NOTE: I WANT U EKSTRA EPISODE 2 SUDAH TERBIT DI KARYAKARSA. Selamat membaca. :”)
***
Akhir-akhir ini sekolah terlalu tenang. Tidak ada gangguan dari Tirta maupun Sofia. Mungkin Sofia sibuk meniti karier di industri hiburan, sama seperti Meli yang makin sering izin tidak masuk gara-gara pekerjaan sebagai model. Pernah aku bertanya kepada Meli, “Kenapa nggak coba jadi bintang iklan?” Dia pun memberiku jawaban yang cukup membuat hatiku ngenes. “Iklan? Aku nggak masalah jadi bintang iklan asal produknya berhubungan dengan kecantikan dan busana.” Itu artinya, dia tidak tertarik menawarkan semangkuk mi instan dan segelas susu dingin rasa melon.
Sama seperti Meli, Ciko juga semakin tenggelam dalam kesibukannya sendiri. Dia anak SMA, padahal bisa saja main sesuka hati mirip kera, tapi tidak ia lakukan. “Aku pengin punya restoran.” Bahkan anak sepertinya pun tahu masa depan harus ditata seperti apa. Berbeda denganku yang terlalu santai dan damai.
Apa aku harus kuliah jurusan bisnis? Persis kehidupan lalu? Aslinya nilai yang kupunya pun tidak bagus. Biasa saja. Di kepalaku hanya tercetak tata cara menjadi istri berguna bagi Tirta. Sekarang aku semakin yakin, yakin sekali, tidak ingin mengikuti jejak masa lalu.
“Randu, kamu pengin jadi pengusaha, ya?” tanyaku di suatu siang yang sejuk.
Kami berdua, aku dan Randu, memilih berdiam di kelas. Lagi pula, ada bekal buatan Mama. Aku tidak perlu keluar dari kelas. Duduk berdua, menempati kursi kosong yang tidak bertuan, dan berkontemplasi ala pemikir.
“Kenapa kamu tanya begitu?”
Alih-alih memberiku jawaban, Randu justru sibuk menekuni buku tebal yang sedari tadi dia baca. Berdasar sampul, sih, sepertinya berkaitan dengan bisnis.
“...”
Randu makan apa, sih? Bagaimana bisa dia tidak mual menjejali otaknya dengan sejumlah ilmu? Itu belum termasuk kegiatan tambahan seperti bekerja di kafe dan lainnya. Aku tidak tertarik mencuci otakku dengan rumus mencari untung dan seni membangun usaha dari nol.
“Aneh, ya,” aku mengalihkan topik pembicaraan, “tumben Kak Tirta nggak muncul? Biasanya ada saja yang pengin ngajakin aku main sinetron dadakan. Lumayan, ‘kan? Siapa tahu ada produser film yang terpikat kecantikanku, terus ditawarin jadi bintang?”
“Ngimpimu tinggi banget, ya?”
“Harus,” aku mulai menutup kotak bekal yang telah habis isinya, “jadi manusia itu harus bisa mencintai diri sendiri, sekalipun susah. Sekarang prinsipku, sih, mudah saja, ya? Aku akan mulai memanjakan diri sendiri dan mengesampingkan komentar orang asing mengenai diriku. Emangnya mereka ngebayarin biaya hidupku? Enggak, ‘kan? Maka dari itu, bersikap cuek merupakan kunci.”
Randu membalik satu halaman, mata masih fokus ke teks, dan ... mengapa dia tersenyum? “Kamu cocok jadi pelawak.”
“...”
Aku terlalu cantik! Yang ada penontonku tersipu, kena serangan jantung, dan fokus.
“Sebentar lagi ujian kenaikan kelas,” kataku dengan segenap beban moral. “Jadi kepikiran sesuatu. Mungkin aku perlu kuliah jurusan komunikasi atau jurnalis, ya? Aku nggak keberatan meliput makanan dan buku. Sekalian, sih, jadi bintang utamanya.”
“Yang ada kamu nakutin narasumbermu.”
“...”
Aku curiga. Curiga bahwa bila Randu memujiku, maka dia akan gatal-gatal.
Bicara mengenai ujian, berdasar ingatanku Randu akan pindah. Dia akan sekolah di luar negeri, mungkin, dan itu artinya kebersamaan kami akan berakhir. Aku tidak mau kepo dan kurang ajar dengan bertanya mengenai rencana masa depan milik Randu. Sekalipun berpisah, suatu saat kami akan bertemu kembali.
Adapun yang tidak kuketahui ternyata Randu pindah lebih cepat. Tidak ada perpisahan maupun salam sampai jumpa. Dia pergi begitu saja. Aku tahu kabar mengenai kepergiannya pun dari Ciko. Andai Ciko tidak tanya kepada salah satu guru, mungkin misteri mengenai kepergian Randu tidak akan terpecahkan.
Harusnya aku sedih. Bagaimanapun juga kami telah menghabiskan waktu bersama. Namun, tidak. Aku terlalu sibuk dengan sekolah. Ketika Meli dan Ciko telah menentukan masa depan, aku pun tidak ingin kalah.
Aku sadar kemampuan belajarku tidak sebaik Antoni maupun Imelda. Biasa saja. Ingin jadi komikus, tapi kemampuan gambar mentok pada bulatan penyok. Bisa sakit mata yang baca karyaku. Ingin jadi penulis, tapi aku malas mendalami tekhnik kepenulisan, semantik, linguistik, studi budaya ... iya, aku menyedihkan! Maka, jalan terakhir aku pun kuliah di jurusan yang berhubungan dengan komunikasi atau apa pun yang bisa kuselami tanpa membuatku menyesal telah memilih masuk jurusan tersebut.
Begitu lulus SMA, terjun ke dunia anak kuliah, aku pun mulai membangun bisnis lain yang kusukai. Aku suka membaca (demi kepentingan bersantai) dan makan. Mulailah aku membuat akun di media sosial yang khusus memamerkan buku dan makanan. Dua kombinasi mematikan, ‘kan?
Meli dan Ciko menjadi pengikut setiaku, diikuti Antoni dan Imelda, lalu bertambah ke berbagai orang. Aku sering memamerkan buku yang menurutku menyenangkan. Jadi, aku tidak peduli kometar siapa pun mengenai bacaanku! Persetan tidak berbobot. Asal hatiku riang, itu sudah lebih dari cukup.
Sedikit demi sedikit pengikutku yang awalnya hanya belasan, bertambah jadi ratusan, ribuan, kemudian aku jadi artis di dunia intenet. Kuliahku tidak terganggu karena aku berusaha sebaik mungkin menyeimbangkan kehidupanku. Pernah aku diundang ke beberapa kegiatan maupun jadi bintang tamu. Terus terang-ooooh melihat artis secara langsung memang beda! Mereka sangat cantik dan tampan! Sayang aku tidak berani minta tanda tangan.
Hobiku menyelamatkanku dari keharusan bekerja. Eh, tapi aku tidak perlu bekerja juga. Aku dapat uang dari Papa, Mama, Antoni, dan Imelda. Jumlahnya besar. Cukup menghidupi nafsu baca dan makanku!
Ehem hidup memang indah saat segalanya mulus. Aku tidak butuh cobaan dan tidak perlu mencoba cobaan mana pun!
Intinya, lulus kuliah, aku semakin bersemangat menekuni hobi baca dan makanku! Lumayan tahu! Aku dapat buku gratis, tanda tangan dari penulis, dan kadang dikirim produk makanan dan huwooooooo uang dari iklan itu sangat menggiurkan!
“Kamu makan mulu, nggak takut kena diabetes?”
Aku dan Meli janjian ketemu di salah satu kafe kucing. Dia butuh hiburan, aku butuh makan. Kami berdua sama-sama diuntungkan. Alih-alih makan, Meli sebuk membalai seekor kucing berbulu panjang warna putih. Kucing itu sangat lucu, tapi tidak cukup membuatku terpikat-hooooh maaf saja, makanan yang utama! Kucing bisa menyusul. Nanti.
“Kan aku rajin olahraga,” tepisku sembari menikmati jus buah. “Nggak tiap hari makan berminyak kok.”
“Iya, ya? Kamu sayur mentah pun langsung ditelan.”
Lalapan memang enak! Dasar tidak tahu seni makanan lezat!
“Senja, kamu nggak pengin tahu kabarnya Randu?”
Pertanyaan satu itu. Sekarang aku berusia dua puluh empat tahun. Bukan remaja yang mudah terpikat romansa lawas. Di dalam komik cewek, pastilah aku akan mencari tahu keberadaan Randu dan ingin jumpa kembali. Namun, sekarang....
“Enggak,” jawabku, “dia yang ninggalin aku. Bukan kewajibanku nyari tahu tentang dia.”
“Dih marahnya lama banget.”
“Ya kamu bayangin saja, Mel. Aku ditinggal gitu saja. Nggak ada surat atau apa kek. Sama sekali.”
“Mungkin dia nggak berani....”
“Omong kosong.”
Randu bisa saja mengabariku, tetapi sekian tahun itu tidak ada kabar darinya.
Benar-benar dingin! Dasar anak buah tidak berbudi!
***
Selesai ditulis pada 7 Desember 2024.
***
Dingin banget malam ini. :”( Saya sampai kembung ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Want U! (Tamat)
FantasyHidup milikku yang seharusnya sempurna pun berubah berantakan. Tunanganku memilih membela cewek lain, membuatku patah hati, dan aku pun memilih mengincar si pelakor. Cinta membutakan diriku hingga tidak melihat betapa buruk tunanganku sesungguhnya...
