Kacau! Kupikir adegan "tiba-tiba" yang sering kubaca di buku sekadar kebetulan belaka. Iya, kebetulan. Alias, belum tentu terjadi kepadaku. Sekarang kutarik semua omonganku mengenai kebetulan. Maaf, aku yang salah! Aku!
"Eh, Kakak," ucapku dengan segenap kekuatan seorang adik manis, "dia Randu." Aku menunjuk Randu dengan sikutku. Terjemahan, aku menyikut Randu. "Teman sekelas. Dulu, sih. Dulu."
Antoni menatap Randu persis pembeli sedang menilai barang dagangan. Dari ujung kaki ke ujung kepala. Lalu, ia memicingkan mata. Mungkin mengecek tanganku jelalatan atau tidak. Lekas ia meraih keranjang yang sedang dibawa Randu. Dia mengangguk singkat, seakan ... puas? Reaksi macam apa itu?
"Kak?"
"Senja, kemari."
Tidak baik melawan saran, garis miring, perintah seorang kakak. Maka, dengan gaya maling ketangkap basah aku pun melipir ke samping Antoni. Sempat aku menengok Randu, mengecek reaksinya, dan....
... aku menyesal.
Randu tidak terlihat sedih melihatku tidak berdaya. Dia justru tersenyum seakan perbuatanku itu lucu sekali. Ingin kutendang dia andai tidak sadar situasi. Mungkin tidak sekarang, tapi nanti. Akan kucari kesempatan membalas perbuatan Randu. Tunggu saja.
"Keranjang," tunjuk Antoni kepada keranjang yang dibawa Randu.
Jangan harap Randu melawan dan berteriak, "Tidak! Aku akan membayar belanjaan tuanku, Senja!" Hahaha tidak ada tuh. Dia santai-santai saja menyerahkan keranjang belanja keduaku kepada Antoni. Anehnya, Antoni bisa tahu itu belanjaan milikku.
"Kalau ingin dekati adikku," Antoni memperingatkan, "izin dahulu ke kakaknya!"
"Maaf," kata Randu yang masih saja bisa bersikap tenang. "Jadi, boleh ketemu Senja?"
Sekali lagi Antoni memberi tatapan menilai. Kadang aku curiga. Curiga besar. Jangan-jangan calon suamiku nanti akan menerima ujian berat dari iparnya. Kasihan sekali. "Buat apa?"
"..." Ingin kudorong diriku sendiri ke tepi jurang!
Tidak ada gunanya bertahan lebih lama di sini. Bisa malu aku! "Kak, pulang. Ayoooo."
Antoni tidak menolak keinginanku. Dia bersedia ke kasir, membayar seluruh belanjaan sekalugus membantuku ... errr membawa kotak kardus berisi buku. Begitu kami berada dalam mobil dan dalam perjalanan pulang, Antoni kumat. Dia mulai mengomel dan memberiku wejangan.
"Senja, sekali lihat Kakak tahu kalau dia bukan cowok sembarangan. Kamu nggak usah sok ngide pengin ngakal yang konyol."
"Aku nggak punya ide konyol kok," bantahku kesulitan memberanikan diri menghadapi kenyataan. Iya, aku ingin Randu jadi anak buahku! Kan lumayan bisa memanasi Sofia.
"Nggak usah bohong. Tumben kamu mau berinteraksi dengan cowok? Setahuku cowok yang bakalan kamu temani sampai mulut berbusa cuma satu, Ciko. Itu pun karena kamu ngincar makanan."
"..." Aku terluka lho.
Kugaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. "Kak, sumpah nggak ada ide buruk kok. Lagi pula, aku dan Ciko memang teman baik. Wajar kalau nyaman berada di dekatnya. Sama seperti Randu."
"Iya?" Antoni mulai memojokkanku dengan sejumlah fakta. "Kenapa kamu kabur sewaktu ada teman sepupumu yang mau kenalan, padahal dia model? Mengapa juga kamu milih ngumpet di dapur ketika ada teman kakakmu, Imelda, yang minta kenalan?"
"Karena terlalu ganteng dan aku nggak mau diterkam cewek yang ngincar mereka."
"..." Antoni sepertinya ingin mencuci rambutku.
"Serius, Kak. Aku takut jadi samsak sosial."
"Sama Randu nggak takut?"
Pertanyaan berulang ini akan membuatku sakit hati. Hiks.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Want U! (Tamat)
FantasíaHidup milikku yang seharusnya sempurna pun berubah berantakan. Tunanganku memilih membela cewek lain, membuatku patah hati, dan aku pun memilih mengincar si pelakor. Cinta membutakan diriku hingga tidak melihat betapa buruk tunanganku sesungguhnya...
