Jangan berani menantang seseorang yang tidak punya rasa takut. Contoh, Randu. Kupikir dia akan mundur, menganggapku gila, dan tidak memedulikan tantangan dariku mengenai “satu hari, satu buku”. Aku hanya bisa melongo setiap kali mendapat kiriman paket berisi buku. Mama pernah keceplosan menyuarakan pikirannya kepadaku. “Pacarmu, ya?” Tentu saja dia bertanya sambil lalu, begitu saja dan fokus nonton drama televisi.
Puncak acara, letupan kesintinganku, aku bicara lantang kepada Randu melalui telepon. “Kalau berani, sini main ke rumah! Aku tunggu!”
Dasar diriku. Bodoh sekali. Terlalu bodoh.
Randu datang bertamu. Aku belum memberinya alamat rumahku, tapi dia tidak kesulitan menemukanku.
“Ciko yang ngasih tahu,” begitulah katanya kepadaku. Dengan percaya diri melenggangkan kaki, masuk, dan memberi mamaku senyum sopan nan memikat.
Kebetulan Mama pada sore ini sedang di rumah. Dia melirik penuh arti kepadaku, memberiku cengiran konyol, dan berkata kepada Randu, “Temannya Senja, ya? Kok Tante baru lihat?”
Teman? Astaga mamaku! Ya iyalah dia temanku. Mana mungkin teman Antoni atau Imelda. Jelas-jelas aku yang mempersilakan Randu masuk. Ini menjengkelkan sekali. Rasanya ada seseorang yang hendak merampok mamaku dariku.
“Teman, Tante,” kata Randu dengan nada suara yang di telingaku terdengar seperti ... ancaman. Apa aku salah omong?
Mama pun langsung menepuk pelan lengan Randu. Dia bahkan cekikikan lucu begitu mirip kuntilanak hendak menyebarkan aib seseorang. “Jarang lho Senja kedatangan tamu cowok. Paling si Ciko. Biasalah Senja. Tante sampai takut, waswas gitu, kalau Senja nggak suka cowok.”
Aku suka cowok! Sangat suka! Aku sanggup menyebutkan semua nama cowok kesukaanku. Mulai dari abjad berawalan A hingga Z. Hanya saja semua cowok itu hanya nyata di kertas, di game, dan di imajinasiku. Kami terpisah jauh sekali. Beda dunia. Beda dimensi. Beda segalanya.
“Iyakah, Tante?” Randu mulai menanggapi Mama secara antusias, sama sekali tidak peduli dengan colekanku di perutnya. Apa dia tidak bisa geli? “Saya baru tahu.”
“Ngobrolnya ke dapur saja, ya? Tante berhasil membuat kue kesukaan Imelda. Rencananya mau Tante ajak sekalian, sih, dua kakaknya Senja. Mau ketemu?”
“Kalau nggak keberatan.”
“...”
Siapa aku? Aku siapa? Mengapa tidak ada satu pun di antara kedua manusia ini yang peduli kepadaku? Kenapa?!
Aku pura-pura batuk. Bahkan kali ini kucolek perut Randu sampai dia sadar. Sayang tidak sadar juga! “Ma, kenapa nawarin Randu kue? Dia cuma mampir sebentar.” Segera kudorong Randu menuju ruang tamu. Mama tertawa dan berkali-kali menggodaku dengan ucapan sadis.
“Mama kasih kabar ke kakakmu, ya?”
Mamaku tidak bersikap selayaknya mama pada umumnya! Dia membuatku mirip monyet. Keterlaluan!
Akhirnya aku berhasil memisahkan Mama dan Randu. Kami berdua, aku dan Randu, duduk manis. Di ruang tamu sudah terhidang minuman dan kudapan, cocok untuk dua manusia yang hendak melakukan diskusi panjang. Sangat panjang dan menguras otak.
“Berapa harga kangkung seikat di pasar?” tanyaku sebagai pembuka topik pembicaraan. Kuraih toples berisi kue kering rasa cokelat. Aku bahkan tidak perlu menawari Randu. Dia bisa minum sendiri.
Salah satu alis Randu terangkat. Dia memberiku senyuman yang artinya, kuasumsikan, mempertanyakan kewarasanku.
“Randu, aku masih nggak terima kamu tinggal begitu saja.” Aku mengambil sekeping kue kering dan memakannya. Setelah menelan, barulah kulanjutkan. “Persis kekasih yang dicampakkan pasangannya. Tragis.”
KAMU SEDANG MEMBACA
I Want U! (Tamat)
FantasyHidup milikku yang seharusnya sempurna pun berubah berantakan. Tunanganku memilih membela cewek lain, membuatku patah hati, dan aku pun memilih mengincar si pelakor. Cinta membutakan diriku hingga tidak melihat betapa buruk tunanganku sesungguhnya...
