NOTE: I WANT U EKSTRA EPISODE 4 SUDAH TERBIT DI KARYAKARSA. Selamat membaca.
***
Reuni ternyata memang tidak cocok untukku. Tiada satu pun kegiatan berarti bagiku. Mayoritas kuhabiskan bersama Randu. Itu pun aku yang minta pamit pulang duluan. Alih-alih bertahan di sana, Randu memilih menyusulku. “Kuantar!” katanya kepadaku dengan suara mendesak.
Aku tidak perlu menolak ajakan Randu. Lagi pula, aku lebih takut dikuntit Tirta daripada ketemu setan. Sejauh ini dia terlihat ada niatan ingin memulai pendekatan denganku. Bila tidak ada Randu di dekatku, sudah pasti Tirta akan memaksa duduk semeja denganku lagi. Itu kemungkinan mengerikan dan aku ogah membayangkan.
Di dalam mobil milik Randu segalanya terasa sedikit lebih tenang.
“Kamu seperti lilin tahu enggak, sih?” Aku memilih memecahkan keheningan. “Menarik banyak ngengat. Sulit banget buat nolak pesonamu, ya?”
Ujung bibir Randu melengkungkan senyum. Dia sedikit menggeleng, tatapan mata tetap fokus ke jalanan. “Aku sehebat itu?”
“Iya,” aku mengakui fakta mengenai Randu, “dari tadi nggak kehitung ada berapa banyak orang yang berusaha mendekatimu? Banyak, ‘kan? Mereka semua pengin dekat denganmu, pengin ngobrol, dan nggak ada satu pun yang tertarik kepadaku ... hmmm benar juga.”
“Jadi, kamu sedang cemburu?”
“Sedang berkontemplasi,” koreksiku. Aku mengetuk dagu dengan jari telunjuk, berusaha berpikir tenang. “Manusia makhluk yang kompleks. Pelik. Andai bukan karena keberuntunganku terlahir di keluarga sehangat Herlambang, pasti hidupku nggak mudah.”
Kuregangkan tangan, melemaskan otot, dan melempar senyum kepada Randu yang ada di sampingku. “Ini keuntungan,” lanjutku dengan nada suara sedikit sedih, “orang lain belum tentu sebaik hidupku. Coba kamu bayangkan ya, Randu. Semisal aku lahir di keluarga lain, bisa saja aku dibandingkan dengan saudaraku yang lain, atau paling buruk: disuruh cari uang demi menyokong ekonomi keluarga.”
Jantungku berdebar kencang setiap kali teringat dengan betapa tidak beruntungnya nasib beberapa orang perempuan di luar sana.
“Randu, aku beruntung karena orangtua dan kakak-kakakku amat menyayangiku. Mereka nggak menuntut diriku menjadi sesuatu yang bukan untukku. Mereka juga nggak menganggapku sebagai ATM berjalan. Bahkan mereka memberi segalanya tanpa perlu kuminta. Di luar sana ada banyak anak perempuan yang harus membunuh seluruh mimpinya demi menghidupi keluarga. Adapula anak perempuan yang terpaksa menikah dengan pria yang ditunjuk keluarganya karena masalah ekonomi. Ada banyak cita-cita yang terkubur bahkan sebelum tumbuh sempurna.”
“Kenapa mendadak kamu ingin diskusi ini?”
Sejenak aku tidak langsung memberi Randu jawaban.
Ya, mengapa aku tiba-tiba teringat hal-hal yang pahit? Bagian dari masa laluku sebelum menjadi Senja. Barangkali karena melihat pekerja di tempat reuni. Mereka kelihatan begitu lelah dan berusaha tampak bugar sekalipun kutebak energi mereka menipis.
“Karena aku pengin tahu isi kepala calon suamiku,” sahutku, ringan. Kutampilkan dua ibu jari, menggoyangnya ke kanan dan kiri. “Menikah nggak langsung ada jaminan hidup bahagia, ‘kan?” Kuistirahatkan tanganku di pangkuan. “Aku pengin tahu lebih jauh mengenai kamu. Semuanya. Itu termasuk caramu memandang dunia. Jangan sampai aku tahu belangmu setelah menikah, ya? Nggak enak banget.”
Randu tertawa. Berhubung lampu di jalan mulai menampilkan warna kuning menuju merah, dia pun memelankan laju mobil dan berhenti tepat di belakang truk barang.
“Boleh,” katanya dengan penuh percaya diri, “kamu boleh tahu apa pun mengenaiku. Asal pernikahannya bisa dipercepat, ya?”
Aku pun mendengkus. Segera kupamerkan ekspresi galak di depan Randu. “Nggak bisa, ya. Harus izin kakak dan orangtuaku dulu. Kalau kamu berhasil meyakinkan mereka, itu artinya kamu aman bagiku.”
“Senja, kakak perempuanmu cukup keras kepala. Dia berusaha mengusik hidupku. Terus terang aku yakin dia nggak suka melihatmu menikah dengan siapa pun. Bukan karena dia iri, melainkan dia nggak yakin ada cowok baik untukmu sesuai standar miliknya.”
Lampu lalu lintas perlahan berubah warna menjadi hijau. Randu kembali melajukan mobil, menyalip sebuah motor.
“Karena menemukan cowok sebaik Papa sangat sulit,” ujarku dengan nada lesu. “Kamu tahu, enggak? Papa nggak merokok. Dia nggak suka rokok sama sekali. Selain itu, Papa juga berusaha meluangkan waktu menemani kami. Sesibuk apa pun dirinya, saat ada acara penting di keluarga, ia pasti ikut.”
Senyum bahagia pun terkembang di bibirku kala mengingat masa lalu. “Papa bahkan nggak keberatan aku bedakin lho,” akhirnya aku mengaku dosa. “Dia mau. Padahal hasilnya juga mirip badut nggak profesional. Mencong kanan kiri.”
“Aku pastikan anakku juga dapat perhatian sama baiknya,” Randu menjanjikan sesuatu yang bahkan tidak bisa kupahami.
“Apa kamu siap dengan kebiasaan burukku?” tantangku. “Aku yakin kamu nggak punya kebiasaan buruk banget, sih.”
“Kata siapa? Aku punya kok. Kerja.”
Ingin kutabok Randu. Kerja bukan termasuk kebiasaan buruk versiku! “Apa kamu suka ngupil terus nempelin upilnya ke dinding?”
Randu meringis jijik. “Itu tindakan nggak bermoral.”
“...”
Oh aku menemukan sesuatu yang lain dari Randu.
Luar biasa aneh!
“Ayolah,” bujukku berusaha meredakan kecanggungan dalam diriku. “Kenapa kamu pengin nikah? Apa segitu terdesaknya kamu? Aku nggak yakin kamu pengin nikah gara-gara alasan romantis.”
“Sudah kubilang, ‘kan? Senja, aku memang dididik cukup keras oleh papaku. Saat aku suka seseorang, ya dialah yang akan kujadikan sebagai tujuan akhir. Aku nggak butuh pengenalan lebih jauh karena....” Jeda sejenak. Dia tersenyum nakal seakan menemukan sesuatu yang lucu. “Lagi pula, aku sudah kebal dengan kebiasaan burukmu dulu kok. Kamu hobi nimbrung tanpa diundang, sok dekat, kadang bikin merinding dalam artian nggak menggemaskan.”
“...” Tolong beri aku kekuatan.
“Terus kamu setia kawan,” lanjutnya sembari terkekeh. “Aku suka kualitasmu yang satu itu. Kamu berani maju sekalipun belum tentu menang. Paling sainganku cuma cowok di buku koleksimu, ‘kan?”
Aku berdeham dan pura-pura masih punya harga diri. “Mereka adalah saingan berat.”
“Sayangnya mereka nggak bisa melayanimu, ‘kan?”
Me-melayani? Apa? Gimana? Siapa?
“Aku bisa ngasih semua buku incaranmu.”
Ooooh itu. Hampir saja otakku jalan-jalan ke tempat kotor. “Dih percaya diri sekali kamu? Kalau itu kakakku juga bisa dong. Meli sering banget ngasih buku. Oh Ciko! Dia juga! Ciko tuh paling rajin ngasih komik dan buku apa pun yang ia temui sewaktu jalan-jalan. Katanya sayang kalau nggak dibeliin. Tuh, ‘kaaaan! Dia juga bisa jadi kandidat suami idaman!”
“...”
“Selain itu Ciko sering masakin aku,” lanjutku dengan penuh semangat. “Enak banget. Jago dia tuh. Perutku kenyang makan masakan Ciko. Udah baik, sabar, lucu, jago masak, ramah, hmmm dia borong semua yang bagus. Terutama, dia tahu buku yang sering kuincar. Hihihi baik banget.”
Ciko memang baik. Sungguh beruntung aku punya teman sebaik Ciko. Sangat beruntung.
***
Randu: :)
Ciko: “Enggak gitu, ya! Sumpah! Sumpaaaah!”
Randu: “Kamu jujur saja, ya. Mau jadi saingan?”
Ciko: “Enggaaaaaak!”
***
Selesai ditulis pada 23 Desember 2024.
***
:”( Kembung. Perut saya nggak enak banget rasanya malam ini. Sepertinya saya salah makan deh.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Want U! (Tamat)
FantasyHidup milikku yang seharusnya sempurna pun berubah berantakan. Tunanganku memilih membela cewek lain, membuatku patah hati, dan aku pun memilih mengincar si pelakor. Cinta membutakan diriku hingga tidak melihat betapa buruk tunanganku sesungguhnya...
