12

2.7K 446 13
                                        

Betapa menyebalkan melihat Sofia di mana pun. Buka ponsel, Sofia nongol. Nonton televisi, Sofia nongol. Di jalan, Sofia nongol. Dia nongol di mana pun sejauh mata memandang. Apa ini yang dinamakan dengan “dihantui”?

Berkat berhasil menjadi bintang iklan permen, ketenaran Sofia di sekolah pun melejit. Andai di sini ada yang namanya school flower, sudah pasti gelar itu akan disandang oleh Sofia. Untung, sih, di sini tidak ada pemilihan putri kecantikan dan sejenisnya. Bila ada, sudah pasti Sofia akan mengajukan diri dan meraih suara dari semua cowok yang matanya buram.

Apa semua cowok tidak sadar, ya? Sofia terlalu, mungkin sengaja, membuka peluang ke sembarang cowok. Buktinya sebagai berikut. Tirta secara terang-terangan mengantar jemput Sofia. Dia bahkan tidak peduli ketika Sofia menerima cokelat, bingkisan, boneka, atau apa pun dari cowok mana pun. Bahkan kata Meli dan Ciko, mereka pernah menangkap basah Sofia jalan berdua dengan cowok. Itu pun di hari berbeda, cowok berbeda, dan tempat berbeda.

Misal ada teman yang bertanya, “Eh kamu jadian, ya, sama A?” Maka, Sofia akan menjawab secara diplomatis ala menteri luar negeri, “E-enggak kok. Cuma teman.” Itu pun berlagak tersipu, menyelipkan rambut di belakang telinga, dan mulai mengeluarkan jurus pengalih perhatian.

Paling menyebalkan. Dengarkan, ya! PALING MENYEBALKAN. Si Sofia masih rajin mampir ke kelasku. Tentu saja bukan untuk meminta petuah kakak kelas, melainkan cari gara-gara. Siapa lagi yang diincar kalau bukan diriku?

“Kak, boleh minta waktunya?” Sofia meminta izin kepadaku. “Sebentar saja kok. Nggak lama.”

“Di sini aja bisa kali,” sindirku tanpa mengalihkan pandang dari novel yang kubaca. “Ngomong aja.”

Aku malas berdiri, mengikuti Sofia, dan melepaskan adegan seru di buku. Kebetulan aku sedang membaca tema perselingkuhan. Si cowok naksir istri abangnya, si abang tidak tahu, dan si istri galau memilih antara bertahan dengan suami atau lari dengan iparnya.

“Ta-tapi, Kak. Takut nggak sopan.”

“Udah deh,” gerutuku, tidak sabar, “nggak sopan apanya? Malu sama Randu? Dia nggak ada di kelas. Sibuk nolongin guru. Tahu deh yang mau dijadiin mantu, bawaannya memperbaiki reputasi di mata mertua.”

Sejenak aku melirik Sofia. Sesuai dugaanku, wajah Sofia memucat. Dia menggigit bibir bawah dan hidungnya mengerut seakan baru saja mengendus aroma kecut embek.

“Emmm enggak kok,” Sofia berkilah, mencoba menampik perasaan kotor yang akan meracuni dirinya (sekadar asumsiku). “Aku ke sini memang pengin ngomong empat mata sama Kak Senja. Jadi, tolong ... Kak?”

Akhirnya kututup buku. Konsentrasi telah pecah. Andai Meli ada di sini, sudah pasti kusuruh dia mengusir Sofia. Sayang dia sibuk menolong temannya, anak kelas sebelah, melakukan sesuatu.

“Sofia, udah deh nggak usah merasa tidak enak,” semburku sembari mencubit hidungku. Setelah pening mereda, barulah kulepas cubitan akupuntur penghilang puyeng. “Aku nggak ada hubungan dengan Kak Tirta. Kami putus baik-baik. Kamu berminat jadi mantu keluarga Kusuma? Silakan saja. Mereka baik dan nggak melihat orang dari kelas sosial.”

Hehe bohong deh. Kusuma termasuk yang memikirkan bibit, bebet, bobot. Kudengar ada banyak yang menawarkan diri sebagai istri Kak Surya, tapi Kusuma menolak karena tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Entah deh alasan diriku bisa diterima dengan tangan terbuka. Bisa jadi karena aku cantik dan menarik. Wajar, sih.

“Enggak.” Sofia buru-buru menggelengkan kepala. “Nggak ada pikiran ... Kak Senja, Kakak nggak pengin balikan? Aku pikir kalian cocok.”

“Apa kamu nggak ngerti arti dari kotoran?” sindirku. “Kak Tirta jelas nggak bisa menghargaiku. Kalaupun aku pengin balikan, jadi menantu Kusuma, mending ngejar Kak Surya. Dia itu punya segala yang dimiliki cowok fiksi lampu hijau. Sabar, sopan, pekerja keras, memanusiakan manusia.” Aku mulai memamerkan jemariku yang indah. “Pintar, nggak gampang pundung, nggak mudah ngebodohin orang, setia, suaranya seksi, tinggi, punya tubuh bagus. Hmm apa lagi, ya. Bentar.”

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Randu datang. Dengan begini, aku bisa memanfaatkan anak buahku yang satu itu.

“Randu!” panggilku sembari melambaikan tangan. “Cepat ke sini!” Aku menepuk kursi di sebalahku yang kosong, memberi intruksi kepada Randu agar bergegas. “Lama banget. Cepat!”

Sofia kelabakan. Dia mundur selangkah, tidak berani bertukar pandang dengan Randu.

“Apa?” Randu duduk, memberiku senyum manis.

“Bentar, aku sedang menyebutkan kriteria cowok hijau segar,” lanjutku dengan nada riang. Kini aku cengar-cengir di hadapan Sofia yang terlihat cemberut. “Jadi, Kak Surya tuh sabar, wangi, punya bahu bidang, punggung yang cocok dijadikan sandaran, jago masak, suka baca, supel. Nah, tawarkan Kak Surya kepadaku, maka akan kudirikan seribu candi dari plastik.”

“E-enggak jadi ngomong, Kak.” Sofia langsung kabur, lenyap, seolah baru saja bertatap muka dengan penjaga pintu neraka.

“Aneh banget dia,” komentarku sembari meraih novel yang tertelungkup di meja. “Hobi banget gangguin orang. Tinggal jadian doang apa susahnya, sih? Toh Kak Tirta udah cinta mati gitu. Dasar penebar harapan kosong. Apa dia nggak takut mati ditubruk babi hutan?”

“Senja,” panggil Randu dengan suara semanis gula batu, “kamu tadi muji siapa?”

“Kak Surya,” jawabku seraya mengedikkan bahu, “kakaknya Kak Tirta. Eh dia cakep banget lho. Lain kali Meli kusuruh cari perhatian ke Kak Surya deh.”

Aku tidak pelit. Informasi cowok aman haruslah kusebar ke anak buahku.

“Yakin?” Mendadak Randu mirip interpol. Seakan aku punya salah saja. “Nggak ada acara cari muka?”

“Ngapain?” Aku pun mulai menyombongkan diri. Kutunjuk diriku, memasang senyum manis. “Aku cantik, menarik, dan keren. Nggak perlu takut mikirin masa depan. Kalaupun nggak punya pacar, aku bisa pacaran dengan cowok dua dimensi. Ada banyak yang lajang. Ngapain aku pusing? Heh aku tuh lebih takut ketemu cowok hobi mukul daripada nggak punya suami. Orang nggak bakal mati andai dia masih jomlo, tapi beda cerita kalau salah pilih pasangan.”

Kupikir Randu akan mendebat opiniku, ternyata tidak. Dia hanya manggut-manggut, tersenyum, lalu menepuk kepalaku dengan lembut seolah aku ini Hachiko. “Bagus. Berarti sudah siap jadi budak korporat, ya?”

“...”

Apa hubungannya?

Sekali lagi, apa hubungannya?

“Kamu nggak pengin nyobain aku timpuk pakai novel setebal lima ratus halaman?” tanyaku menawarkan. Kebetulan buku yang kupegang memiliki halaman sekitar lima ratusan. “Mau?”

“Boleh. Asal kamu nanti tanggung jawab.” Kemudian dia tersenyum amat lebar hingga membuatku gemetar. Biasanya senyum lebar menyimpan sesuatu yang mencurigakan. Pasti! “Omong-omong, kamu belum bayar utang? Janjimu menemaniku latihan pun sering nggak kamu tepati.”

“Eh aku ikut nonton, ya! Cuma fokus baca komik pas nungguin. Jadi, itu masih bisa disebut menemani! Lagi pula, bicara mengenai menepati janji. Tuan Muda, Anda nggak nganterin saya lho.”

“Aku takut kamu nyungsep sewaktu aku boncengin.”

“...”

BOHONG BANGET!

***
Meli: “Aku capeeeeeek! Kapan bisa liburan?”
Senja: “Mel, mau novelmu yang ada kover cowok pamer perut.”
Randu: :)

***
Selesai ditulis pada 3 Desember 2024.

***
Saya bukan penulis profesional. Jadi, tulisan yang teman-teman baca di sini akan jauh dari kata sempurna. :”) Ha ha ha. Work ini saya kerjakan demi bersenang-senang dan hiburan belaka. Hiks. Dunia nyata udah berat, jadi mari kita hibur diri sendiri walau sejenak. Semoga hari kita selalu menyenangkan dan dilimpahi kebahagiaan.

P.S: Jangan lupa jaga kesehatan dan minum air putih secukupnya.

P.P.S: Terima kasih telah meluangkan waktu dan menengok Senja.

P.P.P.S: Salam sayang dan cinta untuk kalian semua teman-teman. Looooooooooooove!

I Want U! (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang