26

2.5K 383 4
                                        

"Cemburu, ya?" ledekku amat gemas menyaksikan kerutan di dahi Randu. "Astaga akhirnya aku bisa melihatmu iri. Kupikir kamu tuh makhluk yang nggak bisa tersentuh oleh sifat buruk manusia. Terlalu sempurna."

Kemudian aku tergelak, tebahak-bahak menikmati rekasi Randu yang menurutku langka. Selama mengenalnya di sekolah maupun di masa lalu, ia terlalu sempurna. Aku bahkan tidak pernah melihatnya berlaku sinting. Maka dari itu, aneh sekali melihatnya sedikit menunjukkan reaksi manusia.

"Puas?"

"Astaga, Randu! Aku dan Ciko teman baik. Kami berdua disatukan oleh semangat makan. Dia memang baik ke semua orang, terutama anak kecil."

"Berarti dia menganggapmu sebagai bocah dong?"

"..."

Iya juga. Aku baru sadar. Bisa jadi Ciko selama ini menyamakan derajatku dengan kucing atau anak kecil.

Haha tidak masalah. Ciko baik. Lagi pula, aku tidak berharap hubungan istimewa dari Ciko. Kami sahabat sinting. Saat aku dalam masalah, Ciko akan menolong. Begitupula ketika dia dalam masalah, akan kuusahakan sekuat tenaga menyelamatkannya.

Setelah menghela napas dan mengembuskannya secara perlahan, kuistirahatkan dagu di telapak tangan. Kupandangi Randu dengan saksama. Alis, mata, hidung, bibir. Dia terlihat seperti bagian dari sebuah lukisan indah.

"Randu, rasanya mirip mimpi," kuungkapkan keresahanku yang terdalam. "Kamu muncul dalam hidupku yang konyol ini. Lalu, dari sekian wanita sempurna yang bisa kamu pilih, kamu memutuskan diriku sebagai jawaban."

"Karena itu kamu merasa takut?"

Tebakan Randu tidak salah. Terus terang aku takut. Berbagai pengandaian bermunculan di kepala. Bagaimana bila Randu kecewa denganku? Bagaimana bila yang dia cari bukan aku? Bagaimana bila aku ternyata tidak sesuai dengan keinginan Randu? Ada banyak keraguan yang membuatku sesak napas. Persis seperti sedang tenggelam, jauh ke palung kegelapan, dan kesulitan bernapas.

Dia seperti sebuah keajaiban yang tiba-tiba hadir dalam hidup. Pada awalnya aku hanya ingin, mengharapkan, sedikit bagian darinya. Namun, dia memberiku seluruh dunia miliknya. Bohong kalau aku tidak tersanjung. Dari dasar sanubari aku merasa sangat beruntung. Hanya saja akibat pilihan bodohku di masa lalu, mengejar Tirta, hal itu meninggalkan setitik noda hitam. Namanya ialah, ketakutan.

"Senja, sesuai kesepakatan," ucapnya amat tenang, "aku akan berusaha mendapatkan restu dari kakak dan orangtuamu. Dengan begitu kamu akan bisa menerimaku tanpa ada rasa takut. Sebab orang yang kamu sayangi memilihku dan memberiku izin. Aku nggak mau kamu dihantui ketakutan seumur hidup. Aku maunya saat kamu bersamaku hanya ada ketenangan."

Mulut Randu terbuat dari gula, ya? Soalnya aku sepertinya butuh ke dokter. Jaga-jaga agar tidak kena diabetes.

***

"Siapa yang ngundang dia?"

Aku berencana menghabiskan akhir pekan di rumah saja. Makan, baca komik, rebahan, mulai membuat draft rencana ulasan buku, nonton drama, dan berbagai hal menyenangkan.

Akan tetapi, Minggu indah milikku musnah. Tirta muncul! Iya, orang yang dulu bersumpah tidak sudi berhubungan denganku mendadak putar haluan. Tidak masalah bila ia berlayar menuju pulau lain. Namun, tidak seperti itu. Dia bertamu tanpa mengabari terlebih dahulu. Selain itu dia mendadak jadi ramah dan sopan. Ke mana perginya orang tengil yang merasa dunia berada di bawah telapak kakinya? Ke mana?

"Kenapa kamu di sini? Di sini tidak ada Sofia," sindirku dengan lantang. "Coba cari dia di studio-hmmm!"

Mama membekap mulutku. Dia masih tersenyum anggun, sama sekali tidak peduli bahwa aku marah! "Maaf, ya. Senja kadang memang begini."

I Want U! (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang