NOTE: I WANT U EKSTRA EPISODE 5 SUDAH TERBIT DI KARYAKARSA. Selamat membaca. :")
***
"Paaaa."
Alih-alih langsung menanggapi diriku, Papa fokus membaca buku. Dia duduk nyaman di sofa, menikmati kehangatan cahaya matahari yang terbias melalui jendela, dan memusatkan perhatiannya ke buku. Aku mencoba mengecek judul buku. Hubungan Manusia dan Perkembangan Emosional. Bukan jenis buku yang bisa kunikmati dengan mudah, berhubung kesukaanku lebih ke fiksi. Fiksi apa pun. komik, novel, cerpen, fanfic, bahkan dialog lucu yang dibuat di media sosial.
Papa hari ini tidak pergi ke kantor. Dia memilih menghabiskan waktu di perpustakaan. Ada banyak buku yang tersebar di rak. Selain Mama, kakakku, dan diriku-hmm Papa sangat mencintai perpustakaan miliknya. Kudengar buku yang tersimpan di sini sebagaian merupakan warisan dari orangtua Papa serta om dan tantenya. Jadi, bisa kuduga ada buku berusia sangat tua melebihi diriku.
Di luar sana, saat bekerja, Papa mengenakan setelan formal. Namun, saat di rumah dia memilih memakai kaus berbahan ringan dan celana santai. Kadang aku curiga dia ingin pakai kaus oblong dan kolor. Hmm aku pun hari ini cuma mengenakan celana panjang berbahan longgar dan kaus gambar kudanil menguap. Kami berdua sama saja.
"Pa," aku berusaha memanggil lagi.
Kali ini kudekati Papa, mengintip teks dalam buku, dan langsung puyeng. Hurufnya rapat, paragrafnya panjang, dan ada banyak catatan kaki. Buku semacam ini tidak bisa dibaca sekali duduk. Butuh konsentrasi dan ... hmmm.
"Papa, tolong jangan cuekin aku."
Papa akhirnya bersedia mengistirahatkan diri. Dia menutup buku, menaruhnya di meja. "Kamu pasti penasaran, ya?"
Aku mengangguk.
"Duduk dulu dong."
Sesuai keinginan Papa, aku duduk manis. Siap mendengarkan penjelasan Papa.
"Kamu ingin tahu alasan Tirta datang kemarin?"
"Pa, langsung ke inti permasalahan. Nggak usah pakai acara pengenalan, penjelasan, dan penutup. Kelamaan nanti."
"Kamu ini," kata Papa sembari menjitak pelan dahiku, "kebiasaan."
"Oke, Pa. Apa yang dia mau dari kita?"
Papa mengangkat bahu. Sejenak dia menggeleng seolah baru saja menemukan fakta mencengangkan bahwa orang yang digigit monyet bisa berubah jadi zombie. "Dia pengin tunangan lagi. Tenang saja, Papa tolak kok. Lagi pula, Papa nggak suka dengan kebiasaan buruknya. Dulu nggak mau nerima kamu. Sekarang berubah haluan. Nggak bisa dipercaya."
"Benar," aku menyetujui pendapat Papa.
Entah apa pun yang sedang Tirta rencanakan, aku tidak mau berhubungan lagi. Cukup sekali. Dialah yang dulu menolakku, tidak menginginkanku, dan memilih cewek lain. Dasar jahanam.
"Toh Papa lebih suka Randu," katanya mengakui.
Pernyataan Papa membuatku sedikit terkejut. Kupikir dia akan sulit menerima kehadiran Randu. Namun, sekarang.... Wow apa yang Randu lakukan kepada Papa?
"Boleh tahu alasan Papa bersedia membuka hati kepada Randu?"
Papa memberiku senyum hangat. Sekali ini kulihat pancaran damai dalam kedua mata Papa. "Karena dia paham tanggung jawab. Papa coba mengikuti sepak terjang Randu. Beberapa kenalan Papa memberi komentar positif terkait Randu. Hmm ada beberapa hal yang sebaiknya nggak usah kamu tahu."
"Papa, ih gitu."
"Udah. Papa kasih restu. Sekarang giliran dua kakakmu. Randu perlu ekstra kerja keras untuk menjinakkan mereka."
KAMU SEDANG MEMBACA
I Want U! (Tamat)
FantasyHidup milikku yang seharusnya sempurna pun berubah berantakan. Tunanganku memilih membela cewek lain, membuatku patah hati, dan aku pun memilih mengincar si pelakor. Cinta membutakan diriku hingga tidak melihat betapa buruk tunanganku sesungguhnya...
