18

2.7K 467 11
                                        

Usai makan siang aku sengaja mengajak Antoni ke salah satu toko buku indie tertua. Toko buku yang akan kudatangi ini bernama Toko Buku Jadoel. Bila toko buku pada umumnya menjual buku, perlengkapan menulis, dan berbagai hal yang berhubungan dengan urusan kantor maupun sekolah, maka Toko Buku Jadoel menawarkan hal berbeda. Di sana menawarkan sejumlah buku bekas yang layak baca serta beberapa benda yang berhubungan dengan tempo dulu. Kaset, gramofon, piringan hitam, prangko, bahkan uang kertas yang sudah tidak beredar lagi.

Toko Buku Jadoel terletak tidak jauh, entah bisa disebut kebetulan atau tidak, di SMA-ku dulu. Tepatnya berdampingan dengan Waroeng Es yang menawarkan jajanan tempo dulu. Baru kutahu dari Antoni bahwa pemilik Toko Buku Jadoel dan Waroeng Es merupakan orang yang sama.

Tampilan luar Toko Buku Jadoel akan mengingatkanku pada nuansa meneduhkan sebab adanya pohon bungur yang begitu subur di depan toko. Begitu masuk ke dalam, mataku disambut oleh jejeran rak buku. Ada meja dan rak kayu berbentuk undakan yang menampilkan buku terbaru baik dari lokal maupun luar. Di dinding di hias oleh pigura berisi kutipan dari sejumlah buku. Ada etalase khusus yang memamerkan hiasan dari kaca yang kuduga digunakan sebagai sandaran buku. Bentuknya pun beraneka: kucing, burung, orang duduk dalam pose berpikir, kupu-kupu, bahkan semanggi.

Lantunan lagu yang didendangkan seorang perempuan bersuara lembut mengalun merdu.

Bersama meniti jalan panjang.
Saat kukira engkau ‘kan pergi selamanya.
Tiada hari mampu melihat masa depan terbentang.
Bila kau lenyap kala kupejamkan mata.

Oh betapa rindu membakar jiwa yang gundah.
Aku ingin terbang menuju hatimu.
Sampai kapan kau ‘kan kecup jiwaku yang resah?
Dengarkanlah wahai pengembara cinta....

“Kamu mau minta tolong aku videoin?”

Pertanyaan Antoni mengaburkan lamunanku. Tersadarlah aku bahwa kami, aku dan Antoni, sedang berdiri di depan rak yang menawarkan sejumlah koleksi buku bekas. Harganya pun bervariasi, mulai dari dua puluh ribuan hingga ratusan....

Semakin tua suatu buku, semakin langka jenisnya, semakin sulit dicari pembaca, maka harganya akan melambung. Prinsip ekonomi.

“Kak, mau jadi modelku, enggak?” Aku tidak perlu menunggu persetujuan Antoni. Lekas kucari ponsel dalam totebag dan menekan ikon kamera. “Lagi pula, ngapain pakai setelan ala CEO begitu, sih? Nggak sadar tempat banget.”

“Aku perlu balik ke kantor,” Antoni menjelaskan, “setelah ini.”

Kuambil beberapa potret Antoni dan makin melejit segala iri dengki. Dia terlihat keren dalam pose apa pun! Aku tidak bisa terima saat saudaraku ternyata memiliki wajah yang jauh lebih fotogenik daripada diriku!

“Nanti ada pertemuan penting,” dia melanjutkan. “Sekarang kamu perlu aku jadi model juga?”

Aku mengangguk. “Apa gunanya abang ganteng kalau nggak dipamerin? Siapa tahu aku dapat tawaran iklan jas.”

“Kan yang dapat uang nanti aku, Senja. Aku, kan, yang jadi model?”

Benar juga.

Kudorong Antoni ke sudut paling oke. “Udahlah nggak usah berisik. Kakak diam saja di sini. Biar aku kerja. Oh pura-pura sok ngerti sana. Baca deskripsi buku. Ayo pose centi-iya, enggak!”

Aku menyerah. Antoni tidak bersedia menjadi rekan kerja gratisanku.

Oleh karena itu, aku pun harus berpuas diri ketika Antoni menawarkan diri membayari semua belanjaanku. Lekas kuraih keranjang terbesar dan mengisinya dengan semua buku yang menurutku menarik.

Bisa saja aku memasukkan salah satu buku dengar harga jutaan, alias barang antik, tapi tidak kulakukan. Soalnya, aku tidak tertarik membaca buku tersebut. Masalahku dengan karya lawas hanya satu, cintaku belum tumbuh. Penting bagiku membaca sesuatu yang kusukai, dengan begitu kegiatan membaca maupun memberi ulasan tidak akan membebaniku.

Antoni memilih menunggu di deretan rak yang menawarkan buku-buku bertema bisnis. Aku melongo ketika dia memilih sebuah buku tebal yang dari judulnya saja membutuhkan pendalaman jiwa. Hubungan Antara Teknologi, Gender, dan Gaya Hidup Terhadap Perkembangan Sosial. Apa itu judul skripsi?!

Lekas kuselamatkan diri ke bagian fiksi. Isi dalam kerangjangku hampir penuh dan aku kesulitan menjinjingnya! Untung ada pegawai yang menawarkan diri menolongku. Lekas kuserahkan keranjang belanjaku kepada pegwai dan kucari keranjang baru. Tenang saja, Antoni tidak keberatan. Seminggu lalu juga begitu, sekarang pun sama.

Aku beralih ke bagian komik lokal. Jemariku sibuk menelusuri sejumlah komik yang rata-rata menawarkan kisah horor. Mulai dari hantu kepala buntung, rumah sakit angker, sampai benda keramat. Sungguh menarik, tapi aku sayang jantungku.

“Eh maaf.”

Bahuku membentur seseorang. Terlalu fokus menuruti hawa nafsu sampai tidak sadar sekitar.

“Maaf,” ucapku sekali lagi. Kali ini aku mengalihkan pandang, menengok ke orang yang ku-hah?!

“Asyik banget, ya?”

Randu? Dia ada di hadapanku! Senyum mengejek dan mata jenaka itu masih sama seperti di masa lalu. Masih sama. Masih sanggup membuat debaran dalam dadaku menggila. Dalam kisah romantis pastilah sekarang latar musik mengalun, bunga-bunga berjatuhan, dan....

“Kok kamu bisa ada di sini?”

Aku tidak tertarik terjun bebas ke drama romantis.

Randu mengenakan pakaian santai. Celana jins, kemeja, dan sepasang sepatu tali. Ini aneh! Kupikir dia ada di belahan dunia lain, sibuk cari uang, dan lupa kalau aku adalah tuannya-errr iya.

“Cari kado buat kakeknya teman,” Randu menjelaskan. “Beliau suka benda antik.”

“Oh.”

Kucengkeram erat pegangan keranjang belanjaku. Kepalaku seolah berputar, sibuk mencari topik pembicaraan. Namun, nihil. Tidak ada apa pun yang bisa kutawarkan selain dua huruf. O dan H.

“Biar kubantu.” Randu meraih keranjangku, membuat beban dalam genggamanku lenyap. “Sudah dapat apa saja?”

Semoga Randu tidak melihat kover komik pilihanku! Di sana ada komik bertema semut hitam, semut merah, semut api-errr pokoknya semut! Aku tidak mau dia berpikir yang tidak-tidak, padahal otakku memang sedang tidak-tidak. SALAHKAN SENIMAN YANG SUNGGUH PANDAI MENGGETARKAN JIWAKU! Bagaimana bisa mereka membuat cowok gepeng seindah itu? Sekalipun aku tidak tertarik dengan jalan cerita, tapi bila desain karakternya aduhai sekali....

Apa itu berpikir bersih? Hahahahahaha aku akan terjun ke kolam lumpur!

“Oh ya begitu,” ucapku seraya berusaha mengikuti Randu.

Mataku langsung membara ketika melihat novel kolaborasi incaranku. Kusebut kolaborasi karena di sana ada tambahan ilustrasi cantik. Novel bertema pasukan semut api! Level cabai.

“Nggak nyangka ketemu kamu di sini,” ucapku pada novel. Kubelai sampulnya, kemudian kumasukkan ke keranjang. “Cantik banget kamu.”

“Masih sama, ya?”

“Hmm.”

“Senja?”

Datanglah Antoni. Dia membawa beberapa buku yang judulnya pasti berat. Alih-alih mengajakku ke kasir, ia justru memicingkan mata kepada Randu. “Sudah kubilang, ‘kan? Kalau mau dekatin Senja izin dulu ke abangnya!”

“...”

Khusus hari ini aku akan menggali lubang. Satu. Akan kukuburkan harga diri sekaligus diriku sendiri.

***
Randu: “Gairah Sang Duke. Iblis dan Saintess. Jebakan Sang Ratu. Pesona Pemburu Hati.”
Senja: “JANGAN SEBUT SEMUA KOLEKSIKU!”

***
Selesai ditulis pada 12 Desember 2024.

***
Kucing saya tuh nggak bisa nerima keberadaan kucing asing. Entah itu di halaman depan maupun sekadar lewat doang tuh nggak bisa. :”) Semua kucing langsung dikasih peringatan. Padahal lewat doang deh. Kucing kalian begitu?

P.S: Jangan lupa jaga kesehatan dan semoga kalian selalu diberi banyak kebahagiaan dan rezekiiiiii! Love untuk kalian semua.

I Want U! (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang