23

2.4K 383 2
                                        

NOTE: I WANT U EKSTRA EPISODE 3 SUDAH TERBIT DI KARYAKARSA. :”) Selamat membaca.

***

Reuni. Aku tidak terlalu bersemangat menyambut reuni. Malam ini rencananya ingin kuhabiskan dengan cara santai. Seperti biasa. Baca buku, nonton drama, dan mengomentari hal lucu di media sosial. Bukan seperti ini!

“Udah deh nggak usah ngambek,” bujuk Meli yang kini duduk manis di dekatku. “Nanti Randu diembat cewek lain, kamu nangis jelek.”

Siapa pun yang mengurus acara reuni pastilah punya otot kawat, tulang besi, otak encer, dan energi tanpa batas. Reuni diadakan di salah satu pusat hiburan malam yang terkenal, tidak bermaksud sombong, mahal dan elite.

Lihatlah kudapan dan minuman yang disajikan secara gratis. (Jangan tanya siapa yang bayar. Aku tidak tahu.) Mengundang DJ yang kata Ciko bayarannya bikin dompet sekarat. Konsep pelayang yang mengenakan kostum pahlawan. Aku sempat mengira bertemu tiruan Superman. Minus, dia tidak mengenakan celana merah ketat di luar pakaian.

Semua orang sibuk berjoget gila di lantai dansa. Mereka mengenakan pakaian yang menurutku perlu tambahan bahan. Sekalipun begitu, mereka tidak peduli dan sibuk menggoyang pinggul mengikuti irama musik. Tawa, candaan, lirikan genit. Ini konsep reuni mendekati ajang pencarian jodoh.

Beberapa anak berubah jadi orang dewasa dengan beban hidup. Ada yang sukses di bidang yang mereka minati. Ada yang mulai merintis dari bawah. Ada yang sibuk mencari pekerjaan baru. Adapula yang membuatku ingin mencekik mereka! Contoh, Sofia dan Tirta.

Siapa yang mencetuskan ide perlu menggabung sekian angkatan jadi satu? Siapa?! Aku tahu tempat yang kami singgahi luas, sekian tingkat, tapi mohon pertimbangkan dendam pribadi!

“Mana Ciko?” tanyaku sembari meraih segenggam keripik jagung.

“Dia ada di lantai atas,” jawab Meli yang kini mengetik sesuatu di ponsel, “akan kupanggil.”

Mataku masih terfokus kepada sosok Sofia yang kini dikelilingi cowok. Mereka sibuk tebar pesona, beradu ganteng, pamer aset. Sofia mirip setangkai lili merah muda yang dikerubungi lebah. Dia menunduk malu, melempar senyum, dan hanya menggeleng anggun.

Tirta? Dia, anehnya, tidak mendekati Sofia. Sebuah fenomena yang perlu kuteliti. Berdasar pengalaman pahit, yang tidak perlu terulang, seharusnya kali ini pun sama. Tirta bersama Sofia. Mereka akan pamer mengenai proyek film. Iya, proyek yang dibiayai Tirta demi membuat Sofia makin bersinar.

Akan tetapi, itu semua tidak terjadi. Tirta duduk manis bersama kenalannya. Dia minum dan tertawa. Terlalu normal.

“Mau balikan, ya?” sindir Meli. “Jangan ya, Dik. Dengarkan nasihat kakakmu yang seksi ini. Kak Tirta memang berubah jadi sedikit lebih dewasa. Sedikit, ya. Nggak ada jaminan otak dan jiwa masih waras. Coba ingat dulu? Kamu hampir saja dijadikan bubur encer. Apa enggak takut, Sayang?”

“Siapa yang mau balik?” sahutku dengan sewot. Kumasukkan bergenggam keripik jagung, mengunyah, menelan, dan berharap perutku cukup berbaik hati tidak membuatku mual. “Aku nggak suka di sini. Ngapain?”

“Kan nungguin Randu.”

Kali ini aku mengalihkan pandang. Lekas kurapatkan diri, mendekat, berharap tidak salah dengar. “Randu ikut?”

Meli mengangguk. “Aku tahu yang ngurus acara kok. Sekalian deh aku minta tolong buat menambahkan Randu ke daftar undangan. Kamu pikir semua orang bisa ke sini? Enggak, ya.”

“Kan gratis!”

“Enggak gratis, Sayang.” Meli menjitak pelan kepalaku. “Bayar kok. Yang bayarin jatahmu, kan, si Randu. Sekalian deh aku minta bayarin bagianku.”

Jahat sekali! Pantas saja Meli bersemangat mengajakku. Ternyata aku dijadikan sebagai alat tukar. “Kamu temanku, ‘kan?”

“Teman selamanya, tapi kalau ada urusan penting ya mohon maaf.”

Belum sempat aku menyerang Meli, dia langsung izin menjemput Ciko yang minta pertolongan. Katanya begini: “Si Ciko butuh bantuan. Dia kirim pesan gawat darurat. Katanya ada cewek yang berusaha merebut kesucian miliknya.”

Aku tidak punya kesempatan mencari tahu kebenaran pernyataan Meli. Dia lari secepat yang ia bisa, melawan arus, menghadapi kerumunan orang sinting. Tinggallah diriku sendiri berkawarn sepi-hmm makanan. Di meja ada makanan yang dipilih Meli. Jadi, aku fokus menyantap kue dan anggur hijau.

Sejauh ini Randu belum muncul. Aku semakin merasa salah kostum. Orang lain mengenakan pakaian seksi dan keren. Aku? Jins, kaus lengan panjang, dan sepatu tali warna putih. Kenapa? Ini semua gara-gara Antoni! Dia melarangku pergi ke reunian. “Senja, kamu pakai pakaian aman atau nggak usah pergi.” Sungguh konyol! Percuma baju seksiku. Tidak berguna. Teronggok di lemari.

Eh bisa kupakai nanti untuk merayu suamiku. Ahahahahahahaha!

Jemariku sibuk menyuapiku anggur hijau, mataku menatap ke keramaian. Lalu, kusadari ada bahaya mendekat.

Tirta yang kuduga tidak mau berurusan denganku ... si aneh itu. Dia berjalan ke arahku. Malam ini dia mengenakan jins, kaus, dan sesuatu yang mirip jas. Dia masih sama seperti dulu, menyebalkan.

“Kamu berani datang?”

“Hyafain fa fafang.” Mulutku sibuk mengunyah. Pengucapanku pun berantakan. Aku berniat bicara, “Ngapain nggak datang?” Namun, itu tidak perlu. Tirta pastilah sibuk mencari lawan.

Jangan harap aku menawarkan tempat duduk. Tidak sudi!

“Papa bilang kamu sekarang fokus main di internet.”

Aku tidak main! Aku kerja!

Lekas kutelan makanan dan memberi Tirta tatapan memperingatkan. “Mau jilat ludah, nih?” sindirku terang-terangan. “Udah nggak bisa. Nggak ada acara romantis ala drama percintaan yang Mama suka. Nggak ada. Kamu? Jangan berani duduk di sini. Selain Meli, Ciko, dan ayangku-eiy? Nggak usah pasang senyum menghina. Kamu nggak salah dengar. Selain mereka yang duduk di dekatku pantatnya bakal kena bisul menahun.”

Hehe aku pandai menggonggong. Sekarang saatnya  guk guk guk!

“Lain kali mampir ke rumah.”

Seluruh bulu halus di tubuhku pun menegak. Hawa dingin membuat kulitku merinding. Selama beberapa detik mulutku terkatup. Segala bising lenyap. Tinggal sunyi.

Kelembutan yang diperlihatkan Tirta membuatku mual. Hal yang dulu kuharapkan, sampai mengemis, kini terjadi. Namun, jantungku tidak berdebar layaknya orang dimabuk asmara. Justru rasa jijik dan marah mendominasi diriku. Tidak ada pertanyaan mengenai kenapa dan mengapa. Aku tidak peduli. Tirta hanya bagian dari masa lalu. Tidak perlu kukejar.

“Nggak,” aku menolak. “Kak Tirta, saat kubilang usai itu artinya nggak ada kata kesempatan kedua. Aku nggak pengin terkait hubungan apa pun, bahkan denganmu. Dulu Kakak sendiri yang ngomong nggak suka perhatianku. Kata-kata jahatmu masih terekam jelas di ingatan. Semua itu membuatku sadar bahwa kamu nggak layak kuperjuangkan.”

“Bicara masa lalu,” ucapnya sembari tersenyum ... jenis senyum yang bagiku lebih mirip ular. “Artinya, kamu masih punya tempat spesial buat aku, ‘kan?”

“Kalau ini candaan, jatuhnya pelecehan harga diri buatku. Kak, udah deh. Kejar Sofia. Dia di sana,” aku menunjuk Sofia yang kini-HELL BERANINYA DIA MENDEKATI RANDU? Lekas aku bangkit, mengabaikan Tirta, dan lari ke anak buahku yang bisa saja dimakan siluman ular.

***
Ciko: “Tolooooonng!”
Meli: “Udah pergi kali ceweknya.”
Ciko: “Kamu nggak ngerti! Aku hampir kehilangan kesucianku!”
Meli: “...”
Ciko: “Kenapa ada cewek agresif beginiiiiiiii?”

***
Selesai ditulis pada 20 Desember 2024.

***
Terima kasih telah meluangkan waktu menengok Senja. Hihihihi. Makasih juga nggak keberatan baca tulisan remeh begini. Hihi. Di sini saya penginnya nulis untuk menghibur diri sendiri dan semua orang.

Semoga kalian selalu diberi kebahagiaan, keselamatan, kemakmuran, dan banyak rezeki serta cinta.

Salam sayang untuk kalian semua teman-teman.

P.S: Jangan lupa minum air putih secukupnya agar terhindar dari dehidrasi.

I Want U! (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang