Jajan, cek. Komik, cek. Air mineral, cek. Baterai ponsel full, cek. Koleksi novel digital, cek. Handuk, cek. Aku siap menghadapi sekian menit membosankan cuma demi menonton Randu. Pengorbanan besar perlu kulakukan. Tidak masalah. Asal nanti Randu jadi anak buahku, maka pembalasan dendam tinggal menunggu waktu. Sofia akan gigit jari, merasa patah hati, dan memutuskan lari. Hehehehe akan kunikmati festival kebahagiaan “menonton Sofia makah hati”.
“Duh senangnya,” senandungku terlampau riang.
Tinggal jalan santai menuju tempat latihan. Santai sekali jalanku seolah akulah yang punya sekolah. Kuabaikan siapa pun yang memandangiku. Aku cantik, menarik, luar biasa! Tidak mengagetkan bila ada yang naksir aku. Biasa! Mereka pasti memandangku dengan tatapan memuja sebagaimana manusia terpesona kepada Dewi Venus. Aku memang luar biasa.
“Kamu nggak bosen nguntit?!”
Kecuali satu, Tirta. Dia mengenakan kaus dan celana seragam. Tebak, tebak, tebaaaak. Dia pasti ikut tanding mewakili senior. Kebahagiaan dalam diriku tidak berkurang. Bukan karena Tirta, melainkan jajan di tasku. Ciko memberiku biskuit cokelat dan keripik kentang. Dia bilang ingat aku sewaktu mampir di kantin. Baik sekali anak buahku yang satu itu.
“Permisiiii,” selorohku sembari menunjuk arah menuju tempat latihan basket, “saya bertugas menjadi penyemangat. Anda jangan kepedean soalnya cowok di dunia ini ada buwanyak!”
Alis Tirta pun mulai bergerak mirip ulat bulu. Uget, uget, uget. Hmm kutampol sajalah.
“Aduh!” Tirta mengaduh kesakitan sembari menyentuh dahi. “Kamu gila, ya?”
“Enggak kok,” bantahku seraya cengengesan. “Anda punya alis kok lucu banget, sih. Mata saya jadi gatal, nih. Pengin nampar.”
“Kamu semenjak putus kok makin sinting, sih?” balas Tirta yang mukanya kini memerah seakan kena alergi. “Nggak usah besar kepala, Senja. Kamu nggak punya kesempatan apa pun. Sedari dulu aku nggak tertarik bertunangan denganmu.”
Widih gawat. Aku jadi tontonan gratis. Beberapa siswa mulai curi-curi pandang, bukan curi-curi hati, ke arahku. Beberapa tampak penasaran, sementara yang lain sibuk mengetik sesuatu di ponsel. Jangan sampai adegan sinetron kejar tayang ini tersebar ke seantero sekolah. Bisa hancur harga diriku.
“Udah deh, Kak,” ujarku ingin segera menyudahi adegan baku hantam secara verbal ini. “Aku nggak punya waktu buat ngeladenin halusinasimu. Oke, kita memang sudah putus. Asal tahu saja, ada banyak cowok cakep dan tajir dan pintar dan waras di luar sana. Buat apa aku sibuk ngejar cowok yang bahkan nggak bisa menaklukkan idola sekolah sekelas Dedek Sofia?” Aku pura-pura takut keceplosan. Lekas kututup bibir dengan jemariku. “Eh lupa. Nanti Kakak ikut latihan, ‘kan? Awasi dedeknya, ya? Takut digondol cowok lain yang jauuuuuuh lebih tampan.”
Wajah Tirta semakin memerah. Aku tidak tahu dia punya kebiasaan memukul cewek atau tidak, tapi yang jelas kalau dia beraniiiiii. Hmmm kalau dia berani, akan kupastikan kedua kakakku menghancurkan perusahaan keluarga Tirta! An eye for en eye!
“Sofia nggak seperti itu,” Tirta membela si putri malu ... malu-maluin! Dasar white lotus! “Dia baik, perhatian, dan nggak pernah mengutamakan kepentingan pribadi demi apa pun.”
Kuputar bola mata. Berhubung sirkuit otak milik Tirta sudah terkontaminasi virus Sofia, maka antivirus apa pun tidak akan berguna. Lebih baik copot saja otak dan ganti dengan baru. Alias, instal ulang!
“Kamu?” Tirta menunjukku. “Cuma tahu cara menyuapi ego. Kapan kamu pernah peduli dengan orang lain?”
“Eits,” serangku sembari memamerkan kedua telapak tanganku, “aku juga bisa nangis buat orang lain kok. Aku nangis sewaktu Chihiro pisah dari Haku, nangis juga pas nonton Autumn in My Heart, hmm aku juga nangis kok sewaktu Agumon pisah dengan temannya.”
KAMU SEDANG MEMBACA
I Want U! (Tamat)
FantasiHidup milikku yang seharusnya sempurna pun berubah berantakan. Tunanganku memilih membela cewek lain, membuatku patah hati, dan aku pun memilih mengincar si pelakor. Cinta membutakan diriku hingga tidak melihat betapa buruk tunanganku sesungguhnya...
