Sejak lahir, Steve hanya mengenal Papanya. Sosok ibu hanyalah cerita samar dari film yang ia tonton atau dongeng yang bibi ceritakan sebelum ia tidur.
Tapi saat wanita itu datang, segalanya terasa berubah bagi Steve kecil. Sejak kemarin saat pesta—yang Steve tahu itu adalah pesta pernikahan—pada saat itu Papanya bilang bahwa wanita itu adalah Mamanya, yang mulai saat ini akan merawatnya. Steve kecil mengerti yang Papanya ucapkan, tapi entah kenapa hatinya merasakan sebuah kekosongan yang bahkan belum ia tahu cara untuk mengisinya. Wanita itu terlalu asing baginya, ia bertanya-tanya, 'kenapa aku baru memiliki seorang Mama sekarang?'
Pagi itu, matahari bersinar lembut, tetapi bagi Steve kecil, dunia terasa kelabu. Ia duduk di tepi ranjang dengan seragam TK yang baru, menggantung sedikit longgar di tubuh mungilnya. Sepatu kecilnya sudah rapi terpasang, tetapi semangatnya seolah tertinggal di kamar.
"Steve, ayo berangkat" suara Papanya terdengar hangat, tetapi Steve hanya diam, menatap lantai dengan wajah murung. Hatinya masih berat sejak kemarin, sejak wanita asing itu kini menjadi bagian dari keluarganya.
Di perjalanan menuju sekolah, Steve memeluk tas kecilnya erat-erat. Seharusnya, di hari pertamanya ini, Steve merasa gembira seperti anak-anak lainnya. Namun yang ia rasakan hanyalah kebingungan.
Papanya mencoba mengajaknya bicara, "Steve, kamu harus bersikap baik ya sama Mama"
Steve menatap ke luar jendela, lalu mengangguk kecil tanpa berkata apa-apa. Gumaman pelannya hampir tenggelam oleh deru mesin mobil. Di dalam hati, ia masih mencoba memahami kenapa tiba-tiba ada seseorang yang dipanggil Mama dalam hidupnya.
.
Papa Steve berjalan menuju kelas dengan menggandeng tangan mungil Steve di sampingnya, melewati guru-guru yang menyapa ramah kepada mereka. Semuanya tahu, itu adalah anak dan cucu dari pemilik sekolah.
"Good morning, Mr. Lian" ucap seorang guru saat mereka sudah sampai di depan pintu kelas. Papa Steve tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
"Steve, ini kelas kamu. Ingat kata Papa, jangan nakal" peringat sang Papa kepada Steve.
"Ayo nak Steve. Kamu mau duduk di mana, Miss antarkan" ajak guru tersebut. Dan Papa Steve izin untuk segera pamit, mengejar waktu untuk terbang ke negara tetangga karena urusan pekerjaan.
Akhirnya Steve mengikuti guru itu untuk memilih kursi yang ia inginkan. Steve memilih meja nomor tiga di bagian paling kanan. Namun, sepertinya salah satu kursinya sudah ada yang mengklaim, walaupun di meja itu terdapat dua kursi, tapi Steve tetap ingin memilih kursi yang sudah ada tas berwarna biru berbentuk batman di sana.
"Kursi ini sudah ada yang memilih, kursi di sebelahnya masih kosong" ucap guru, Steve hanya menggelengkan kepala sebagai penolakan.
Sang guru sangat bingung, tapi mengingat status sosok muridnya yang satu ini membuatnya merasa segan "Baik, Miss cari dulu ya pemiliknya"
Steve melihat guru itu pergi ke luar kelas. Tak lama kemudian wanita itu kembali bersama anak laki-laki yang tingginya setara dengan dirinya. Anak itu rambutnya sedikit ikal, bibirnya tebal, dan tangannya menggenggam sebuah permen lolipop.
Terlihat anak itu terus berceloteh sembari mengikuti gandengan sang guru "Iya Miss, asyik banget main ayunannya! tapi tadi aku jatoh.. tapi aku gak nangis, karena gak sakit. Tapi tadi si Elvaro jatoh terus nangis, aku kasih permen aja biar gak nangis lagi" bercerita dengan penuh semangat, seolah itu adalah berita penting yang harus didengar.
Sang guru mengusak gemas rambut anak itu "Kamu pintar sekali bisa bantu Elvaro supaya gak nangis. Tapi lain kali mainnya harus hati-hati ya, supaya gak jatuh lagi"
KAMU SEDANG MEMBACA
schadenfreude [sungjake]
Fanfiction'Yang sama, jangan dibeda-bedakan Yang beda, jangan disama-samakan' 'Kamu boleh mencintainya tapi biarkan dia mencintai pilihannya' [BXB]
![schadenfreude [sungjake]](https://img.wattpad.com/cover/348998838-64-k540985.jpg)