Extra Part 1 (21+)

12.7K 439 19
                                        

Sesuai janji, bakal ada extra part dan aku bikin beberapa, extra part ini bakal nyeritain beberapa momen keluarga kecil Lian dan Salena atau keluarga Aro sama Nabila mungkin...

Disclaimer !!!

Ini ada adegan Dewasa nya Be Wise....


Salena berdiri di tengah keramaian bandara, menarik koper kecilnya sambil menatap Lian dengan alis yang sedikit terangkat. Suasana sibuk di sekeliling mereka tak mampu mengalihkan perhatiannya dari ekspresi penuh rahasia yang terpancar di wajah suaminya.

"Mas, kamu belum juga bilang kita mau ke mana," katanya sambil mengerutkan dahi. "Kenapa harus penuh misteri kaya gini?" Satu hari setelah mereka resmi menjadi suami istri, Salena mengganti panggilan untuk suami nya itu

Lian hanya tersenyum tipis, sambil mengeluarkan paspor mereka dari tas kecilnya. "Sabar, Sayang. Kamu suka kejutan, kan?"

Salena mendengus pelan, tapi ada sedikit senyum di sudut bibirnya. "Aku suka kejutan, tapi ini beda. Aku nggak tahu apa yang harus kuantisipasi. Kamu bahkan nggak ngasih tau pakaian apa yang harus dibawa."

"Aku udah urus semuanya," jawab Lian dengan nada tenang, menggenggam tangan Salena untuk membimbingnya ke meja check-in. "Percayalah, you just enjoy the journey"

Salena terdiam, matanya sedikit murung saat ia teringat pada adik, ini pertama kali nya dia bepergian cukup lama meninggalkan anaknya itu.

"Adik oke kan mas kita tinggal ?" Salena bertanya pelan, menggenggam tangan Lian lebih erat.

Lian merasakan kegelisahan di dalam diri Salena. "Aman, Sayang. oma opa sama onti nya pasti jaga adik, Nabila sama Aro juga bakal sering sering ke rumah. Adik juga mengizinkan kita pergi kan sayang, Ini waktu yang tepat bagi kita untuk berdua, Adik pasti baik-baik aja."

Salena menghela napas panjang, berusaha meyakinkan dirinya. Meninggalkan adik adalah keputusan yang sulit, meski ia tahu bahwa anaknya berada di tangan yang tepat. Namun, kebahagiaan yang ditawarkan oleh Lian begitu menggiurkan, lagi pula menghabiskan waktu bersama pasangan juga menjadi hal yang penting untuk menjaga keharmonisan sebuah keluarga.

Mereka berjalan menuju ruang tunggu, dan meskipun Salena berulang kali mencoba memancing informasi, Lian tetap bungkam. Wajahnya memancarkan kebahagiaan yang sulit disembunyikan, seolah hanya menunggu saat yang tepat untuk membagikan rahasia yang telah ia simpan.

Ketika akhirnya mereka sampai di gerbang, Salena sedikit bingung melihat sebuah mobil mewah yang menunggu mereka. Lian tersenyum dan memandu Salena menuju mobil itu.

"Ke mana ini?" tanya Salena, matanya mulai berbinar penuh rasa ingin tahu.

"No worries, Sayang. Kita akan menuju ke pesawat," jawab Lian dengan tenang, meski ia tahu Salena pasti semakin penasaran.

Saat mobil berhenti di area parkir VIP, Salena melongo melihat pesawat pribadi yang terparkir di sana. Pesawat itu bukan pesawat komersial biasa. Tampaknya jauh lebih mewah, dan tubuh pesawat itu dihiasi dengan logo keluarga yang sudah familiar di mata Salena: Adhyastha.

"Mas, ini... pake pesawat pribadi keluarga kamu?" Salena bertanya dengan suara hampir tak percaya.

Lian hanya tersenyum, meraih tangannya. Salena hanya bisa terdiam, terpesona oleh keindahan pesawat itu. Ia merasa sangat dihargai dan dicintai. Sebenarnya bukan hal yang baru untuknya, namun entah kenapa ini terlalu istimewa.

Mereka berjalan menuju pintu pesawat yang sudah terbuka, dan seorang kru pesawat menyambut mereka dengan senyuman hangat. Begitu memasuki kabin, Salena terpesona dengan interior pesawat itu yang begitu mewah. Kursi empuk dengan bahan kulit halus, layar hiburan besar di depan mereka, serta meja makan kecil yang disiapkan dengan sempurna. Pelayanan yang diberikan sangat personal, dengan pramugari yang menawarkan minuman ringan dan makanan lezat.

Sal, MaafTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang