“Senja, kamu nggak bisa dibiarin begitu saja!”
Sekalipun Tirta meringis kesakitan, dia masih berencana melakukan tindakan laknat yang sebaiknya biar ia saja yang tahu. Aku tidak akan gentar. Daripada kabur seperti Gintoki ketemu setan, lebih baik kupersiapkan kuda-kuda. Lagi pula, di tanganku ada komik setebal empat ratus halaman dan jajan. Dua senjata mematikan!
“Ayo maju,” aku menyemangati. “Akan kutendang bola emasmu sampai ke ujung dunia! Dasar tidak tahu diri!”
Tirta tidak lagi menahan emosi. Dia berderap maju, tangan terjulur hendak meraihku, tapi tangan seseorang lebih dulu meraih tangan penyerangku.
“Hentikan,” Randu memperingatkan. Dia dengan gagah berani mengunci pergerakan Tirta. Begitu mudah baginya memiting tangan Tirta ke belakang, lantas menempelkan musuh ke dinding. “Di sekolah seharusnya nggak boleh ada kekerasan.”
“Boleh dong!” aku mengoreksi, antusias. Kugoyangkan dua senjataku ke kanan dan kiri. “Biar seru. Eh minggir. Biar aku tendang bola emasnya!”
Randu mengabaikanku. Dia memilih menyeret Tirta menjauh dariku. Kok rasanya aku seperti baru saja dicampakkan. Sakit.
Bicara mengenai campak-mencampakkan, Sofia meluncur—lari, mengejar Randu dan Tirta. Aku tidak mau tahu ke mana perginya mereka. Pasti bukan di tempat menyenangkan.
Di saat aku sedang mempertimbangkan kembali ke kelas dan melanjutkan bacaan yang tertunda, kudengar derap langkah kaki diselingi teriakan yang memanggil namaku.
“Senja!”
“Woey kamu selamat, Senja?!”
Meli dan Ciko. Mereka berdua langsung memeriksa kondisiku. Dimulai dari Meli yang menepuk pipiku, mengecek kanan kiri, dan menghela napas saat menyadari tidak ada luka tonjok. Ciko menyuruhku berputar dua kali (tidak kulakukan). Cowok itu kadang mengesalkan dan lebih baik kutendang saja.
“Kok ke sini, sih?”
“Gimana enggak ke sini?” sembur Ciko, sewot. “Ada yang ngabarin kalau kamu mau digergaji Tirta.”
“Tuh cowok makin hari, makin nggak beres,” balas Meli. Dia menepuk pelan kepalaku seolah berharap bisa mengeluarkan jin pengabul permintaan. “Aku ngerti cinta itu buta, tapi nggak sampai kepikiran kehilangan akal juga kali.”
Aku ingin ikut jadi kompor, tapi kubatalkan. Kenapa? Sebab dulu aku termasuk budak cinta yang tidak mengutamakan logika di atas segalanya. Lebih mementingkan perasaan yang terkontaminasi hormon daripada keselamatan. Sungguh beruntung sekarang benak milikku bersih dari segala kontaminasi.
“Si Randu gerak cepat juga, ya?” puji Ciko. “Nggak ada acara cap cip cup belalang kuncup. Langsung terjang melawan badai.”
Namanya juga anak buahku. Wajib dong dia melindungi master, aku!
“Masuk kelas aja deh,” saranku. Aku tidak suka tatapan ingin tahu beberapa siswa yang kini menclok di dahiku. Bisa-bisa reputasi siswi cantik paripurna milikku turun. Ogah. “Lagi pula, Randu pasti sedang mengajak Kak Tirta kuliah tujuh menit.”
Ciko dan Meli saling bertukar pandang. Aneh sekali. Rasanya mereka tahu sesuatu yang tidak kupahami.
***
“Kakak, pokoknya kamu harus tahu! Aku tadi hampir dikucek-kucek oleh penjahat terkeji sejagat raya! Kak Tirta berencana menyakitiku, di siang bolong, di sekolah, di depan anak-anak, di hadapan gebetan! Aku mau Kakak kasih tahu Kak Surya! Bilang ke dia kalau adiknya kena rabies, asma, asam urat, penurunan kinerja otak. Pokoknya kasih tahu yang jelek-jelek!”
Sesuai janjiku, aku mengadu kepada salah satu kakakku. Antoni.
Tentu saja tidak asal mengadu. Pertama-tama, aku perlu mandi. Kedua, ganti baju. Ketiga, cari posisi enak yakni, di ranjang. Di tempat Antoni matahari telah tenggelam. Kulihat dia sudah mengenakan pakaian santai dan sama sepertiku, tengah berada di kamar.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Want U! (Tamat)
פנטזיהHidup milikku yang seharusnya sempurna pun berubah berantakan. Tunanganku memilih membela cewek lain, membuatku patah hati, dan aku pun memilih mengincar si pelakor. Cinta membutakan diriku hingga tidak melihat betapa buruk tunanganku sesungguhnya...
