17

2.8K 443 6
                                        

Sungguh menyebalkan ketika berada pada posisi kalah. Dua teman, atau yang secepatnya kujadikan mantan teman saja, ternyata sudah melakukan pengkhianatan besar. Diam-diam mereka berkomunikasi dengan Randu dan baru menghubungiku setelah kira-kira lumut tumbuh di pot tanaman milik mamaku.

Komentar yang ditinggalkan Ciko di akun media sosialku pun semakin membuatku kepanasan. Apa begini rasanya setan ketika mendengar doa-doa suci? Panas sekali hatiku!

Oleh karena itu, kuputuskan tidak merespons Ciko dan Meli. Mereka seperti pinang dibelah kapak dalam urusan menjatuhkan reputasiku. Aku maunya, kan, terlihat elegan, cool, sangat dewasa. Bukan ini! Gini, ya. Aku tidak ikhlas diberi cap cewek menyedihkan yang hanya bisa meratap penasaran gara-gara ditinggal Randu tanpa kabar.

Serius! Randu bisa mengabariku sebelum pergi. Namun, tidak! Dia menghilang begitu saja bagai ditelan bumi. Membuatku mempertanyakan perihal hubungan kami. Tidak pentingkah aku dalam....

Gila! Lebih baik aku cari uang!

Sekalipun hatiku masih merah meradang, sakit bukan main akibat pengkhianatan, aku tetap fokus ke pekerjaan. Lekas kuraih komik terbaru yang rencananya akan kubahas.

Karya lokal, tapi keindahan dan ceritanya tidak kalah dari seniman luar. Ceritanya mengenai seorang ilmuwan, pria, yang jago menciptakan robot. Di dunia si ilmuan teknologinya jauh lebih maju daripada duniaku. Mobil, pesawat, motor, segala jenis kendaraan tidak lagi memanfaatkan bensin. Pelayan, buruh, bahkan petani pun beberapa sudah digantikan tugasnya oleh robot-robot yang desainnya mirip kerangka berkepala kotak.

Si ilmuwan mulai menciptakan sebuah robot yang dirancang untuk menemani manusia yang sendirian. Contoh pertama yang ia buat berupa robot yang menyerupai anak perempuan. Robot didesain agar bisa membaca suasana hati maupun emosi manusia. Begitu sukses, si ilmuwan menghadiahkan robot tersebut kepada keponakannya, seorang bocah lelaki berusia delapan tahun.

"Kenapa bocah ciliknya mirip Randu begini?" gerutuku seraya menahan letupan emosi yang mulai menggila. "Kenapa model rambutnya mirip gini, sih?"

Demi profesionalitas, aku pun menyelesaikan bacaan dan lekas memberi ulasan singkat di web perbukuan dan media sosialku. Bintang lima untuk desain gambar dan cerita. Hmmm aku jarang memberi bintang di bawah tiga. Cerita yang kuberi rating di bawah bintang tiga pastilah ... errr aku tidak ingat buku yang kuberi bintang di bawah tiga. Tunggu! Aku memang tidak pernah memberi bintang di bawah tiga! Sebab aku selalu membaca buku berdasarkan kesukaanku. Masa bodoh dengan rekomendasi orang lain. Aku yang baca, aku yang beli, buat apa menyiksa diri sendiri dengan ekspektasi orang lain?

Setelah puas mengecek ulasanku, aku kembali mengecek media sosial lainnya.

"..."

Terjadi perang.

[@AntoniHerlambang: Aku nggak pernah ngizinin siapa pun mendekati adikku, ya, @CikoChoco dengarkan.]

[@CikoChoco: Ampun, Kak @AntoniHerlambang tolong jangan depak aku dari daftar temanmu. Ini aku cuma menolong seseorang agar nggak kehilangan cinta sejatinya.]

[@AntoniHerlambang: Gitu? @RanduKertapati kalau mau macarin adik orang, izin dulu ke kakaknya.]

"..."

Aku ingin mengajukan pindah kewarganegaraan.

***

Antoni bersedia menemaniku makan ke salah satu rumah makan tradisional yang baru saja buka. Ini semua ia lakukan demi sebuah permintaan maaf. Ada untungnya punya kakak pengertian. Dia bisa diajak sebagai kaki tangan gratis.

Tidak ada yang spesial dari desain bangunan rumah makan yang kukunjungi. Tipikal rumah makan yang menampung banyak pengunjung, meja persegi panjang yang muat empat maupun sepuluh orang, kipas angin besar dipasang di langit-langit, ada etalase berisi makanan yang tinggal dipilih pengunjung, dan astaga lahan parkirnya bikin darah tinggi karena harus bersaing.

I Want U! (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang