Kupikir membahagiakan diri sendiri baru memikirkan balas dendamlah yang terpenting. Namun, niat sekuat Gatotkaca pun runtuh manakala menyaksikan Sofia mampir ke kelas. Iya, tidak salah dengar. Mampir. Ke. Kelas.
Jam istirahat pula! Notabene semua cowok langsung terkena serangan Cupid. Ibarat dianimasikan akan begini: mata tertempel logo hati merah muda, senyum lebar, dan mendadak berubah jadi serigala kelaparan.
Ingin kujambak rambut ala bintang sampo milik Sofia. Dia bahkan berani masuk kelasku. Kelasku! Apa dia tidak takut kena terkam cewek sekelas yang merasa terganggu dengan kehadirannya? Tahu, ‘kan? Hormon, remaja, gejolak asmara, insting bersaing, dan kepemilikan. Semua unsur berbahaya yang bisa dimiliki oleh seorang remaja.
“...”
Oke, lupakan. Teman sekelasku anak baik. Mereka fokus ke kegiatan masing-masing. Baca sesuatu di ponsel sembari cekikikan, lanjut bergosip, ngemil, dan ada yang mulai menangisi nilai ulangan dadakan. Aku terlalu berlebihan, ya? Apa aku tidak boleh berharap drama picisan? Minimal adegan cewek mengamuk, mulai menyerang Sofia seperti gorila buas, dan melihat Sofia meneteskan air mata buaya.
“...”
Terima kasih. Keinginanku tidak terkabul. Hasratku menyaksikan Sofia menderita TIDAK terkabul.
Meli menyikutku. Dia bahkan berani melingkarkan lengan ke leherku. “Tuh ada saingan.”
“Nggak usah kompor.”
Saingan yang dimaksud sibuk tebar pesona ke Randu. Lihatlah senyum bagai Dewi Sri, gerakan tangan gemulai merapikan rambut sehalus sutra, lalu tatapan manis manja ala Helen yang membuat Paris terjebak dan memicu perang. Satu kata saja, sih. Masalah. Buatku, bukan Sofia.
“Buruan,” Meli menyemangati, “sebelum Randu diterkam adik kelas gemes.”
RAW! Macan dalam diriku, tentu saja bukan macan gembul, tengah mengamuk. Tega si Randu langsung fast respons ke Sofia. Tidak ada acara meledek, tatapan dingin, dan ucapan “tunggu sebentar”! Dia melayani Sofia begitu saja.
Mendadak aku tidak tertarik jajan, padahal tadi ada niatan meluncur ke kantin!
Kucari jurus sakti yang tersimpan di kepala. Oke, tolong beri tahu aku cara mengusir hama. Cepat!
AHA!
Aku bangkit, membuat Meli hampir terjungkal, dan bergegas ke meja Randu.
“Ehem,” dehamku memotong percakapan manis antara Randu dan Sofia.
Sofia langsung diam, sementara Randu menaikkan sebelah alisnya saat melihatku. Setan si Randu. Minimal beri aku penghormatan! Dasar calon anak buah tidak berbudi! Budi saja tahu cara menghargai orang lain, tapi Randu ini minta kurujak!
“Randu, kamu ikut bantu main basket gih,” saranku berlagak jadi pahlawan.
“Nggak.”
Singkat. Padat. Tolak langsung!
Randu bahkan tidak memberiku kesempatan mempertahankan harga diri di depan musuhku. Kulirik Sofia. Dia hanya memberiku senyum singkat, tapi kujamin dalam hati tengah menari RASAIN KAMU RASAIN KAMU begitu.
“Kan demi mempertahankan pertemanan,” lanjutku tidak mau kalah. “Lawannya senior. Kamu, kan, tinggi dan terlihat gesit. Tolong terima saja tawaran teman-teman. Kujamin popularitasmu bakalan melejit.” Tanganku otomatis membuat gerakan naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali. “Nanti kamu dapat banyak surat penggemar. Itu belum termasuk disorakin penuh cinta dan sayang.”
Si Randu tengil sekali, saudara-saudara. Dia mulai menumpukan kepala ke tangan, bergaya santai, dan memberiku senyum mengejek. “Kalau kamu yang teriak, baru kupikirkan.”
KAMU SEDANG MEMBACA
I Want U! (Tamat)
FantasiHidup milikku yang seharusnya sempurna pun berubah berantakan. Tunanganku memilih membela cewek lain, membuatku patah hati, dan aku pun memilih mengincar si pelakor. Cinta membutakan diriku hingga tidak melihat betapa buruk tunanganku sesungguhnya...
