24

2.6K 397 6
                                        

“Kak Randu, aku....”

Takkan kubiarkan si white lotus cap tapak kuda ini bertindak sesuka hati. Kupercepat langkah, berusaha melawan keramaian, dan mengabaikan panggilan Tirta. Ada untungnya juga mengikuti sara Antoni. Bila malam ini aku nekat mengenakan gaun lucu dan sepatu tumit tinggi, pastilah sekarang pergerakanku terbatas dan tidak gesit. Nanti akan kupuji Antoni atas jasanya (walau jelas tidak sengaja, sih).

“Randu, yuhuuuu!” selorohku dengan suara lantang, mengabaikan reputasi dan lirikan ingin tahu beberapa orang yang mendengarku. Kulambaikan tangan, kedua tangan, dan memasang senyum menawan. “Lama banget, sih. Apa kamu nggak takut calon istrimu digondol setan?”

Aku mengedip sekali kepada Randu. Tanpa sopan dan santun, kulingkarkan tanganku ke lengan Randu-buseeeeet! Keras! Dia latihan angkat beban hidup, ya? Lekas kutepis pikiran buruk, ehem, kotor. Bukan waktunya terpesona. Sekarang aku perlu mendedikasikan diri sebagai penolong.

“Gitu, ya?”

“...”

Respons Randu membuatku ciut. Apa aku salah lihat? Sepertinya kemarin kemarin kemarin entah kemarin yang mana Randu mengajakku nikah. Namun, sekarang dia mirip kucing hitam yang berusaha memberi pelajaran pada seekor tikus. Tidak masalah kalau tikusnya itu Sofia, tapi aku? Dasar tidak tahu diri!

Randu, si penjahat, mengamatiku dari ujung kaki ke ujung kepala. Kupikir dia hendak memberiku komentar negatif perkara pakaianku yang salah tempat. Ternyata, tidak! Dia mengangguk puas dan barulah tangannya terjulur mengusap kepalaku dengan lembut. “Pintar banget, sih.”

“...”

Aku menahan luapan emosi, terutama emosi panas, dan mempertahankan ekspresi tidak tertarik. Demi menjaga reputasi, aku hanya menggembungkan pipi dan berlagak genit.

“Kak Senja, apa kabar?”

Sofia sama sekali tidak terlihat terusik dengan kedatanganku. Dia sanggup melebarkan senyum menenteramkan dan aura bintang miliknya makin benderang. Bila mau jujur, harus kuakui bahwa Sofia makhluk tercantik di antara semua cewek yang ada di sini. Dia seperti setangkai bunga yang tumbuh di padang tandus. Tidak ada tanaman apa pun, selain dirinya, yang begitu segar. Dirinya begitu memikat dan membuat siapa pun terbuai oleh pesona, terbujuk ingin memilikinya.

Kuamati diri sendiri. Dadaku sakit. Aku cantik, menarik, luar biasa penuh pesona. Namun, kostum ini mendadak kehilangan nilainya. Antoni pasti ingin membentengi jodohku! Bodohnya aku! Mana jodohku? Mana?!

“Baik,” sahutku terlalu ketus, lekas kukoreksi reaksiku dan memasang senyum ala iblis penggoda, “terlalu baik. Omong-omong, Kak Tirta datang. Nggak pengin melanjutkan hubungan asmara?”

Alih-alih tersinggung, Sofia langsung tersipu. Dia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dan sedikit menundukkan kepala. Gerakan matanya yang menutup lalu membuka mirip kepak sayap kupu-kupu. “Enggak gitu, Kak.”

Menjadi penolong Randu tidak membuatku senang! Di sini aku merasa kalah saing. Kupikir persaingan dengki milikku telah buyar, tapi sekarang sisa akarnya masih menancap kuat dalam diriku. Perlahan kulepaskan pelukanku dari lengan Randu.

“Heh apa?” tanyaku gelagapan ketikan Randu justru memilih melingkarkan tangannya di bahuku. “Apa? Hah?”

“Sofia, kamu masih ingat nasihatku dulu, ‘kan?”

Nada suara Randu terdengar seperti ancaman daripada pertanyaan. Sofia yang tadinya siap bersikap bagai dewi pun mendadak kaku. Sekalipun penerangan di sini terkesan redup, tapi aku bisa melihat dengan jelas wajah Sofia yang memucat. Dia mundur selangkah, kemudian bicara dengan suara gemetar, lantas pergi begitu saja.

I Want U! (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang