“Coba deh cicipi masakan Mama. Ini resep tumis kangkung warisan keluarganya si Ciko.”
“Ih hebat,” puji Antoni terlampau berlebihan ketika Mama menyuruhnya menyendok tumis kangkung ke piring miliknya, “jarang bisa menikmati masakan rumah. Kangen banget dengan masakan Mama Desi.”
“Apa, iya? Aku kok nggak pernah dengar kamu curhat kangen masakan rumah sewaktu kita kuliah di luar?” tepis Imelda yang kini menyendok semur daging ke piringku. “Makan yang banyak, ya? Biar kamu nggak gampang sakit, Senja.”
“Adalah,” sahut Antoni dengan ringan.
Hmm ada yang aneh. Sangat aneh. Terus terang bagiku memang aneh.
Satu, Imelda dan Antoni jarang di rumah. Semanjak mendapat pekerjaan, kedua kakakku itu lebih suka melakukan petualangan di luar daripada diam di rumah. Apalagi mereka punya apartemen, hadiah Papa dan Mama, yang lokasinya strategis. Buat apa mereka memutuskan tidur di rumah utama? Kan repot! (Minus diriku yang sering memanfaatkan mereka untuk kepentingan pribadi. Jadi, tidak perlu kubahas. Nuraniku terkoyak, tapi bodo amat.)
Dua, makan malam dengan anggota keluarga, lengkap pula, merupakan pertanda sesuatu yang penting. Aku ingin berpikir positif, tapi otak ini menolak diajak ke sana. Selalu saja suara hatiku membisikkan sejumlah kemungkinan menjengkelkan. Seperti, Antoni mengumumkan punya calon suami untuk Imelda.
Tiga, emmm akan kucari tahu yang ketiga. Nanti.
Makan malam bersama keluarga jadi terasa tidak terlalu nikmat saat kepalaku mau main sendiri. Pusing!
“Ma, tolong dong kasih tahu kami pacarnya si Senja siapa?”
Gerakan menyendok makanan ke mulut pun terhenti di udara. Aku memelototi Imelda, berharap dia tidak perlu melempar bom. Pacar? Yang mana?! SIAPA?
“Ih kamu,” balas Mama sembari cekikikan. Dia menyikut Papa yang baru kusadari sedari tadi wajahnya asam sekali. Aku curiga dia baru saja mengunyah tomat muda atau potongan lengkuas, entahlah, hingga ekspresinya mirip orang yang baru saja kemalingan ayam. “Pa, mau aku ceritain lagi? Jadi, ada cowok ganteng yang mampir ke rumah. Namanya Randu. Imelda, Mama udah ngasih penjelasan ke kamu, ‘kan? Nggak perlu pura-pura gitu dong.”
Keningku mulai berkerut. Susah payah kuperas segenap ide mengenai bicara soal pacar-yang-belum-tentu-kumiliki, tetapi tanganku sibuk melanjutkan aksi menyuap dan mulutku rajin mengunyah. Dengan kata lain, semangat makanku keluar sebagai pemenang.
“Papa jangan cemberut gitu dong,” sindir Mama. “Mirip kucingnya temanku. Kalau dia imut, kalau kamu ngegemesin.”
Kuputar bola mata. Rayuan gombal suami istri ini sama sekali jauh dari kata kawai.
“Serius deh, Ma,” Antoni menuntut. Dia masih mencengkeram sendok, tapi sepertinya tidak tertarik melanjutkan makan. “Randu berani main ke sini?”
“Iya, ‘kan?” Imelda menimpali. Kali ini keduanya, Imelda dan Antoni, mirip iblis yang berusaha merencanakan tindakan kriminal di bumi. “Aku baru dengar dari Mama. Informasi nggak menyenangkan, sih.”
“Papa juga kecolongan,” Papa mengaku, suntuk. Dia mulai makan dengan gerakan pelan. “Rasanya baru kemarin Papa senang Senja nggak mau tunangan dengan Tirta. Sekarang Papa sedang mempersiapkan diri menghadapi badai.”
Oke, boleh. Tirta memang kesalahan terbesar. Aku mengaku berdosa. Namun, Randu? Kami bahkan belum menjalin hubungan romantis. Lagi pula, aku masih takut dengan diriku sendiri. Ini bukan kisah seindah tulisan Ilana Tan ataupun Sophie Kinsella. Bagaimana bila diriku terjun dalam irama tulisan Lo Kuang Tiong? Habis diriku!
“Jangan begitu dong,” Mama protes. Keras. “Kalian nggak bisa menghalangi Senja memulai hubungan baru. Apa pernah Senja protes ke kalian, para kakaknya, perkara kalian pacaran terus putus? Enggak, ‘kan?”
Antoni langsung pasang badan, menyuarakan pendapat. Dia meletakkan sendok di piring dan jelaslah tidak punya selera makan. “Beda, Ma. Tirta emang nggak bisa dipercaya. Dulu aku diam karena takut nyakitin Senja. Kesalahan besar. Sekarang pun aku nggak mau dia salah pilih. Minimal si Randu izin dulu ke aku.”
“Kalau aku, sih, mau ngasih ujian dulu,” Imelda menimpali. Dia cengar-cengir menantang dan sempat-sempatnya memainkan alisnya. “Lumayan, ‘kan? Minimal aku tahu karakter si Randu. Sekadar informasi dari Ciko dan Meli pun nggak cukup.”
Papa mengangguk. Kali ini dia tidak cemberut. Dasar Papa!
Aku meraih tumis sayur dan bakso, mengambil sangat banyak, dan lanjut makan. Percuma bicara bila perutku belum puas. Biarkan saja mereka bersenang-senang asalkan uang jajanku tidak dipotong.
“Si Randu,” ujar Mama yang masih menikmati makanannya, “Mama suka. Dia nggak mirip Tirta. Jauuuuuuh lebih baik dan Mama jamin aman.”
“Gimana kalau dia hobi celap-celup sembarangan?” celetuk Imelda yang membuatku tersedak hebat.
Sial! Aku sampai ditolong Papa yang memberiku segelas air dan membantu menepuk punggungku. Topik dewasa ini tidak cocok untukku! Aku tidak keberatan baca tema semut hitam, semut merah, semut api! Namun, tolong tidak perlu bawa bahannya kepadaku!
Air mata menetes, membuatku mengerjap. Sumpah sakit sekali dadaku. Gara-gara itu pembicaraan pun terhenti selama beberapa saat. Imelda mendapat tatapan sengit dari Antoni. Kupikir bisa saja Antoni menyiram air suci ke Imelda, tapi di sini tidak ada air suci. Adanya air es.
“Udahan dong,” aku memohon. Sekarang dadaku tidak terlalu sakit, meskipun tenggorokkanku jadi sedikit perih. “Ini udah dua kali aku tersedak. Gara-gara Kak Imelda dan Randu. Kalian punya hobi apaan, sih?”
“RANDU NGOMONG JOROK?” sembur Antoni yang mirip banteng siap menanduk. “Senja, enggak! Dia tidak masuk radar oke kakakmu.”
Lekas kuberikan koreksi sebelum reputasi Randu ternoda. “Bukan. Dia nggak pernah ngomong jorok kok. Cuma kemarin dia bilang mengenai errr ya lamaran ini dan itu. Nggak aku aminin kok. Tenang saja. Aku bilang harus izin ke keluargaku dulu, baru kupikirkan.”
“Antoni,” Mama menegur, “jangan mirip papamu sewaktu marah. Nggak ada kontrol.”
“Emang Papa bisa ngamuk?”
“Bisa,” Mama menjawab pertanyaan Imelda, “dia pernah ngamuk dan itu nggak indah.”
Papa berdeham. Baru kusadari dia tersipu begitu. “Ma, jangan buka rahasia kita. Papa ngamuknya cuma kalau ada cowok yang berani kurang ajar ke kamu.”
Mama mengabaikan permintaan Papa. Dia justru tersenyum licik dan berkata, “Dulu ada cowok, di pesta gitu, mau pendekatan ke Mama. Papa nggak terima. Mereka bertengkar hebat. Bikin malu.”
Imelda dan Antoni saling bertukar pandang. Jelas sudah aku tidak tahu mengenai sesuatu. Mungkin pengalaman sebelum aku ada?
“Pokoknya aku pengin memastikan si Randu aman,” tegas Antoni. “Senja, kedua kakakmu berjanji nggak bakal teledor. Kami mau kamu dapat cowok yang benar. Kalau perlu kami akan memaksa Randu buat surat resmi.”
“Ka-Kak,” ucapku terbata, “surat apaan?”
Imelda yang memberiku jawaban. “Surat resmi andai dia selingkuh kamu dapat apaan dari perceraian. Isinya harus yang condong ke kepentinganmu. Enggak boleh Randu yang menang banyak.”
“...”
Itu mainnya bagaimana? Tolong! Tolong otakku tidak sampai! Mereka sedang membahas topik yang sama, bukan?
***
Imelda: “Ciko, ayo ngomong sama Kakak.”
Ciko: “Eh gimana? Kak, ampun!”
Imelda: “Kok bisa ada cowok kurang ajar mau mencuri adikku, ya? Kamu perlu kasih penjelasan nih.”
Ciko: “Ampun, Kak! Hamba rakyat biasa!”
***
Selesai ditulis pada 18 Desember 2024.
***
Halo, teman-teman.
Terima kasih telah mampir menengok Senja. Hehehe kalau saya nggak update Senja dan nggak ngasih keterangan, itu artinya saya sedang update Mamaku Mantan Antagonis. Hehehe.
Oh lupa. Begini. Saya bukan penulis profesional. Teman-teman akan menemukan banyak kekurangan dari segi penulisan, penokohan, informasi, dan sebagainya. Tulisan yang saya buat benar-benar amatir. Saya mohon maaf atas segala kekurangan dan terima kasih atas bantuan koreksi typo maupun informasi. Hehehe. Love buat kalian.
P.S: Jangan lupa minum air putih secukupnya agar terhindar dari dehidrasi. Semoga hari kalian selalu diberi keberkahan, kebahagiaan, keselamatan, rezeki, dan cinta. HUG!
KAMU SEDANG MEMBACA
I Want U! (Tamat)
FantasíaHidup milikku yang seharusnya sempurna pun berubah berantakan. Tunanganku memilih membela cewek lain, membuatku patah hati, dan aku pun memilih mengincar si pelakor. Cinta membutakan diriku hingga tidak melihat betapa buruk tunanganku sesungguhnya...
