Setelah insiden tempo hari, Ben dirawat di rumah sakit ternama milik orangtua Willo. Kebetulan letak rumah sakit tersebut dekat dengan sekolah, jadi mereka membawa Ben ke sana.
Hari ini sudah memasuki hari keempat Jake merawat Ben. Seperti yang Jake katakan, kalau ia merasa tidak enak pada Ben karena telah mengabaikannya. Perasaan bersalah itu semakin muncul, setelah Jake melihat kondisi Ben yang seperti ini. Jake pun mulai berpikir bahwa ia adalah teman yang buruk.
Jake berjalan santai, masih memakai seragam sekolahnya, sambil membawa Paper bag yang berisi berbagai macam makanan enak, tentu saja itu semua untuk Ben.
Setelah sampai, Jake langsung menggeser pintu ruangan tempat Ben dirawat. Namun, sebelum itu terjadi, ia mendengar suara yang sepertinya ia kenal dari dalam.
"Tenang aja, gue lagi ga maen kotor kok, lo gak usah takut kayak gitu"
"Cara lo ini murahan banget"
"Seenggaknya gue berhasil kan?"
'Sreeett'
Akhirnya, Jake menggeser pintu itu, sekarang ia bisa melihat Ben sedang bicara dengan siapa. Ternyata itu Steve.
Keduanya terkejut, saat melihat Jake masuk. Dan Jake pun sama, ia kaget melihat Steve ada di sini. Tandanya Jake harus akting di depan Ben, berusaha terlihat seperti biasa, seperti bagaimana ia biasanya berinteraksi dengan Steve.
"L-Lo di sini juga?" tanya Jake pada Steve, memecah keheningan.
Steve menggigit pipi dalamnya, menahan emosi yang muncul akibat situasi saat ini.
Jake menaruh semua paper bag di meja, lalu mengeluarkan semua makanan di dalamnya satu per satu. Jake melakukan itu dengan perasaan canggung.
"Hari ini kamu bawa apa?" Ben bertanya dengan nada antusiasnya.
Jake menoleh grogi, matanya sempat melirik ke arah Steve yang ternyata sedang memperhatikannya. "Ee, aku bawa buah" jawab Jake.
"Kamu ga lupa bawa Lego-nya, kan" Ben masih dengan antusiasnya.
Jake tersenyum tipis lalu mengangguk.
"Kamu mau ikutan rakit Lego juga, gak?" kali ini Ben bertanya pada Steve dengan ekspresi yang sama saat ia bertanya pada Jake.
suara Ben seolah menjadi angin lalu, karena Steve kini sibuk berkutat dengan ponselnya.
"Btw, Jake. suster Mery bilang makasih, soalnya kamu udah gantiin tugas dia. Tiap hari kamu bantu aku buat salin baju"
Ada yang panas, namun bukan api.
Jake melirik sebentar pada Steve, semoga Steve tak mendengar ucapan Ben barusan.
Jake tertawa karir "Ehehehe, bilangin sama-sama juga ke suster Mery"
Jake salah. Steve tentu menyimak semua omongan mereka sejak tadi, memainkan ponsel hanya pengalihannya saja. Steve sengaja bertahan duduk di sini, karena tujuannya memang untuk membuat Jake canggung.
Steve mematikan ponselnya, kini pandangannya fokus ke Jake "Gue denger, lo udah punya pacar?"
Mendengar ucapan itu Jake langsung melotot dan menoleh cepat pada Steve "G-Gue?" menunjuk diri sendiri.
Masih dengan posisinya, perlahan Jake melirik pada Ben yang ternyata sedang melihatnya juga.
Jake memulai ketawa karirnya lagi "Hahaha~ ngaco lo, hoax itu hoax, hahaha~"
"Kalo kamu sendiri, Steve?" pertanyaan Ben ke Steve sukses membuat Jake menghentikan ketawa karirnya.
Jake menelan ludahnya kasar saat Steve melihat ke arahnya, ia bersumpah kalau Steve bicara yang tidak-tidak, Jake akan menonjoknya saat ini juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
schadenfreude [sungjake]
Fanfiction'Yang sama, jangan dibeda-bedakan Yang beda, jangan disama-samakan' 'Kamu boleh mencintainya tapi biarkan dia mencintai pilihannya' [BXB]
![schadenfreude [sungjake]](https://img.wattpad.com/cover/348998838-64-k540985.jpg)