NOTE: Nggak jadi libur! Saya dapat semangat nulis again! (Nangis.)
***
“Randu, kamu terlalu to the point. Jujur saja aku takut dengan ... errr kejujuranmu.” Sebelum Randu mendebat, lekas kudahului start. “Kita nggak hidup di fiksi. Sebuah dunia yang diatur seseorang dengan bermacam konflik. Aku dan kamu dua manusia dewasa, nyata. Terus terang saja, aku nggak mau terburu-buru menerimamu. Ini bukan perkara kamu nggak masuk kriteriaku atau gimana. Enggak lho.”
Sejenak Randu mengamatiku dengan tatapan menyelidik. Tidak ada satu pun riak emosi, setidaknya yang mengerikan, terlukis di wajahnya. Dia mirip seseorang yang sedang mempelajari sesuatu. “Oke.”
Aku mengerjap. Baru kali ini kutemukan cowok yang langsung mundur begitu mendapat kata tidak.
“Ngerti,” katanya sembari menggosok dagu, “kamu pantas curiga. Kita berdua berpisah cukup lama. Kamu belum mengenal kebiasaan dan kepribadianku sejauh ini. Kuanggap tindakanmu sebagai bentuk kehati-hatian.”
Cerdas! Kuembuskan napas penuh kelegaan. Tak sadar bahwa sedari tadi aku menahan diri. “Benar sekali. Aku nggak mengenalmu dengan baik. Ciko doang yang kukenal dengan baik.”
“Kalau dia ngelamar kamu,” Randu membuat pengandaian, “langsung kamu terima?”
“Kok bawa-bawa Ciko, sih?” gerutuku mengomeli tuduhan Randu. “Ya enggak mungkin dia melamarku! Ciko gitu lho! Dia sibuk masak, kerja, dan entah berapa kali aku meminjamkan telinga kepada mamanya Ciko sebagai pendengar yang baik. Randu, jangan seret Ciko.”
Randu melengkungkan senyum jenaka. “Nggak kok. Aku ngerti.”
“Pintar,” pujiku, senang.
“Nggak masalah, ya, kalau aku lobi kamu lewat orangtua dan kakakmu?”
HEBAT! Ini yang kusebut sebagai membuat pintu baru ketika tidak ada pintu terbuka. Alias, suka-suka dia.
Kuamati Randu, berusaha mencari tahu setan yang meungkin menempelinya. Dia ini bekerja terlalu efektif. Alamatku tinggal minta si pengkhianat Chiko dan Meli, kegiatanku mudah terpantau karena zaman sekarang apa pun tayang di media internet. Gampang!
Senyum sombong pun mekar di bibirku. “Kamu berani?” tantangku, percaya diri. “Silakan saja deh. Kamu coba lobi orangtua dan kakakku. Kalau kamu berhasil mengambil hati mereka, kuanggap kamu memang serius.”
“Dari tadi pun serius, kamunya saja yang nggak cerdas.”
“...”
Tidak boleh mengumpat. Tidak boleh, tapi hasrat dalam diri ini begitu liar. Ingin aku meneriakkan kata keji, tetapi kuurungkan niat. Semua demi keselamatan nyawaku. Lagi pula, aku tidak yakin Randu sehebat itu dalam berbagai hal. Antoni dan Imelda cukup keras. Mereka jarang bisa terbujuk rayuan.
“Selamat berusaha, ya?” Aku mengepalkan tangan kanan dan memberi Randu senyum sinting. “Coba saja rayu keluargaku.”
Hahaha memangnya gampang? Tidak mungkin!
***
Janjiku menghadiahi pemenang buku cukup membuatku lelah. Kegiatan membungkus sungguh tidak tepat diserahkan kepadaku. Aku tidak memiliki tangan seni. Bila orang lain bisa membungkus dengan rapi, tidak meleyot lemas, maka punyaku akan mirip karya dari neraka. Berantakan.
Tidak ingin membuat diri sendiri terlihat menyedihkan dan dianggap tidak menghargai penerima, maka aku meminta bantuan asisten. Mereka menolongku membungkus beberapa buku. Sungguh indah hasil karya mereka. Jauuuuuh lebih bagus daripada milikku.
Aku tidak perlu pergi ke kantor pengiriman barang. Tinggal hubungi jasa kirim, maka mereka akan mengirimkan petugas. Semua paketku dibawa petugas yang memberiku nomor resi semua barang. Sekarang aku bisa bernapas dengan lega.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Want U! (Tamat)
FantasíaHidup milikku yang seharusnya sempurna pun berubah berantakan. Tunanganku memilih membela cewek lain, membuatku patah hati, dan aku pun memilih mengincar si pelakor. Cinta membutakan diriku hingga tidak melihat betapa buruk tunanganku sesungguhnya...
