Sudah lima hari berlalu, namun hati Steve tak pernah tenang. Pikirannya terus dipenuhi oleh Jake, yang entah di mana keberadaannya. Kakeknya pun tak memberinya izin pergi kemana-mana, meskipun Steve merasa luka di perutnya sudah sembuh. Setiap kali Steve mencoba keluar dari ruangannya, ia selalu tertangkap basah oleh sang Kakek.
Seperti kali ini, Steve sedang dimarahi habis-habisan karena ketahuan mencoba untuk kabur lewat jendela rumah sakit.
"Sekali lagi kau mencoba untuk kabur, Kakek akan langsung membawamu ke Kanada" ancam Kakek Kiming dengan nada penuh kemarahan.
Steve menatap Kakek Kiming tak setuju. "Steve udah sembuh, Kek!" balasnya tak mau kalah. "Luka Steve udah gak sakit lagi, terus kenapa aku masih di sini?"
"Lukamu memang sudah tidak sakit, tapi bukan berarti lukamu sudah kering, kan?" ujar Kakek Kiming tajam.
Tanpa menunggu jawaban, pria tua itu mengangkat baju rumah sakit yang dikenakan Steve, memperlihatkan balutan kain putih di perutnya. Dengan tenang namun penuh maksud, Kakek Kiming menekan luka itu.
"Argh!" Steve meringis kesakitan, tangannya refleks ingin menjauhkan tangan Kakeknya.
Pria tua itu mendengus sinis. "Kau pikir dirimu seorang superhero?" ejeknya dengan nada dingin, sebelum melangkah keluar dari ruangan.
Steve mengusap wajahnya kasar, frustrasi bercampur kesal. Ia benar-benar tak tahu lagi harus melakukan apa supaya bisa keluar dari sini. Setiap malam ia hanya berguling-guling tanpa bisa tidur nyenyak. Pikirannya terus dipenuhi oleh satu nama. Hanya Jake. Jake. Jake. Dan Jake.
✄
"Eh, Juan. Kakak lo belum ketemu juga?" tanya seseorang dari meja sebelah. Juan yang siap untuk menyuap makan siangnya, terdiam.
"Masa iya polisi gak nemuin satu pun bukti? Apa gak aneh?" suara yang lain menyusul, terdengar lebih seperti sindiran daripada rasa prihatin.
Perlahan, Juan meletakkan sendoknya. Selera makannya seketika hilang. Matanya menatap kosong ke piring di depannya, perasaan bersalah terhadap kakaknya kembali menghantui pikirannya.
"Heloo... Kita gak lagi ngomong sama tembok, kan?" salah satu dari mereka menambahkan, kali ini dengan nada kesal.
Juan mengepalkan tangannya erat, napasnya memburu, seolah seluruh udara di kafetaria menolak masuk ke paru-parunya. Matanya mulai memanas, berkaca-kaca dengan air mata yang enggan jatuh. Sekali lagi Juan menyalahkan dirinya sendiri atas hilangnya Jake. Juan merasa tak lebih dari seorang adik yang tidak berguna.
BRAK!
Suara gebrakan dari meja sebelah mendadak membuat kafetaria hening. Semua pasang mata langsung tertuju ke arah meja itu.
"Bisa gak, gak usah terlalu kepo sama urusan orang!" Jay melontarkan kata-kata tajam dengan wajah dingin, membuat empat orang di meja itu serempak menunduk.
Dengan langkah mantap, Jay segera menghampiri Juan. Kedua tangannya menuntun pundak Juan agar menatap dirinya. "Sayang" Panggil Jay lembut.
Kata itu sukses membuat suasana kafetaria yang tadinya sunyi mendadak penuh dengan bisikan. Semua orang di sana terkejut, bahkan Willo, Riki, dan Evan yang memang ada di sana sejak tadi membelalakkan mata, melongo tak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar.
KAMU SEDANG MEMBACA
schadenfreude [sungjake]
Fanfic'Yang sama, jangan dibeda-bedakan Yang beda, jangan disama-samakan' 'Kamu boleh mencintainya tapi biarkan dia mencintai pilihannya' [BXB]
![schadenfreude [sungjake]](https://img.wattpad.com/cover/348998838-64-k540985.jpg)