Hidup seolah menjadi medan perang yang tiada henti. Hari-hari sebelumnya penuh dengan badai ujian, rasa kecewa, keputusasaan, dan kehilangan silih berganti datang tanpa jeda. Namun, di tengah gelapnya awan kehidupan, harapan tetap menjadi nyala kecil yang enggan padam.
Kini, badai itu telah berlalu kan ? Meskipun angin dinginnya masih menyesakan hati, udara pagi mulai membawa kehangatan baru. Langit yang sebelumnya kelabu kini perlahan memancarkan sinar lembut, seperti pelukan hangat yang lama dinantikan.
Setelah segala cobaan, ada rasa lega yang tak dapat diungkapkan kata-kata. Bukan karena ujian itu mudah dilalui, melainkan karena keyakinan bahwa diri ini lebih kuat dari yang pernah diduga. Bekas luka kehilangan yang bergantian masih terasa, tetapi ia kini menjadi pengingat bahwa semua akan kembali pada pemilik-Nya, maka benci secukupnya dan mencintailah dengan sewajarnya.
Gavin menoleh pada adik nya yang memandang kosong ke arah depan, sementara keponakannya duduk manis di belakang dengan sebuah bouquet bunga mawar putih, mereka masih berada di mobil, tepatnya di sebuah parkiran pemakaman keluarga yang mewah.
"Caa kalo emang belum siap bisa lain waktu, kita pulang dulu aja ya"
Salena terlihat menggeleng tegas, "terlalu lama bang, udah hampir 2 bulan, aku harus coba buat berdamai sama keadaan, aku udah ikhlasin semua yang terjadi...sebelum aku ke Bali juga bang"
"Abang tunggu di sini aja ya, biar aku sama adik yang turun"
Terlihat Gavin mengangguk, biarlah Salena dan adik mencoba untuk melepaskan semua emosi nya.
Salena dan adik saling bergandengan tangan, mendekati sebuah makam yang dihiasi dengan berbagai bunga, terlihat ada bunga yang sudah layu ada juga yang masih terlihat segar.
Salena berjongkok, diikuti oleh adik yang meletakan bouquet bunga yang dia bawa, detik selanjutnya adalah air mata Salena yang berlomba-lomba untuk keluar, dada nya luar biasa sesak, dia tak menyangka akan mengalami hal ini, hal yang luar biasa sangat berat, dia mengalami sebuah kehilangan kembali, orang yang dia sayangi, namun ada rasa lega bahwa dia sudah mencoba mengikhlaskan semua nya.
"Ibu..."ucap adik pelan sambil mengusap lengan ibu nya, dia mencoba menguatkan ibu nya
Salena menoleh pada adik, mencoba untuk tersenyum pada anaknya, "kita baca alfatihah untuk mendoakan ya sayang", adik mengangguk.
"Setelah ini semoga kamu menemukan bahagia kamu sama adik ya Ca"batin Gavin yang tak kuasa melihat adik bungsu nya harus menghadapi segala sakit yang luar biasa
☆▪☆▪☆▪☆▪☆▪☆▪☆▪☆▪☆▪☆▪☆▪☆▪☆▪
Langit sore itu membentang dengan warna oranye keemasan yang memukau, seolah alam semesta sendiri sedang melukis momen yang indah. Di atas sebuah tebing yang menjulang di tepi laut, deburan ombak terdengar lembut di bawah sana, berpadu dengan hembusan angin yang membawa harum asin khas pantai. Bangku-bangku untuk para tamu disusun rapi, diapit lentera kecil yang mulai menyala seiring hari menjelang malam.
Sebuah meja dan kursi kayu dihias berbagai bunga berwarna putih dan dedaunan hijau, terduduk seorang pria dengan gagah menghadap samudra yang tampak tak berujung. Tangannya menjabat sebuah tangan lain dengan erat.
"Saya terima nikahnya Salena Syafana Argantara Binti Alm. Farhan Argantara dengan mas kawin 122.002 dirham (AED) dan 122.2 gram logam mulia dibayar tunai"
Semua yang hadir menahan napas, hingga penghulu mengumumkan bahwa akad telah sah, disertai ucapan "sah" dari para saksi. Sorak gembira pun menggema, diiringi senyum penuh syukur dan rasa haru dari kedua belah keluarga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sal, Maaf
Storie d'amore"Meskipun menyakitkan, pertemuan dengan mu tetap menjadi salah satu hal yang aku syukuri- Salena Syafana Argantara" Sal, maaf- Lian Ganendra Adhyastha Selesai ( 3 Desember 2024)
