"Aslinya kamu marah karena kecewa nggak dianggap penting oleh Randu, 'kan?" Meli tergelak, memberiku cengiran mengejek seolah menyatakan bahwa dia tahu sesuatu yang bahkan aku pun tidak sadari. "Makanya, kamu sakit hati."
Sejenak kupandangi lantai yang memiliki pola hati warna merah jambu. Selama sedetik kuharap salah satu hati merupakan pintu menuju sarang kelinci putih pembawa jam saku. Kelinci yang akan berteriak, "Aku terlambat! Aku terlambat!" Makhluk mungil bermata merah yang akan menemui si pembuat topi, menghabiskan sore dengan secangkir teh, dan memulai kegilaan.
Apa benar yang Meli nyatakan tadi? Bahwa aku sakit hati gara-gara tidak dianggap penting oleh Randu? Namun, sebelum mempertanyakan hal semacam itu, alangkah baiknya mencari tahu posisiku dalam hubungan kami. Antara aku dan Randu.
"Masa, sih?"
Aku mengabaikan perengutan Meli yang mengindikasikan bahwa diriku sedang melakukan penyangkalan.
"Gini, ya? Dengarkan baik-baik." Sebelum memberi penjelasan, yang tidak kupahami fungsi dan tujuannya, aku menghela napas supaya dadaku terasa sedikit lebih baik. Tidak sesak. Tidak terbebani. Bebas. "Mau bagaimanapun kita semua, kan, teman. Wajar dong merasa memiliki ikatan? Si Randu nggak ada permisi sama sekali, kabur gitu saja, muncul kembali di layar televisi-"
"Tuh, 'kan!" seru Meli terlampau bersemangat. Dia bahkan rela mengabaikan kucing dan memilih menyerbuku. "Kamu ngaku nggak ngikutin Randu, ternyata yaaaaa! Diam-diam kamu baca dan nonton sepak terjang Tuan Randu. Duh cinta monyet dari zaman SMA masih belum padam. Udahlah, Senja, kamu deketin lagi saja. Toh bukan sesuatu yang sulit, 'kan? Kamu punya kakak yang bisa diandalkan. Bagimu ada seribu jalan terbentang menuju Randu. Cukup maju, maju dan jangan takut kalah."
"Ih apaan, sih. Oke, aku ngikutin beritanya. Cuma nggak kepikiran sampai segitunya, Mel!"
Meli memberiku gelengan emak-emak yang lelah menyaksikan ketololan putrinya. Dia meraih ponsel dari dalam tas yang kuduga harganya setara dengan satu sepeda motor keluaran terbaru. Selama sekian detik dia fokus menggulir layar, sibuk komat-kamit baca mantra, lalu memamerkan kepadaku laman yang memberitakan mengenai seseorang yang sepak terjangnya sudah kulupakan.
"Masih ingat Dedek Sofia?" gurau Meli sembari menaikturunkan alis. "Sekarang dia jadi bintang film yang lumayan mahal lho."
Ingin kujambak Meli, tapi kutahan. Aku takut aksiku terekam CCTV kemudian disebarkan di internet dengan judul "Wanita Cantik Mengamuk di Kafe". "Terus?"
"Dengar-dengar dia sering diundang ke acara milik VIP gitu."
"Nggak usah panjang-panjang pengenalannya," protesku tidak sabaran. "Kenapa?"
"Aku pernah ke salah satu acara," Meli mengaku. "Di sana ada Sofia dan Randu."
JLEB. Aduh rasa sakit macam apa ini? Sontak tanganku menyentuh dada, mengecek ada luka di sana atau tidak sebab sedari tadi rasanya perih dan sakit. Ini tidak benar! Harusnya aku tidak merasa seperti pecundang begini!
"Senja, Randu semakin panas banget, ya? Ibarat makanan, banyak banget semut yang nempel."
"Oh gitu?"
"Di luar sok tenang, padahal aslinya kebakaran," Meli menyindirku. Dia memasukkan ponsel kembali ke tas dan kini memberiku tatapan menghakimi. "Sejauh ini Sofia belum berhasil merebut hatinya Randu. Dia diperlakukan sama seperti cewek lainnya. Biasa saja. Aku bisa yakin begini karena melihat dengan mata kepala sendiri, bukan lewat perantara. Asal kamu tahu, ya, aku nggak sekadar jadi pengamat. Demi kamu, temanku yang tsundere nggak ketolongan, kuberanikan diri menyapa Randu."
"Aku nggak tsundere."
Meli mengibaskan tangan dengan gaya anggun, menolak pembelaanku. "Intinya, aku nyapa si Randu. Udah siap, sih, andai dia nggak mau ngakuin aku sebagai teman. Untung itu nggak terjadi. Dia masih ingat dan enak banget diajak ngobrol. Ada kali aku mancing mengenai ini. 'Eh kamu masih ingat Senja, enggak?' Dia cuma kasih senyum profesional, nggak komentar, nggak ceramah, nggak kasih bintang satu ke kamu. Nihil."
"Pengin kugosok deh mulutmu."
"Boleh," Meli menyanggupi, "tapi, pakai kue buatan Ciko, ya? Katanya dia berencana buat resep baru. Ayolah kapan-kapan main ke sana."
Sahabat macam apa yang menari di atas penderitaanku? Aku sedang gundah gulana karena hal yang remeh! Pecundang sekali diriku! Memangnya aku tidak punya kegiatan produktif selain mempertanyakan alasan Randu tidak menghubungiku? Dih!
"Eh aku punya nomor kontak si Randu," Meli menawarkan, "mau?"
"Ogah!"
Meli mengangguk. "Paham, sih, makanya aku kasih nomormu ke Randu."
"..."
Temanku berani menyeberang ke kubu musuh. Aku kesulitan mempercayai siapa pun termasuk diri sendiri. Apa dunia isinya hanya seni menipu dan memanipulasi, huh?
***
Pengakuan Meli mengenai Randu membuatku pusing. Demi mengalihkan beban pikiran, kuputuskan mampir ke toko buku dan kue. Salah satu metode penghilang stres yang cukup ampuh bagiku ialah, belanja. Berhubung aku punya banyak uang, tidak perlu mengerut saat melihat nominal harga barang incaranku. Apa gunanya uang jajan dan penghasilanku kalau tidak untuk foya-foya?
Jadilah aku membeli beberapa komik dan novel yang niatnya nanti akan kujadikan sebagai topik di mediaku nanti. Tidak lupa kubeli kue dan biskuit. Sampai rumah langsung kupublikasikan beberapa foto yang kuambil di toko buku dan toko kue.
[Nggak apa-apa masih jomlo asal ada buku dan makanan.]
Itulah yang kutulis di akun media sosialku. Kupikir tulisanku cukup ... errr menyedihkan. Lekas kubatalkan niat dan hendak menghapus pernyataan menyedihkanku yang mirip cewek pecemburu. Marah gara-gara Randu!
Akan tetapi, beberapa komentar telanjur mampir. Apa itu menjilat ludah sendiri? Belum kujilat saja sudah ada pengganggu!
[@MeliSanjaya: Astaga, gitu amat. Makanya, gerak cepat dong. Sekarang kamu gigit jari, 'kan? Makanya dulu tembak saja sebelum dia terbang ke seberang samudra. Payah ih.]
[@CikoChoco: Ada apa, sih? Si @MeliSanjaya kalau ada info tolonglah dibagi rata. Aku sibuk di kafe, nggak ada yang ngabarin.]
[@MeliSanjaya: Biasalah. Ada yang merasa kehilangan kesempatan. Lagi pula, @CikoChoco udah ketemuan, belum? Aku pengin nulis namanya di sini, tapi takut bikin seseorang kebakaran jenggot.]
[@CikoChoco: Cepat tumpahkan teh di sini! Eh @MeliSanjaya nggak takut diberondong pertanyaan sama kakaknya, nih? Hei @SenjaKelana perlu muncul. Nggak usah malu.]
Hiiiiiih semesta tengah berusaha menjatuhkan suasana hatiku. Aku hanya ingin pamer buku dan makanan! Bukan ini niatku!
Kuletakkan ponsel di ranjang. Mulai kuacak rambutku dan sumpah suasana hatiku kacau sekali. Mirip hutan kena topan. Rusak semua pohon dan bunga yang tumbuh di sana.
Setelah merasa sedikit lebih tenang, aku memberanikan diri membaca komentar yang tertinggal di sana.
"..."
Bagaimana bisa jadi seperti ini?!
[@CikoChoco: Oh iya, @MeliSanjaya aku punya akunnya ehem dia, sih. Nggak nyangka dia masih ingat aku.]
[@MeliSanjaya: Udah, @CikoChoco nggak usah sungkan. Tag orangnya.]
[@CikoChoco: Halo, @RanduKertapati di sini ada yang pengin reunian, nih.]
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa ingin mengumpat! Mengumpat! Mengumpat! Sejak kapan dia main media sosial, eh tunggu! Aku yang tidak tahu apa pun! Sial!
[@SenjaKelana: NGGAK USAH TAG SEMBARANGAN! KAMU BUKAN TEMANKU @CikoChoco DASAR PENGKHIANAT!]
Semua orang tidak berpihak kepadaku!
Sama sekali.
***
Antoni: "Ada yang berani mengusik adikku."
Imelda: "Aku mengendus bau pencuri."
Randu: :)
***
Selesai ditulis pada 8 Desember 2024.
***
Bila ada salah penulisan dan salah informasi, tolong saya diingatkan, ya? :")
Udah mau ganti tahun, rasanya cepat banget. Mana harga barang naik lagi. Hiks. Semoga kita semua diberi banyak keberuntungan, rezeki, kesehatan, kebahagiaan, perlindungan, dan keselamatan. Jangan lupa minum air secukupnya, ya, agar terhindar dari dehidrasi dan kalian nggak usah ngebut sewaktu berkendara. Oke?
Salam sayang dan cinta untuk kalian semua teman-teman.
Love.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Want U! (Tamat)
FantasyHidup milikku yang seharusnya sempurna pun berubah berantakan. Tunanganku memilih membela cewek lain, membuatku patah hati, dan aku pun memilih mengincar si pelakor. Cinta membutakan diriku hingga tidak melihat betapa buruk tunanganku sesungguhnya...
