28. Dari perut, jatuh ke hati

1K 77 3
                                    

☁️Happy reading☁️


*


*
*

Silvi tersenyum kaku, "Ekhem." Ia terbatuk kecil dan menebalkan muka.

Sedangkan di sisi lain, Adrea berpura-pura tidak tau jika Silvi mendengar apa yang dikatakannya.

Adean yang melihat tingkah Adrea juga ikut menunduk, berusaha keras menahan tawa. Karena dari sekian banyak orang yang datang ke reuni, dari sekian banyak yang siswi yang pernah mendapat gelar putri, hanya satu yang memakai kostum putri. Hanya Silvi.

Adrea mengeluarkan ponselnya. Ia mengecek jam, apakah sudah sampai waktunya untuk pulang. Ia merasa cukup muak dengan adegan drama di hadapannya.

Adrian yang pada dasarnya adalah orang tidak peka, Ia bersuara, "Kau yang mana? Dulu aku banyak membantu siswa yang dibully. Sistem kemanan murid di sini benar-benar buruk dulu. Hanya ada OSIS yang mengawasi."

Astaga. Adrian benar-benar memberikan pukulan telak bagi Silvi. Mukanya sekarang merah padam, menahan perasaan malu.

*****

Adrea masuk ke rumah Adrian dengan tawa yang membahana. Masih tidak habis pikir bahwa Adrian bisa memberikan kalimat-kalimat luar biasa di reuni tadi.

Dan karena celetukan itu pulalah Adrea bersedia mengiyakan permintaan Adrian untuk menginap di rumahnya. Dia beralasan kalau orangtuanya sedang tidak ada di rumah dan dia kesepian.

Adrea akhirnya tau. Ia berhasil mengorek banyak informasi dari Tiara. Ia akhirnya tau kalau Adrian benar-benar sama dengan saat masa SMA mereka. Tidak terlihat terlalu dekat dengan perempuan. Sering bersama Adean, yang saat SMA ada Aku juga.

Silvi, si Putri yang tidak spesial juga bukan siapa-siapa selain figuran di yang menggangu pemandangan, kata Adrian.

Pikiran Adrea akhirnya tenang. Ia melangkah masuk sembari bersenandung ke kamar Adrian. Baru saja sampai di pintu, ia berhenti sejenak, "Ian, aku lapar," ucapnya menghentikan langkah Adrian yang hendak menyusulnya.

Tanpa menunggu reaksi Adrian, Adrea segera masuk dan mengunci pintu. Meninggalkan Adrian yang termangu di depan pintu.

Adrea dengan hati yang berbunga-bunga segera mandi dan dengan santainya memilih baju. Baju Adrian tentunya. Sebenarnya ada baju miliknya di lemari Adrian, bahkan pakaian dalam 'pun tersedia, tapi Adrea sedang malas, ia memilih kaus kebesaran milik Adrian.

Setelah semua telah selesai, Ia membuka kunci pintu dan bergegas loncat ke atas ranjang empuk Adrian. Adrea membuang selimut ke sembarang arah. Takut terlilit seperti biasa. Ia kemudian berguling-guling mengelilingi ranjang.

"Aakkhh, astaga, ada apa denganku?!" Adrea berseru, mengacak-acak rambutnya, "Apa aku mulai jatuh cinta padanya? Tidak apa-apa 'kan? Dia memang punyaku. Renia tidak nyata, aku memang Adrea,"

Adrea terdiam sejenak. Memutuskan untuk menjalani semuanya dan menjadi diri sendiri. Ingatannya semakin menyatu, tidak perlu menghindar lagi.

Tok... Tok... Tok....

Terdengar suara pintu diketuk.

"Iya!" Adrea menyahut.

Adrian segera masuk dengan membawa sebuah nampan dan masih mengenakan jaket reuni. Pengelihatan Adrea semakin aneh. Ia melihat Adrian sangat bersinar dan dipenuhi filter blink-blink.

Adrea menggelengkan kepalanya dengan keras, berusaha mengusir pemandangan aneh di depannya. Ia menepuk pelan kepalanya.

"Rea, ada apa?" Adrian melangkahkan kakinya menuju Adrea yang tengah berbaring dengan posisi aneh di tepi ranjang. Hampir terjatuh jika dia bergerak sedikit lagi saja.

Adrea spontan menoleh. Pandangannya sudah kembali normal, "Menunya apa?"

Adrian tersenyum simpul, "Coba tebak."

Adrea mengendus-endus aroma masakan Adrian dan tetap pada posisinya.

Adrian tersenyum geli melihat tingkah Adrea. Ia menunggu dengan sabar, walaupun khawatir akan posisi Adrea yang jatuh.

Dengan meletakkan telapak tangan di dagu, Adrea melakukan gestur mengelus janggut. Gestur ini secara refleks Adrea lakukan ketika berpikir keras.

"Sepertinya gorengan, tapi ada bau acar. Apa ayam goreng?" Adrea tersenyum semangat, menatap Adrian. Meminta jawaban.

Adrian segera mengatur kembali ekspresi wajahnya. Ia berdehem pelan dan melangkah menuju meja kecil di pojok kamar. Meletakkan nampan berisi ayam goreng, acar dan saus-saus lainnya di sana. Tebakan Adrea tepat sekali.

"Ayo makan." Adrian berjalan menghampiri Adrea dan menggendong Adrea menuju meja makannya. Ia mendengus kecil melihat kaos favoritnya dipakai oleh Adrea.

"Makan," Adrian menepuk kepala Adrea dengan pelan setelah Adrea duduk dengan benar. Ia kemudian beranjak dari duduknya dan bergegas ke kamar mandi.

"Kamu tidak ikut makan?" Adrea bertanya basa-basi. Sebenarnya tidak rela berbagi ayam goreng favoritnya.

"Tidak, aku mau mandi dulu." Adrian segera bergegas. Tidak tahan dengan jaket sempit itu. Ia menggerutu dalam hati. Kenapa tidak dari tadi saja dilepaskan. Ia terlalu bersemangat menggoreng ayam kesukaan Adrea hingga kelupaan.

Adrea mengangguk kesenangan.

*****

Saat Adrian keluar kamar mandi, Adrea masih makan. Masih tersisa tiga potong ayam. Adrian menggeleng pelan. Ia sengaja menggoreng banyak untuk menyenangkan perut Adrea.

Adrea gampang sekali disogok dengan makanan. Lupakan tas branded mewah, emas, berlian, dan barang-barang mahal lainnya. Adrea sama sekali tidak tertarik. Lebih tepatnya bisa membeli sendiri.

Senyum Adrian mengembang, membayangkan Ia sedang memasak dan Adrea menemaninya memasak. Akan tetapi, saat ia membuka lemarinya, senyumnya seketika menghilang.

Pandangan yang tersaji di depannya luar biasa. Berantakan. Ia menghela napas. Ia lupa menyisihkan baju untuk Adrea. Lupa kalau Adrea tidak pernah bisa rapi saat memilih baju di lemarinya.

Adrea tidak pernah perduli tentang barang-barang Adrian. Lebih sering mementingkan diri sendiri. Adrian tidak marah, hanya sedikit kesal. Artinya, Ia harus lebih berusaha lagi menyogok perut Adrea.

Dari perut, jatuh ke hati.

Akhirnya, dia memilih sembarang pakaian yang akan dikenakannya. Kembali ke kamar mandi dan mengenakannya dengan cepat. Mengabaikan keadaan lemarinya yang compang-camping.

Tepat ketika Adrian keluar, Adrea telah selesai makan.

"Ian, aku kekenyangan," ucap Adrea memperlihatkan perutnya yang menggembung besar seperti bola basket, menepuk-nepuk pelan.

Adrian lagi-lagi hanya bisa menggeleng pelan. Ia mengambil nampan dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya meraih tangan Adrea dan menariknya untuk bangun.

"Aduh, kita mau kemana? Aku ngantuk, Ian." Adrea merengek. Enggan untuk bergerak.

Adrian mendengus. Justru itu, dia tidak boleh tertidur sekarang. Akan ada masalah pencernaan yang akan timbul nantinya.

***

"Kita mau apa ke sini?" Adrea menyenderkan kepalanya ke bahu Adrian.

Mereka saat ini berada di taman belakang rumah Adrian.

Adrian mencubit pipi Adrea, "mencegahmu tidur,"

"Kenapa?? Aku ngantuk, Ian," Bibir Adrea mengerucut kesal. Ia memeluk lengan Adrian.

Adrian membelai pipi Adrea. Menarik wajah Adrea untuk menatapnya.

Adrea membalas tatapan Adrian, "Ian, ada apa?"

Adrian tidak menjawab. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Adrea dan menyatukan bibir keduanya.

*
*
*
*
*

Cieeee, digantung🤣
Vote sama komen, jangan lupa🔪

Tunangan Pemeran Utama Laki-lakiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang