13

2.7K 442 16
                                        

Aku terbiasa menyaksikan drama dadakan di sekolah. Ironis dan tragis, beberapa drama menyeret diriku yang tidak berdosa. Memang benar kata orang, terlalu cantik bisa membahayakan diri sendiri. Kejelitaanku membuat Sofia melancarkan aksi tebar pesona tokoh utama serapuh kapur tulis. Dia muncul di hadapanku, berlagak hendak menjembatani hubunganku dengan Tirta, lalu memamerkan mata berkaca-kaca ala ratapan Bawang Putih.

"Maaf, Kak. Aku nggak ada maksud menyakiti Kakak."

Beratnya menjadi orang cantik. Iya, aku cantik dan menderita. Rencana awal aku ingin menikmati komik terbaru yang kupesan online, duduk di taman samping perpustakaan yang terkenal hijau serta teduh, dan memilih bangku terlucu. Tidak lupa kubawa keripik kentang rasa pedas manis, sebotol jus melon dingin, dan roti isi buah segar. Sempurna, 'kan?

Akan tetapi, Sofia memiliki agenda lain. Beberapa hari belakangan ini dia hobi setor muka. Itu belum termasuk segala argumen mengenai "sebaiknya aku mempertimbangkan kembali menjadi tunangan Tirta". Kadang aku mempertanyakan kecerdasan Sofia. Bagaimana bisa dia punya pikiran sejauh ini? Terlalu jauh sampai melampui ketinggian Monas.

"Iya, ngerti," sahutku seadanya.

Ucapkan selamat tinggal pada fokus baca. Pikiranku terpecah antara mengikuti adegan mendorong musuh ke jurang atau menjambak diri sendiri.

"Kak, aku pengin Kakak ngomong ke Kak Tirta," Sofia memohon. "Coba Kakak kasih penjelasan bahwa Kakak sebenarnya nggak pengin memutuskan pertunangan. Bahwa Kakak masih cinta sama Kak Tirta."

Sambar geledek tujuh kali!

Apa? Aku? Mengemis cinta?

Lenyaplah semangat baca, padahal tokohnya ganteng dan tipeku sekali. Lekas kurapikan jajan dan komik. Kali ini kuhadapi Sofia. Dia cerdas sekali, ya? Kelihatan sendirian, tapi ternyata bawa bantuan. Kulihat beberapa temannya menunggu tidak jauh dari kami. Mereka terlihat cemas seakan aku punya kecenderungan menjambak seseorang.

"Kenapa aku harus balikan?" tanyaku dengan nada suara kesal. Kupicingkan mata, berharap menemukan kutu atau apa pun yang mungkin mengontaminasi Sofia. "Apa kamu nggak sabar pengin menjadikanku bahan lelucon, ya?"

Sofia gemetar. Caranya gemetar pun sangat elegan. Tidak mirip mode getar pada ponsel yang brrrt brrrrt, tapi lebih seperti setangkai putri malu yang diembus angin pagi. Siapa pun pasti tergelitik ingin menjadi sandaran Sofia, menguatkannya, dan rela jadi benteng.

"E-enggak, Kak," ucap Sofia dengan suara serak. Oh matanya merah. Tinggal menunggu hitungan detik setetes air mata meluncur. "Aku pengin Kakak kembali. Kak Tirta cocoknya sama Kakak, bukan aku."

"Ooooo gitu? Kamu nggak cocok dengan Kak Tirta, tapi lebih pas kalau jadian sama Randu? Mohon maaf, Randu kemarin ngomong kalau dia pengin jadi anak buahku tuh. Apa kamu nggak malu? Beraninya mencoba merebut anak buah orang lain."

Iya, benar sekali. Randu akan jadi anak buahku! Kaki tanganku! Tidak akan kubiarkan cewek white lotus ini melancarkan aksinya! Persetan orang lain. Aku punya si kembar, mereka bisa membereskan kroco di hadapanku.

"A-anak buah? Kak Senja, Kak Randu bukan barang."

"Iya, bukan barang. Dia anak buahku. Artinya," aku menunjuk diri sendiri, "akulah sang bos, majikan, master!"

Kedua alis Sofia pun bertaut. Dia terlihat mirip orang yang baru saja menelan jamu pahit. Bibir mengerucut, hidung mengerut, dan wajah memerah. "Aku nggak percaya Kakak tega ngomong begitu."

Kusilangkan kaki dan mulai mempertimbangkan pilihan antara melempar komik atau menggigit Sofia. Pilihan satu tidak perlu kulakukan. Komik mahal. Sayang. Pilihan kedua juga tidak perlu direalisasikan. Sayang gigiku.

I Want U! (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang