Truth Unveiled

949 91 33
                                        








Tidak ada yang bisa menyangkal firasat seorang ibu. Setiap malam, Sora sulit memejamkan matanya, pikirannya terus dipenuhi oleh Jazel yang jauh darinya. Bagaimana keadaan Jazel di sana? Ataukah dia melakukan sesuatu yang tak pernah terpikirkan olehnya? Pikiran-pikiran buruk itu terus menghantuinya tanpa henti.

Selama ini, Sora melarang Jazel pergi ke pusat kota bukan tanpa alasan. Ia hanya tak ingin Jazel pergi jauh tanpa pengawasannya, terlalu banyak risiko yang tak mampu ia kendalikan. Namun, waktu terus berjalan, dan Jazel kini sudah cukup besar. Ia sadar tak bisa terus-terusan mengekang Jazel. Dengan berat hati, ia mengizinkan Jazel pergi kemana pun yang Jazel inginkan.

Tapi ketika Jazel meminta izin untuk mengikuti lomba di sekolah itu, hati Sora bergejolak. Sekolah itu adalah milik keluarga mantan suaminya, Lian. Rasa tidak setuju langsung menyeruak, tetapi Jazel memohon dengan penuh harap. Mata Jazel yang penuh tekad meluluhkan hati Sora. Akhirnya ia mengizinkan, meski firasat buruk terus menghantuinya sejak hari itu.

Sora memutuskan untuk nekat menjemput Jazel ke pusat kota. Perasaannya terus gelisah karena Jazel yang berada jauh darinya. Dan bagaimana pun juga, Jazel sudah seminggu tidak pulang ke rumah.

Kini, ia berdiri di lantai lima belas sebuah gedung apartemen, tempat yang pernah Jazel bilang kepadanya. Matanya terus mencari nomor unit '15-08'. Langkahnya perlahan, tetapi dadanya berdebar kencang.

"LO SIAPA? LO APAIN JAKE?!"

Sora terkejut, langkahnya terhenti sejenak saat mendengar suara itu. Firasat buruknya semakin menjadi-jadi setelah melihat pintu dengan nomor unit '15-08' terbuka. Tak pakai lama, Sora langsung melangkah masuk dengan tergesa-gesa.

"Jazel!" teriak Sora, saat melihat seseorang ingin melayangkan pukulan pada anaknya.

Suara Sora membuat semuanya menoleh ke arahnya.

Bruk!

Tas yang Sora bawa terlepas dari genggamannya, jatuh ke lantai. Ia mematung setelah melihat dua laki-laki dengan wajah yang sama, menatapnya. Seketika hatinya terasa remuk, bayangan masalalu kembali menghampirinya. Tangannya mulai gemetar. Kedua bayi yang ia kandung belasan tahun lalu, kini berdiri di hadapannya, tumbuh menjadi remaja dengan tubuh sehat.

"Bun... da" lirih salah satu dari mereka yang berambut gelap.

Meskipun suara itu nyaris tak terdengar, panggilan itu menembus relung hatinya. Sora merasakan hatinya bergetar, sebuah panggilan yang tak pernah ia dengar, Steve memanggilnya Bunda. Iya, Sora pun tahu nama mereka, karena ia sendiri yang memberi nama-nama itu—Benjamin Satyakala, Steve Satyakala. Bahkan di nama mereka pun ada namanya. Namun, Sora bertanya-tanya, Apakah mereka tahu siapa aku? Tapi bagaimana bisa?

Jika kalian ingat, saat Steve yang tiba-tiba pergi dengan sepupu perempuannya, Anya. Hari itu Steve pergi untuk melihat seseorang. Anya memberi tahu keberadaan Sora—wanita yang Steve tahu sebagai Bundanya. Selama ini Steve tahu tentang Sora, tetapi ia tak tahu kalau ternyata Sora adalah seorang Ibu dari orang yang memiliki wajah sangat mirip dengan Jake.

"Bunda?" ucap Ben dengan nada bingung. Matanya menyipit menatap Steve, kenapa Steve memanggil wanita itu Bunda?

Saking fokusnya Sora pada Steve dan Ben, ia tak sadar kini Jazel menghampirinya.

"Ma... kenapa Mama Ke sini..." ucap Jazel dengan suaranya yang bergetar.

Belum sempat Sora menjawab, suara langkah kaki mendekat diikuti beberapa suara gaduh dari luar. Tiba-tiba, segerombolan orang masuk ke apartemen, dengan beberapa polisi yang mengikuti di belakang. Sora terlihat kebingungan, melihat orang-orang masuk ke apartemen anaknya.

schadenfreude [sungjake]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang