9

2.8K 441 14
                                        

Mataku panas. Bukan karena kebanyakan membaca, melainkan disebabkan oleh adegan romansa ala sinetron tahun 2000-an. Drama dimulai dengan adegan cemburu, menargetkan saingan, siasat licik, lalu benci, menyadari perasaan, jatuh cinta, dan mulai saling menyatakan perasaan. Andai semudah itu, maka aku tidak perlu terjebak di sini!

"Kak Senja, Kakak marah, ya? Aku dan Kak Randu cuma teman kok."

Aku berniat langsung kabur ketika Randu sibuk latihan dengan teman-teman. Sialnya aku tidak mempersiapkan kemungkinan bertemu Sofia lengkap dengan Tirta yang mengekor di belakang. Percaya deh, mereka BENAR-BENAR melakukan adegan teriakan dramatis. "Sofia, tungguuuu!" Lalu, Sofia membalas: "Jangan kejar aku, Kak." Howek.

Sofia bisa saja melarikan diri ke taman dan mulai menyanyikan potongan lagu dari Kabhi Kushi Kabhi Gham. Namun, tidaaaaaaaaaaaaaaaak! Dia memilih mencegat rute pelarianku! Aku hanya ingin pulaaaaaang!

"Kak Senja," ujar Sofia dengan suara semanis madu, "Kakak nggak perlu pulang karena nggak enak hati. Aku janji nggak akan ... maksudku, Kak Randu."

"Senja, kamu nggak bisa bersikap baik?" tuduh Tirta tanpa bukti. "Kenapa gangguin Sofia?"

Dua lawan satu? Tidak adil! Minimal biarkan aku menyeret anak buahku.

Alih-alih meladeni dua orang kurang asupan vitamin O, OTAK, aku memilih meraih ponsel dan menekan nomor Meli. Pada dering kedua, tanpa menunggu halo dari Meli, aku langsung mencerocos: "Eh cepat tolong aku! Aku ada di dekat mading. Kalau kamu nggak ke sini, aku gigit mejamu sampai rusak!"

Kuputus panggilan, mengamankan ponsel di ransel, barulah membalas. "Halo, Tuan dan Nyonya. Tolong minum obatnya sebelum kumat. Sofia?" Aku memberinya gelengan kepala sembari mencibir. "Kamu mau jadian dengan Randu? Sana. Kejar dia. Ngapain kasih penjelasan? Aku tuh nggak peduli. Terserah!"

"Senja!" bentak Tirta.

"Kamu diam!" balasku tidak kalah sengit. Aku memamerkan kepalan tinju. Dua! "Mantan tidak boleh menggonggong. Berisik! Kamu kalau ada waktu ngejar dedek gemes, coba pikirkan ujian kelulusan dan persiapan kuliah. Dih memangnya situ yakin bakal mewarisi usaha keluarga?" ledekku sembari memamerkan senyum mengejek. "Delusinya kebangetan. Aku bakalan ngasih suara buat Kak Surya. Dia jauuuuuuh lebih berguna bagi semesta raya daripada adiknya, kamu!"

O ... ooooow Tirta akan meledak. Otot di rahang dan kening Tirta mulai berkedut dan kupikir akan lucu sekali andai saat ini ada zombie yang menggigit kedua pasangan sinting ini. Zombie berjalan terseok sembari bicara, "Brain.... Brain...."

"Kamu keterlaluan," kata Tirta sembari menunjuk hidungku. "Kalau bukan karena Om dan Tante, aku nggak bakal ragu ngasih pelajaran. Lagi pula, apa kamu lupa siapa yang dulu ngemis perhatian? Kamu!"

Benar juga. Dulu aku buta. "Iya," aku tidak mendebat fakta kegilaanku, "sebelum mendapat sentuhan cahaya, aku sungguh bodoh. Kupikir daging, ternyata laos. Kukira berlian, ternyata emas tiruan. Betapa tidak cerdasnya diriku dahulu." Tidak lupa kuperagakan adegan terluka; menyentuh dada, memamerkan tatapan sedih, dan memelankan suara. "Kamu nggak bisa menghargai perhatianku. Terlalu sibuk mengejar kupu-kupu di taman orang lain."

Aku melirik Sofia yang diam. Dia memegang jemarinya seolah hendak menyanyikan lagu perang bagi kami, mantan jadi musuh. Mungkin liriknya akan begini:

Pedih pedih pedih hati ini.
Benci benci benci hati ini.
Dasar sontoloyo.
Kau hancurkan hatiku.
Kau dustai aku.
Kau lukai aku.

Musiknya dangdut. Pas! Sempurna!

"Nggak usah nyeret Sofia!" Tirta memosisikan diri sebagai benteng pelindung di depan Sofia. Dia memberiku tatapan sengit, sama sekali tidak ada gulanya. Pahit! "Kamu yang salah. Beraninya lempar batu sembunyi tangan!"

I Want U! (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang