Singkat cerita 3 hari kemudian...
.
.
Pukul jam 2 pagi aku bangun untuk melaksanakan sholat taubat serta tahajud, aku selalu berdo'a kepada tuhan setiap setelah melaksanakan sholat wajib maupun sunah. Aku selalu memohon ke padanya diberikan kemudahan seleksi polri.
Setelah melewati hari yang sangat melelahkan dan mengasah otak, hari ini adalah hari pengumuman hasil seleksi pantukhir polri dan tak terasa sudah 3 bulan lamanya.
Dari kemarin sore pikiranku sangat kacau sekali, tidur pun aku tidak bisa karena memikirkan hasil pantukhir ini, untungnya disampingku ada bang fahrul, dia yang selama ini selalu mendukung akan cita-citaku.
Setelah sholat sunnah taubat dan Tahajud, aku menghampiri bang fahrul yang sedang tidur pulas. Ku letakan kepalaku di atas dada bidangnya itu, ku peluk tubuhnya erat dan memejamkan mataku.
Aku merasakan tangan bang fahrul mengusapkan dikepalaku, aku menengadah ke atas ternyata dia sedang melihat ke arahku.
"Pasti tidurmu tidak nyenyak ya sayang ?" Tanya dia sambil mengusap kepalaku.
Aku tersenyum dan kembali meletakkan kepalaku didadanya.
"Selama disini, abang selalu melihatmu bangun disepertiga malam, apa yang kamu cemaskan sayang" Ucapnya dengan suara yang ngebas.
"Aku tidak mencemaskan apapun bang, hanya saja aku meminta supaya selalu diberikan ketenangan hati" Bang fahrul menghela nafasnya dan mencium kepalaku.
"Abang sangat yakin dengan hasil kerja kerasmu selama ini, sudah abang tebak nilaimu jauh lebih baik dari casis yang lain" Dia menyakinkanku atas kerja keras selama ini.
Suara adzan subuh pun berkumandang.
"Sholat jama'ah yuk bang" Ajakku lalu bang fahrul beranjak menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu.
Sekarang dia sedang mengenakan sarung yang tadi aku berikan, bang fahrul didepan menjadi imam sedangkan aku dibelakang menjadi makmumnya.
Sesuai sholat aku menyalami dan mencium tanganya, di balas dengan bang fahrul mencium keningku, sungguh benar-benar membuatku sangat nyaman berada di dekatnya.
-----
Dalam angkutan umum perjalanan menuju polda aku tak berhenti untuk berdo'a.
"Ya tuhan... Tolong lancarkan hari ini dan berikan lah kabar yang baik" Ucapku dalam hati.
Dari awal bang fahrul di sini aku sengaja tidak berangkat bareng dengannya, aku tidak mau teman lain mengetahui bahwa aku punya kenalan dengan panitia seleksi kecuali risma.
Kami tiba di lokasi dengan tepat waktu, ku percepat langkah kakiku menuju aula.
Di ruangan aula namaku belum juga disebut sebagai lolos seleksi bintara polri, aku terus berdo'a memohon kepada tuhan.
Pandanganku tak lepas dari bang fahrul yang sedang bergabung dengan panitia lain, ku lihat bang fahrul tidak seperti biasanya tatapan dia kosong ntah apa yang sedang dia pikirkan.
"Braham Irfan Malik" Aku sangat terkejut ketika namaku disebut oleh panitia.
Risma memberikan ucapan selamat sambil mengusap punggungku, tak terasa air mataku mulai mengalir, bukan karena sedih tetapi karena aku tidak menyangka perjuangan yang sesulit ini akhirnya membuahkan hasil.
Panitia telah usai menyebutkan nama yang lolos seleksi, aku melihat risma dia tampak bersedih namun memberikan senyuman tegar padaku.
Aku melihat bang fahrul yang tadinya suram sekarang tersenyum sambil mendekat ke arahku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sang Perwiraku
RomanceSebuah cerita cinta tentang seorang ketua Tim dan anak buahnya Penasaran dengan cerita ini, tunggu yaa... Jangan lupa follow like & komen ⚠️⚠️⚠️ Peringatan 🔞Cerita ini mengandung unsur 18+
