"Institusi tidak becus!"
Hayabusa menggebrak meja di hadapannya, mengundang atensi seluruh mata yang berada di ruangan. Petugas polisi di hadapannya terkejut sesaat sebelum kembali menghadapi pria yang penuh amarah itu dengan tenang.
"Kami melakukan yang terbaik untuk menanggapi laporan anda, Tuan. Beberapa rekan kami sudah pergi untuk mencari keberadaan orang dalam laporan anda. Kami mengusut TKP dan mengikuti–"
"Aku tidak peduli, cari adikku dengan cepat, sialan!"
"Mohon bersabar, Tuan. Karena tidak adanya saksi pada saat kejadian, upaya pencarian harus dilakukan tanpa bukti jejak keberadaan–"
"Katanya kalian bertugas menjaga keselamatan masyarakat, tapi kalian tidak bergerak cepat. Apakah kalian akan menunggu sesuatu terjadi pada adikku baru kalian akan menemukannya?"
Petugas polisi itu merasa kewalahan menghadapi Hayabusa yang amarahnya meledak-ledak. Mereka berusaha keras untuk menanggapi laporan Hayabusa, tapi mereka juga punya kesulitan karena minimnya bukti. Pada saat kejadian, Hanzo menghilang tanpa jejak di keramaian dan tidak dapat ditemukan di manapun sejak saat itu.
Hayabusa pergi dari kantor polisi dengan rasa marah, kecewa, khawatir, dan sedih yang bercampur aduk. Sudah seminggu sejak Hanzo menghilang, tidak satu pun kabar baik datang padanya. Apakah Hanzo kecewa padanya dan pergi meninggalkannya? Apakah Hanzo tidak mau lagi melihat wajahnya? Apakah Hanzo baik-baik saja?
"Sial!" Hayabusa mengumpat sambil memukul dinding. Dia menyesali semuanya yang terjadi pada saat itu. Seandainya dia tidak bertemu Gusion, seandainya dia tidak perlu mendengar apapun darinya. Seandainya dia berusaha lebih keras mengejar Hanzo dan menjelaskan semua padanya. Seandainya dia tetap berada di sisi Hanzo. Dia menolak perasaan Gusion, menyingkirkannya dari hidupnya, tapi itu tidak akan cukup untuk mengembalikan Hanzo ke pelukannya. Pria kecil yang manis itu, dia merindukannya setengah mati.
"Tuhan, jika Kau memang baik hati, kumohon jaga dia di manapun dia berada." Lirihnya, berharap Tuhan sudi membuka telinga untuk mendengar ratapannya yang rapuh.
•××ו
Gudang pengap dengan barang-barang lapuk berjamur itu seolah mengucilkan Hanzo dari dunia. Matanya terbuka sedikit setelah dia pingsan cukup lama. Pengap, gelap, ada bau mani yang membuatnya mual di mana-mana. Dia cukup sadar kalau cairan menjijikkan itu ada di sekelilingnya, di seluruh tubuhnya, di dalam dirinya. Entah miliknya atau milik orang itu, mungkin sudah bercampur sebagai sesama DNA yang kotor. Dia muntah hanya dengan memikirkannya.
"Kau akan mati kalau terus memuntahkan isi perutmu."
Suara Granger membuatnya tambah mual. Mengingat kalau orang itu tidak ikut menyentuhnya, tapi dia hanya diam di dekat sana. Sepasang mata merah itu mengawasi saat dia tengah dirudapaksa tanpa ada keinginan untuk menyelamatkannya.
Tidak, Hanzo yang bodoh karena masih berharap untuk diselamatkan saat dia bagai rusa yang terperangkap di sarang singa. Tubuhnya lelah, sakit, bahkan dia merasa nyawanya pun mulai enggan berdiam di raga kotor itu. Setiap sel di tubuhnya seakan enggan lagi bertahan. Pikirannya berkecamuk bagai badai salju, seolah otaknya sudah ditumbuhi jamur yang bersiap melapukkan kesadarannya karena terlalu lama menghirup jutaan spora jamur di gudang itu. Dia ingin mati saja. Dalam kegelapan ini, justru dia takut pada cahaya. Cahaya yang hanya masuk lewat pintu yang terbuka, mengabarkan detik-detik terakhir yang dia miliki untuk mempertahankan kewarasannya sebelum orang itu menghancurkan jiwa raganya. Dia sudah mulai terbiasa dengan hal itu. Seminggu sudah berlalu, puluhan kali, tubuhnya sudah mengingat apapun yang dilakukan orang itu seperti jepretan kamera. Dia kembali pada jerat pria paling cabul dan bangsat yang pernah dia temui.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANIKI
Romance[Hayabusa x Hanzo] [Modern AU] Dalam kehidupan yang gelap, Hanzo hanya ingin menemukan kehangatan... * MY FIRST BOOK * - Jadwal up tidak tentu, kadang ide mandek di tengah jalan. - Banyak kesalahan tipografi, jadi kalau menemukan tolong komen untuk...
