk pergi ke sekolah bersama. Matahari masih enggan bersinar sepenuhnya, waktu baru menunjukkan pukul 06.02 pagi. Tapi itu tidak menjadi halangan bagi Steve, yang sejak tadi malam tak sabar ingin segera bertemu Jake.
Begitu tiba di depan pintu, seorang maid langsung membukakan pintu dan mempersilahkan Steve masuk. Semua pekerja di rumah Jake sudah hapal dengannya.
"Loh, Steve" Tior menyapa, terlihat tengah bersiap untuk pergi bekerja. "Pagi sekali kamu datang. Kalau jam segini, Jake masih di alam mimpi" lanjutnya sambil tertawa kecil.
Steve tertawa canggung. Dalam hati ia merasa sedikit malu karena datang terlalu pagi. "Maaf om. Kalau begitu, saya balik lagi nanti" ucapnya sopan sambil bersiap untuk melangkah pergi.
Namun, langkahnya terhenti ketika Tior kembali bersuara. "Loh, kenapa balik lagi?" Tanya Tior dengan nada santai. "Bagus kamu datang sepagi ini. Kamu bisa sekalian bangunin Jake. Dia itu kalau tidur susah banget dibangunin, udah kayak kerbau" candanya diselingi tawa renyah.
Jujur saja, Steve ingin tertawa kencang mendengar itu, tapi ia menahannya. Bagaimanapun, ia harus menjaga citra di depan Ayah Jake.
Tior menepuk pundak Steve dengan ringan. "Saya benar-benar berterima kasih sama kamu, steve" ucapnya Tior tulus. "Karena sudah mau merawat Jake selama di rumah sakit. Itu bukan hal yang kecil buat saya"
Steve tersenyum lebar sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Itu memang udah tugas saya om" balasnya, suaranya terdengar sedikit malu-malu.
Tior mengangguk penuh pengertian. "Yasudah, kamu bangunin Jake sana di kamarnya" nada bicaranya lembut namun tegas.
Dengan senyum yang tak pernah lepas di wajahnya, Steve mengangguk mantap. "Kalo gitu saya izin ke kamarnya Jake ya, om" jawabnya sopan, sebelum melangkah menuju kamar Jake.
Tior terus menatap punggung Steve yang perlahan hilang dari pandangannya. Ia tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. "Jodoh".
***
Steve membuka pintu kamar Jake dengan perlahan, membiarkan suara derit pintu hanya terdengar samar. Tepat seperti yang ia duga, Jake masih tertidur pulas, tubuhnya terbalut selimut tebal yang sedikit berantakan.
Dengan langkah hati-hati, Steve berjalan mendekat, seolah takut mengusik keheningan pagi itu. Ia duduk di tepi kasur, pandangannya tertuju pada wajah tenang Jake yang terlelap. Ia mengamati setiap bagian wajah cantik itu, tak ada satu pun yang membuat Steve tak mengagumi wajah indah Jake.
Tanpa sadar, Steve membungkukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke arah Jake. Hembusan napasnya menyentuh lembut kulit Jake, membuat pemuda itu bergerak pelan, sedikit terusik tapi masih terjebak dalam mimpi. Steve tersenyum kecil melihat reaksi itu, matanya tak lepas memandangi wajah cantik Jake.
Perlahan, bibir Steve mendekati telinga Jake. "Sayang" bisiknya lembut.
Lagi-lagi Jake menggeliat kecil, tubuhnya bergerak gelisah karena hembusan napas Steve di telinganya. Namun, matanya tetap terpejam, menolak untuk meninggalkan dunia mimpinya.
Steve mengingat ucapan Ayah Jake tadi. Ternyata benar, Jake sulit sekali untuk bangun dari tidurnya. Senyuman penuh arti tiba-tiba muncul di wajah Steve, sebuah ide terlintas di pikirannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
schadenfreude [sungjake]
Fiksi Penggemar'Yang sama, jangan dibeda-bedakan Yang beda, jangan disama-samakan' 'Kamu boleh mencintainya tapi biarkan dia mencintai pilihannya' [BXB]
![schadenfreude [sungjake]](https://img.wattpad.com/cover/348998838-64-k540985.jpg)