heartwar

822 85 13
                                        








Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun Juan masih saja terus mencoba menelpon kakak kesayangannya. Karena sampai berakhirnya acara dan sekolah sudah mulai sepi pun, kakaknya tak juga terlihat. Sebenarnya Juan tak ingin khawatir, tapi rasa gelisah di hatinya meminta Juan untuk mencari sang kakak. Sebab, biasanya kakaknya selalu memberinya kabar.

Namun, Juan tak menyerah. Meski berbicara dengan orang lain bukan keahliannya, kali ini ia nekat untuk bertanya kepada setiap orang yang ia temui.

Juan menanyakan pertanyaan yang sama ke setiap orang. "Liat kakakku, gak?" Sayangnya, jawaban mereka selalu sama, tidak ada yang melihat sang kakak.

Hingga akhirnya, Juan melihat Willo dan Riki sedang berjalan menuju parkiran. Tanpa pikir panjang, ia segera berlari menghampiri mereka.

"T-Tunggu!" seru Juan sambil terengah-engah.

Willo yang siap membuka pintu mobil, kini menoleh dengan wajah heran. "Juan? Adeknya Jake?" gumamnya.

"Kak, liat kakakku, gak?" tanya Juan.

Willo menoleh ke arah Riki, seolah melemparkan pertanyaan itu kepadanya. Riki yang paham maksud Willo hanya menggeleng.

Willo kembali menatap Juan. "Gue gak liat" jawabnya singkat "Udah lo call?"

Juan mengangguk mantap. "Udah, tapi gak diangkat"

"Lagi clubbing kali si Jake. Nanti juga pulang dia" ujar Willo santai.

Ucapan Willo memang terdengar masuk akal bagi Juan, tapi rasa gelisah di hatinya tetap tak bisa diabaikan.

"Mm.. kalian liat kak Ben?" tanyanya lagi, berharap mereka punya jawaban berbeda.

Willo hanya menggeleng, menunjukkan bahwa ia juga tak melihat Ben.

"Kakak punya nomornya? kalo punya, aku minta tolong buat hubungin kak Ben, boleh gak, kak?" pinta Juan dengan nada sedikit memohon.

Melihat wajah Juan yang penuh harap, Willo jadi merasa kasihan. Akhirnya, ia pun menuruti permintaan itu dan mengambil ponsel di saku celananya.

Panggilan tersambung, namun tak ada jawaban dari Ben. "Dia juga gak ngangkat" ujar Willo sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Juan.

Juan menghembuskan napas kasar, jemarinya meremas rambutnya yang basah karena keringat.

"Yaudah deh, kak. Makasih ya" ucap Juan dengan nada frustrasi, lalu ia berbalik pergi.

Tapi sebelum Juan benar-benar pergi, suara Willo menghentikannya. "Juan" panggil Willo, membuat Juan menoleh lagi. 

"Mau gue bantu cariin gak?"













Di dalam ring Viper's Nest yang gelap dan dipenuhi teriakan liar penonton, Steve dan Evan saling berhadapan dengan tatapan sengit. Keringat sudah membasahi wajah mereka, tubuh keduanya sudah penuh luka dan lebam, tapi tak satu pun dari mereka menunjukkan tanda akan menyerah.

Evan melayangkan pukulan dari kanan yang nyaris mengenai rahang Steve, tapi Steve gesit menghindar sambil melayangkan serangan balasan—sebuah tendangan mengenai tulang kering Evan. Evan terjatuh sambil meringis, tapi itu semua tak bertahan lama, Evan tertawa kecil seolah serangan Steve barusan tidak ada apa-apanya.

"Cuma segitu? Gue kira lo bakal lebih ganas" ejek Evan sambil meludah ke lantai.

Steve menyeringai tajam, "Gak usah bacot, bentar lagi juga lo tumbang"

schadenfreude [sungjake]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang