Kegiatan sekolah tidak ada yang menarik. Belajar, pekerjaan rumah, diskusi, debat kusir tiada akhir, pergi ke kantin, dan mengamati sejumlah cowok berusaha cari perhatian kepada Sofia. Aku tidak terkejut, sih. Kudengar dari Meli, konon katanya, Sofia mendapatkan kesempatan menjadi bintang iklan produk makanan yang cukup terkenal. Bila orang lain bersedia sedikit lebih teliti, maka mereka akan mengendus aroma kejanggalan (ada yang amis, nih).
Sayang sekali tidak ada orang peduli dengan hal semacam itu. Mereka hanya tahu bahwa Sofia hebat. Aku bisa memecahkan kode misteri semacam itu pun berkat bantuan dari masa lalu. Masih jelas dalam ingatanku bahwa orang yang bertanggung jawab sebagai bintang iklan produk tersebut ialah, seorang cewek manis dari kota sebelah. Dia, bukan Sofia.
Ini artinya Sofia sudah selangkah lebih canggih daripada dirinya di masa lalu. Efek perubahan yang kulakukan ternyata berdampak kepada sekitarku dengan cara yang tidak kusangka.
Yaaah itu tidak penting. Sofia bebas menjadi apa pun yang ia kehendaki. Aku hanya ingin melihatnya cemburu. CEMBURU BESAR. Minimal dia sedikit mencicipi keresahan dan ketidakberdayaanku ketika jatuh cinta bertepuk sebelah tangan. Sakitnya luar biasa tidak terjelaskan. Pantas saja ada orang tewas gara-gara cinta. Pantas saja!
Bicara mengenai masa SMA, Randu rajin latihan. Sofia pun rajin menengok Randu. Tirta semakin rajin memerankan karakter utama salah tempat. Mereka bertiga definisi gala SMA dengan bumbu romansa. Sebagai penonton, aku tidak merasa terhibur terlebih saat Tirta sering menjadikanku sebagai tersangka.
Terhitung satu bulan lebih aku melewati masa dramatis. Randu juga tidak melonggarkan kekurangajarannya kepadaku. Dia semakin berani secara terang-terangan mendekatiku, entah apa pun motifnya, seolah kami ini sangat akrab. Hal yang membuat Sofia kebakaran jenggot. Eh ganti deh, kebakaran BH. Sofia sering memberiku tatapan terluka seakan akulah yang bersalah, berani merebut Randu dari dekapannya.
Untung aku senior, kalau tidak.... Duh teman-teman Sofia pasti bersemangat memberiku nasihat. Jadi orang berduit, senior, dan VIP memang ada untungnya, ya.
Singkat cerita tibalah pertandingan. Sebuah pertandingan yang tidak menghadiahkan apa pun selain keringat, capek, dan kepuasan. Angkatan kami berperang melawan kakak kelas. Tirta jelas mirip gorila birahi. Dia tidak tanggung-tanggung mengincar Randu. Beberapa kali aku menangkap basah Tirta berusaha menyerang perut ataupun dagu Randu, serangan yang selalu bisa ditangkis Randu.
“...” Dia makan apa, sih?
“Wah ada bau mesiu kebakar, nih,” seloroh Meli yang duduk di sampingku.
Kami, aku dan Meli, duduk manis bersama sejumlah anak seangkatanku. Ada yang memberi teriakan penyemangat, berteriak dengan suara melengking, dan adapula yang sibuk jadi seksi dokumentasi dadakan. Sungguh masa mudah berapi-api.
“Kak Tirta kok kompetitif banget, sih?” Meli menunjuk Tirta yang kini berhasil merebut bola. Dia berusaha masuk ke zona lawan, tapi mendapat hadangan dari rekan Randu. “Seolah kalau sampai kalah, dia bakal kehilangan segalanya. Seram. Asli. Kok bisa, sih, kamu dulu kepikiran mau jadi tunangan cowok kaya gitu?”
Hatiku tersentil. Sakit! “Ya jelas jiwa bersaingnya bergolara lah. Orang dia sedang berusaha membuktikan diri sebagai kesatria jantan.”
Meli mencolek pipiku. “Nggak cemburu, ‘kan?”
“Enggak,” jawabku sembari terkikik, “masa lalu kelam. Nggak perlu diungkit lebih dalam soalnya jadi malu. Aku yang malu sampai pengin ngegali lubang. Sembunyi.”
Aku memperhatikan bangku yang diduduki kelompok Sofia. Mereka, para cewek junior, tersipu malu. Jangan tanya alasannya, aku pun tidak tahu. Pokoknya wajah mereka merah lucu gitu. Mungkin karena kepanasan, atau kegerahan, atau butuh minum.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Want U! (Tamat)
FantasyHidup milikku yang seharusnya sempurna pun berubah berantakan. Tunanganku memilih membela cewek lain, membuatku patah hati, dan aku pun memilih mengincar si pelakor. Cinta membutakan diriku hingga tidak melihat betapa buruk tunanganku sesungguhnya...
